Olympic.or.id – Saat seluruh dunia sedang heboh membicarakan kecerdasan buatan (AI), China justru mengambil sikap berlawanan. Alih-alih menyambut hangat, pemerintah Negeri Tirai Bambu kini malah memasang alarm bahaya terhadap salah satu teknologi AI paling populer saat ini, yaitu OpenClaw.
Dalam hitungan hari, berbagai instansi pemerintah dan perusahaan milik negara (BUMN) di China secara serentak mengeluarkan peringatan keras kepada para pegawai negeri sipil (PNS) mereka. Larangan tegas pun berlaku: jangan sekali-kali memasang aplikasi OpenClaw di perangkat kerja!
Lantas, apa yang sebenarnya membuat China gelisah? Para regulator di Beijing khawatir teknologi ini menyimpan potensi bahaya besar di balik kecanggihannya. Mulai dari kebocoran data rahasia negara, penghapusan file penting secara tidak sengaja, hingga penyalahgunaan informasi pengguna yang bisa merugikan stabilitas nasional.
Bukan Sekadar Chatbot Biasa, Ini Asisten Digital Super Agresif!
Untuk memahami kekhawatiran China, kita perlu mengenal lebih dekat sosok OpenClaw. Teknasi ini bukanlah chatbot AI generatif biasa yang hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan receh. OpenClaw adalah agen AI bersifat open-source yang punya kemampuan jauh lebih dahsyat dan—menurut regulator China—jauh lebih berbahaya.
Bayangkan sebuah asisten digital yang bisa bertindak sendiri, bekerja 24 jam non-stop, dan menjalankan berbagai perintah teknis langsung di komputer atau server pengguna. OpenClaw dapat dengan mudah mengoperasikan terminal, mengontrol browser, hingga mengelola sistem komputer secara otomatis tanpa perlu persetujuan manual setiap saat.
Yang lebih mencengangkan lagi, manusia bisa mengendalikan AI ini melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp atau Telegram. Cukup kirim perintah, maka OpenClaw akan langsung tancap gas menjalankan tugas-tugas digital secara mandiri. Inilah yang membuat para pakar keamanan siber China bergidik ngeri.
Perjalanan Nama: Dari Clawdbot, Moltbot, Hingga OpenClaw
Setelah menelusuri sejarahnya, teknologi ini pertama kali diluncurkan di GitHub pada November 2025 dengan nama Clawdbot. Kemudian seiring perkembangan dan berbagai penyempurnaan fitur, proyek ini sempat berganti identitas menjadi Moltbot pada 27 Januari 2026. Namun hanya tiga hari berselang, tepatnya 30 Januari 2026, mereka kembali mengganti nama menjadi OpenClaw seperti yang kita kenal sekarang.
Sejak dirilis perdana, OpenClaw langsung menyedot perhatian komunitas teknologi global. Para developer dan praktisi AI terkesima karena kemampuannya menjalankan berbagai pekerjaan otomatis dengan campur tangan manusia yang sangat minimal. Tapi justru dari kesuksesan inilah benih-benih kekhawatiran mulai tumbuh.
Awalnya Disambut Meriah, Subsidi Mengalir Deras
Menariknya, China sebenarnya tidak serta-merta menolak OpenClaw. Pada masa-masa awal kemunculannya, teknologi ini disambut dengan antusiasme luar biasa di berbagai kalangan. Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa, startup-startup AI inovatif, hingga pemerintah daerah di kota-kota pusat inovasi seperti Shenzhen berlomba-lomba mendorong eksperimen penggunaan OpenClaw.
Bahkan beberapa pemerintah daerah sempat menawarkan subsidi hingga jutaan yuan bagi perusahaan-perusahaan yang berani mengembangkan aplikasi berbasis OpenClaw. Kebijakan ini merupakan bagian dari program nasional ambisius bernama “AI Plus” , yaitu strategi besar pemerintah China untuk mempercepat adopsi teknologi AI di seluruh sektor industri dan ekonomi.
Namun euforia itu kini berubah menjadi kegelisahan. Ketika regulator pusat di Beijing mulai mencermati potensi risiko keamanan, alarm bahaya pun langsung berbunyi nyaring.
Peringatan Keras: Jangan Pasang! Lapor Jika Terlanjur!
Menurut berbagai sumber yang mengetahui kebijakan ini secara mendalam, puluhan instansi pemerintah dan BUMN di China kini secara aktif memperingatkan para pegawainya. Larangan memasang OpenClaw di perangkat kerja bukan sekadar imbauan biasa, melainkan kebijakan yang mulai ditegakkan dengan serius.
