Olympic.or.id – Siapa sangka, raksasa teknologi sekelas Dell ternyata sedang berjuang keras di balik layar. Kabar mengejutkan datang dari laporan tahunan terbaru mereka: jumlah karyawan Dell terus menyusut drastis dalam tiga tahun terakhir. Dalam periode tersebut, perusahaan yang bermarkas di Texas ini dengan tega melepas 36.000 karyawannya. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata bagaimana industri teknologi global sedang berada dalam pusaran badai efisiensi.

Berdasarkan laporan tahunan terbaru yang dirilis perusahaan, hingga 31 Januari 2026 lalu, Dell kini hanya memiliki sekitar 97.000 karyawan. Angka ini menunjukkan penurunan yang cukup signifikan jika kita bandingkan dengan kondisi pada Februari 2023, di mana Dell masih mempekerjakan sekitar 133.000 orang. Dengan demikian, secara total, perusahaan telah memangkas hingga 27 persen tenaga kerjanya hanya dalam kurun waktu tiga tahun. Sungguh sebuah lompatan penurunan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Menariknya, pemangkasan besar-besaran ini tidak terjadi secara instan atau mendadak. Alih-alih melakukan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mengejutkan publik, Dell memilih pendekatan yang lebih “halus” dan terstruktur. Perusahaan secara konsisten melakukan pengurangan jumlah karyawan secara bertahap. Bahkan dalam satu tahun terakhir, Dell kembali mengurangi sekitar 11.000 karyawan, yang membuat jumlahnya turun dari sekitar 108.000 orang di tahun 2024 menjadi 97.000 orang per Januari 2026.
Strategi Efisiensi di Balik Pengurangan Bertahap
Ini menjadi tahun ketiga berturut-turut bagi raksasa PC asal Texas ini untuk memangkas jumlah karyawannya hingga sekitar 10 persen. Bayangkan, setiap tahunnya ada ribuan posisi yang harus dihilangkan. Dell menyebut langkah drastis ini sebagai bagian dari efisiensi dan restrukturisasi bisnis yang lebih besar. Mereka tidak hanya sekadar memberhentikan karyawan, tetapi juga melakukan reorganisasi internal secara menyeluruh, mulai dari membatasi perekrutan karyawan baru hingga menyesuaikan berbagai operasional perusahaan agar lebih ramping.
Manajemen Dell dengan gamblang mengungkapkan komitmen mereka terhadap pengelolaan biaya yang disiplin. “Sepanjang tahun fiskal 2026, kami tetap berkomitmen pada pengelolaan biaya yang disiplin sejalan dengan inisiatif modernisasi bisnis kami, serta terus mengambil sejumlah langkah untuk menekan biaya,” ujar perwakilan perusahaan. Lebih lanjut, Dell juga secara agresif menyesuaikan investasi perusahaan agar lebih fokus pada prioritas strategis dan kebutuhan pelanggan yang terus berubah.
Selain efisiensi biaya, Dell juga menyoroti perubahan fundamental dalam bisnis mereka, yaitu peningkatan pesat penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan machine learning di berbagai lini. Teknologi ini mulai merambah dari manajemen TI hingga solusi perangkat lunak dan server khusus. Perubahan ini secara langsung berdampak pada struktur organisasi perusahaan. Yang menarik, Dell justru memprediksi pendapatan dari server berbasis AI akan melonjak hingga dua kali lipat pada tahun 2027. Ini menunjukkan bahwa mereka sedang bertaruh besar pada AI, meskipun harus mengorbankan jumlah tenaga kerja manusia.
Efek Domino: Gelombang PHK Melanda Raksasa Teknologi Global
Langkah berani Dell ini ternyata tidak berdiri sendiri. Ini adalah imbas dari perubahan besar yang melanda industri teknologi global. Fenomena serupa pun terjadi di berbagai raksasa teknologi lainnya. Sebagai contoh, raksasa marketplace Amazon juga sudah mulai merumahkan sekitar 16.000 karyawan pada Januari 2026 lalu. Bahkan, gelombang PHK tersebut bukan yang pertama kalinya bagi Amazon. Memasuki awal Maret 2026 ini, kabar buruk kembali menghampiri karyawan Amazon. Menurut sumber internal, setidaknya 100 karyawan kembali terkena PHK. Mereka adalah para talenta yang bertanggung jawab mendesain robot dan peralatan otomatisasi untuk gudang.
Jika kita melihat lebih luas, pemutusan hubungan kerja ini seperti menjadi “makanan sehari-hari” bagi perusahaan teknologi. Perusahaan fintech milik Jack Dorsey, Block, bahkan melakukan pemangkasan hingga setengah dari total tenaga kerjanya. Angka ini sangat fantastis dan menunjukkan betapa kerasnya tekanan ekonomi yang mereka hadapi. Di sisi lain, perusahaan perangkat lunak asal Australia, Atlassian—yang dikenal sebagai pembuat platform kolaborasi kerja populer seperti Jira, Confluence, hingga Trello—juga ikut terkena imbasnya. Atlassian terpaksa merumahkan sekitar 4.000 karyawan, atau setara dengan 10 persen dari total staf mereka.
Tekanan AI dan Langkah Drastis yang Menanti ke Depan
Bukan hanya perusahaan yang sudah go public, raksasa media sosial Meta pun tidak luput dari tekanan. Awal bulan ini, muncul laporan bahwa Meta sedang mempertimbangkan gelombang PHK besar-besaran yang mencapai 20 persen atau bahkan lebih. Penyebab utamanya adalah pengeluaran infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang terus membengkak dan belum menunjukkan titik jenuh. Sementara itu, perusahaan penyedia layanan cloud, Oracle, juga dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah serupa. Kabarnya, Oracle berencana memangkas puluhan ribu pegawai di tengah lonjakan pengeluaran untuk AI dan meningkatnya tekanan keuangan yang mereka rasakan.
Tak hanya melakukan PHK, Oracle bahkan sampai menerapkan kebijakan penundaan perekrutan karyawan baru atau hiring freeze, terutama untuk divisi cloud yang selama ini menjadi andalan mereka. Informasi ini mencuat dalam laporan terbaru yang dirilis oleh media teknologi dan bisnis terkemuka, Bloomberg. Kondisi ini menegaskan bahwa gelombang efisiensi yang melanda Dell bukanlah sebuah anomali, melainkan bagian dari perubahan struktural besar yang sedang merombak industri teknologi global secara fundamental.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










