Olympic.or.id – Pemerintah China kembali menunjukkan kepada dunia bahwa mereka sama sekali tidak gentar dengan blokade teknologi yang dilancarkan Amerika Serikat. Memang, AS berusaha mati-matian mengepung, tetapi China justru keluar sebagai pemenang dengan langkah briliannya. Baru-baru ini, mereka dengan bangga memamerkan “LineShine”—sebuah superkomputer raksasa berskala exascale yang seluruh komponennya dibuat secara mandiri di dalam negeri. Wah, ini benar-benar pukulan telak bagi kontrol ekspor AS!

Peluncuran superkomputer ini secara langsung menjadi tamparan keras bagi kebijakan embargo Washington. Selama ini, AS percaya bahwa dengan memblokir akses China terhadap GPU canggih buatan Barat, seperti Nvidia atau AMD, maka ambisi teknologi mereka akan langsung lumpuh. Namun, kenyataan berkata lain. LineShine berhasil dibangun tanpa menyentuh satu pun kartu grafis asing. Hebatnya, mesin ini murni mengandalkan komponen dalam negeri dan tetap bertenaga luar biasa.
Arsitektur Unik, CPU-only yang Gila Tenaga
Superkomputer yang dikembangkan oleh National Supercomputing Center (NSCC) di Shenzhen ini hadir dengan arsitektur yang sangat aneh dan unik. Alih-alih bergantung pada GPU untuk memproses tugas-tugas berat seperti kecerdasan buatan (AI) atau simulasi sains, LineShine justru dirancang sebagai mesin CPU-only alias hanya mengandalkan prosesor pusat. Keputusan ini tentu mengejutkan banyak pihak, karena biasanya superkomputer modern menggunakan ribuan GPU. Namun China memilih jalur berbeda, dan hasilnya sungguh menakjubkan.
Untuk menutupi ketiadaan GPU, China tidak main-main dalam merancang skala perangkat kerasnya. Mereka menciptakan sistem yang sangat masif dan luar biasa padat. LineShine ditenagai oleh 40.960 prosesor LX2 yang dirancang khusus oleh Huawei, dengan arsitektur berbasis Armv9. Bayangkan, setiap prosesor LX2 tersebut dibekali 304 inti (core). Ketika kita menghitung total keseluruhan, superkomputer “monster” ini mengemas sekitar 2.451.840 core CPU yang semuanya bekerja secara bersamaan dan harmonis. Luar biasa, bukan?
Tembus Exascale, Kalahkan El Capitan AS?
Meskipun hanya mengandalkan CPU, performa LineShine sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata. Orang mungkin meragukannya, tetapi mesin raksasa ini dengan percaya diri menghasilkan kinerja komputasi stabil di angka 1,54 Exaflops. Bahkan, dalam skenario pelatihan model AI tertentu, kinerja puncaknya diklaim mampu melesat hingga 2,16 Exaflops. Jika klaim ini terbukti konsisten di lapangan, maka secara teoritis LineShine telah melampaui kemampuan superkomputer tercepat milik Amerika Serikat saat ini, yaitu El Capitan yang hanya 1,8 Exaflops. Kalah, kan?
Untuk mendukung arsitektur luar biasa ini, Huawei merancang prosesor LX2 dengan subsistem memori yang tidak lazim dan sangat inovatif. Setiap chipnya secara cerdas memadukan memori HBM (High Bandwidth Memory) bawaan sebesar 32 GB dengan bandwidth super cepat mencapai 4 TB/s. Selain itu, terdapat juga memori DDR5 eksternal berkapasitas 256 GB. Kombinasi ini memastikan bahwa data selalu mengalir deras tanpa hambatan, sehingga superkomputer tetap bekerja optimal meski tanpa bantuan GPU.
Siasat Jitu Lepas dari Ketergantungan Barat
Kehadiran superkomputer LineShine—yang juga kerap disebut Lingsheng—merupakan bentuk respons langsung dan cerdas dari Beijing terhadap pengetatan embargo Washington. AS sudah bertahun-tahun berasumsi bahwa dengan memotong akses China terhadap pasokan GPU, maka batas kemampuan komputasi negara tersebut akan terkunci selamanya. Namun, klaim tersebut secara perlahan namun pasti dipatahkan oleh inovasi negeri Tirai Bambu. China tidak hanya bertahan, tetapi juga bangkit lebih kuat.
Peluncuran LineShine justru dengan gamblang membuktikan sebaliknya dari semua prediksi pesimis Barat. China berhasil membangun infrastruktur High-Performance Computing (HPC) yang tangguh hanya dengan mengandalkan teknologi silikon domestiknya sendiri. Tidak ada GPU Nvidia, tidak ada campur tangan asing. Semua murni karya anak bangsa. Ini adalah kemenangan nyata bagi kemandirian teknologi China, sekaligus tamparan bagi mereka yang meragukan kemampuan riset negara tersebut.
Kedepannya, sistem komputasi raksasa ini akan difokuskan untuk membantu universitas dan lembaga penelitian di China dalam mengeksekusi beban kerja yang sangat kompleks. Mulai dari pelatihan model AI berskala besar, simulasi molekuler yang rumit, hingga pemodelan iklim yang membutuhkan daya hitung luar biasa. Semua tugas berat itu kini bisa dijalankan tanpa rasa takut akan blokade teknologi asing. China sudah mandiri, dan dunia harus mengakuinya. Dengan hadirnya LineShine, pesan tegas telah disampaikan kepada AS dan sekutunya.
Blokade apapun tidak akan mampu menghentikan langkah China menuju puncak teknologi. Superkomputer “monster” ini adalah bukti hidup bahwa kreativitas dan tekad kuat dapat mengalahkan segala bentuk embargo. Dunia teknologi kini berguncang, dan China berada di kursi pengemudi tanpa perlu GPU dari siapa pun. AS hanya bisa terdiam, sementara China terus melaju kencang.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.