Bagi pegawai yang terlanjur memasang aplikasi tersebut, pihak berwenang mewajibkan mereka untuk segera melapor kepada atasan. Setelah melapor, perangkat kerja mereka akan diperiksa secara menyeluruh dan aplikasi OpenClaw akan segera dihapus paksa jika ditemukan.
Yang lebih ekstrem lagi, beberapa pegawai dari bank milik negara dan lembaga pemerintahan sensitif dilaporkan dilarang keras memasang OpenClaw baik di komputer kantor maupun di ponsel pribadi yang terhubung dengan jaringan kantor. Sebuah sumber internal bahkan membocorkan bahwa dalam beberapa kasus, pembatasan ini juga turut berlaku bagi anggota keluarga personel militer—sebuah indikasi betapa seriusnya kekhawatiran pemerintah China.
Ada Celah: Boleh Asal Dapat Izin Khusus
Meski terdengar sangat restriktif, tidak semua lembaga menerapkan larangan penuh dan mutlak. Dalam sejumlah pemberitahuan internal, penggunaan OpenClaw masih diperbolehkan dengan satu syarat mutlak: harus mendapat persetujuan resmi terlebih dahulu dari atasan atau otoritas keamanan internal.
Sistem perizinan ini menunjukkan bahwa China tidak serta-merta membunuh inovasi, tetapi lebih memilih pendekatan terkontrol dan terukur. Namun hingga kini, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China bersama Komisi Pengawas dan Administrasi Aset Negara belum memberikan tanggapan resmi terkait kebijakan kontroversial ini.
Mengapa China Begitu Takut? Tiga Ancaman Mematikan!
Menurut laporan yang dihimpun dari The Business Times dan Reuters , kekhawatiran utama pemerintah China berpusat pada satu fakta fundamental: agen AI seperti OpenClaw membutuhkan akses yang sangat luas terhadap sistem perangkat agar bisa menjalankan fungsinya secara optimal.
Bayangkan, agar bisa bekerja sebagai asisten digital otonom, OpenClaw biasanya memerlukan izin untuk mengakses data pengguna, membaca aplikasi lain yang terinstal, serta terhubung bebas ke koneksi jaringan internet. Kombinasi akses inilah yang oleh regulator China dinilai sebagai tiga ancaman mematikan:
Pertama, kebocoran data sensitif negara dan perusahaan. Kedua, penghapusan data secara tidak sengaja akibat kesalahan sistem. Ketiga, kemungkinan penyalahgunaan akses oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab.
Para pakar keamanan siber yang dihubungi juga memberikan peringatan tambahan. Menurut mereka, kombinasi antara akses ke data sensitif, kemampuan berkomunikasi dengan jaringan eksternal secara bebas, serta interaksi dengan konten yang tidak sepenuhnya terpercaya—ketiganya bersama-sama dapat meningkatkan potensi kerentanan sistem secara eksponensial.
Misteri Larangan: Seberapa Luas Sebenarnya?
Meski peringatan demi peringatan terus berdatangan, masih belum jelas seberapa luas cakupan pembatasan penggunaan OpenClaw di seluruh wilayah China. Publik masih menunggu kejelasan apakah kebijakan ini bersifat nasional, regional, atau hanya terbatas pada sektor-sektor tertentu.
Yang membuat situasi semakin kompleks, beberapa pemerintah daerah justru dilaporkan masih terus bereksperimen dengan teknologi OpenClaw meskipun regulator pusat sudah mulai gelisah. Salah satu contohnya adalah distrik Futian di kota Shenzhen—pusat teknologi China—yang dilaporkan secara aktif menggunakan OpenClaw untuk mengembangkan agen AI khusus yang dirancang membantu pekerjaan pegawai pemerintah.
Kontradiksi antara kekhawatiran regulator pusat dan antusiasme pemerintah daerah ini menciptakan dinamika yang menarik untuk terus dipantau. Apakah China pada akhirnya akan melarang total OpenClaw, atau justru menemukan cara untuk memanfaatkannya dengan aman?
Satu hal yang pasti: kisah OpenClaw di China masih jauh dari kata usai. Dan seluruh dunia kini menunggu babak selanjutnya dari drama ketegangan antara inovasi teknologi dan keamanan nasional ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









