Olympic.or.id – Siapa sangka, raksasa teknologi yang kini identik dengan iPhone dan MacBook itu pernah terjun ke bisnis printer. Meskipun produk printernya sudah lama tidak diproduksi, namun pengaruh teknologinya ternyata masih menjadi tulang punggung standar pencetakan global sampai saat ini. Mengejutkan, bukan?
Awal Mula Terobosan yang Mengubah Dunia

Ya, Anda tidak salah baca. Pada bulan Maret 1985, hampir empat puluh tahun yang lalu, Apple secara resmi meluncurkan printer LaserWriter. Perusahaan dengan logo apel tergigit itu merancang perangkat keras canggih ini khusus untuk bekerja sama dengan komputer Macintosh, perangkat lunak Adobe Postscript, dan aplikasi Aldus PageMaker. Hasilnya? Kombinasi dahsyat ini mengubah mimpi tentang desktop publishing menjadi kenyataan yang nyata dan bisa dipegang.
Sekadar mengingatkan, desktop publishing sendiri merupakan istilah yang menggambarkan kemampuan seseorang untuk mendesain materi publikasi seperti brosur, majalah, atau buku langsung dari komputer, lalu mencetaknya dengan hasil profesional. Sebelum era ini, aktivitas tersebut hanya bisa dilakukan oleh percetakan besar dengan biaya selangit.
Sebelum LaserWriter, Apple Hanya Punya Printer Biasa-Biasa Saja
Sebelum kehadiran LaserWriter yang revolusioner, Apple sebenarnya sudah memiliki lini printer bernama ImageWriter. Namun, ImageWriter hanyalah printer dot-matrix biasa dengan kecepatan lambat dan resolusi cetak yang sangat terbatas. Hasil cetaknya pun jauh dari kata rapi atau profesional. Bayangkan saja, mencetak dokumen dengan kualitas buram dan bergerigi—itulah yang ditawarkan ImageWriter.
Kemudian, Apple secara dramatis mengubah papan permainan. Mereka menghadirkan printer laser seperti LaserWriter, dan dunia teknologi pencetakan pun langsung berguncang. Inilah yang disebut sebagai lompatan besar yang mengagetkan seluruh industri.
Mengapa LaserWriter Begitu Spesial?
Dengan printer canggih ini, Apple memungkinkan siapa pun untuk melakukan tata letak halaman dan mencetak dokumen berkualitas profesional hanya menggunakan komputer pribadi yang ukurannya cukup kecil untuk diletakkan di atas meja kantor atau rumah. Bayangkan, sebelumnya hal ini seperti mimpi di siang bolong.
Yang paling menakjubkan, Apple memadukan berbagai teknologi mutakhir saat itu sehingga mereka berhasil menghadirkan konsep desain WYSIWYG. Apa itu WYSIWYG? Ini singkatan dari What You See Is What You Get, yang artinya dokumen yang tampak di layar komputer Anda akan sama persis dengan hasil cetaknya di atas kertas. Teknologi sederhana namun genius ini sebelumnya tidak tersedia sama sekali di pasar. Kini kita menganggapnya sebagai hal biasa, tapi saat itu benar-benar revolusioner.
Dapur Pacu LaserWriter yang Gahar
Apple tidak main-main saat membekali LaserWriter. Mereka menyematkan prosesor super canggih untuk zamannya, yaitu chip Motorola 68000—chip yang persis sama seperti yang digunakan pada komputer Macintosh saat itu. Keputusan ini sangat berani dan strategis.
Prosesor tangguh ini memungkinkan printer LaserWriter menjalankan perangkat lunak Adobe Postscript dengan mulus. Hasilnya, kualitas cetak tetap terjaga sangat tinggi sementara waktu transfer data dari komputer ke printer menjadi jauh lebih cepat. Proses menc cetak pun menjadi lebih efisien, andal, dan minim hambatan. Pengguna tidak perlu lagi menunggu berjam-jam hanya untuk mencetak satu halaman dokumen.
Harga Selangit Tapi Tetap Laris Manis
Memang, harus diakui bahwa banderol LaserWriter terbilang sangat mahal jika dibandingkan dengan printer lain yang beredar pada masanya. Namun, menariknya, Apple tetap menjadikan produk ini sebagai pilihan yang lebih terjangkau dan praktis ketimbang harus menyewa jasa percetakan profesional. Demikian dilansir dari Digital Trend pada Rabu (29/1/2025).
Coba bayangkan, Apple memasang harga sekitar 7.000 dolar AS atau setara dengan kurang lebih Rp113 juta pada masa itu. Jumlah yang fantastis, bukan? Meski begitu, printer ini mampu mencetak delapan halaman per menit dengan resolusi 300 dpi (dots per inch). Hasil cetaknya sangat tajam, teksnya jelas, dan gambarnya terlihat profesional—sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya di kelas komputer pribadi.
Perbandingan dengan Printer Zaman Now
Tentu saja, teknologi tidak pernah berhenti berkembang. Sebagai bahan perbandingan, printer laser modern saat ini sudah mampu mencetak dokumen dengan resolusi hingga 1.200 dpi pada kecepatan 35 halaman per menit. Itu artinya, resolusi empat kali lebih tajam dan kecepatan empat kali lebih cepat dari LaserWriter klasik. Bahkan printer inkjet yang harganya jauh lebih murah sekalipun kini sudah mampu melesat lebih cepat dan menghasilkan kualitas cetak yang jauh lebih baik dibandingkan pendahulunya dari Apple tersebut.
Warisan Abadi yang Tak Terlupakan
Namun, jangan salah sangka. Meskipun secara spesifikasi teknis sudah ketinggalan zaman, LaserWriter tetap dikenang dengan hormat sebagai salah satu inovasi paling penting yang membuka jalan bagi dunia penerbitan desktop modern. Tanpa kehadirannya, mungkin kita masih akan kesulitan mencetak dokumen dari komputer pribadi dengan hasil yang rapi dan profesional.
Warisan teknologi dari printer Apple ini masih bisa dirasakan hingga saat ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam setiap dokumen yang kita cetak dari rumah atau kantor. Peranannya dalam sejarah teknologi tidak akan pernah terlupakan, dan cerita tentang LaserWriter akan terus diceritakan sebagai salah satu momen penting ketika Apple—yang kini raja smartphone—pernah menjadi raja printer masa lalu. Sungguh perjalanan yang luar biasa, bukan?
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










