Olympic.or.id – Geger! Dunia gaming kembali dihebohkan dengan aksi peretasan yang menargetkan raksasa game asal Jepang, Nintendo. Sebuah kelompok hacker yang menamai diri mereka ShadowByt3$ dengan berani mengaku telah berhasil mencuri segudang data rahasia milik perusahaan pembuat Mario dan Zelda tersebut. Tak tanggung-tanggung, mereka pun memasang harga tebusan selangit, yaitu sebesar USD 2 juta atau setara dengan Rp 35,4 miliar!
Klaim Mencekam: 859 MB Data Karyawan Dibobol
Kelompok peretas ini dengan pedenya mengklaim bahwa mereka telah membobol sistem dan menguasai sekitar 859 MB data survei internal. Menurut pengakuan mereka, data yang dicuri mencakup informasi pribadi karyawan seperti nama lengkap, alamat email, hingga laporan rekening bank yang sangat sensitif. ShadowByt3$ mengungkapkan bahwa data berharga tersebut mereka rampas dari layanan survei pihak ketiga bernama TinyPulse, yang selama ini digunakan oleh Nintendo of America (NoA) untuk melakukan peninjauan dan evaluasi kinerja karyawan mereka secara internal.
Bantahan Tegas Nintendo: “Sistem Kami Aman!”
Namun, di tengah hiruk-pikuk ancaman ini, Nintendo of America dengan sigap angkat bicara dan memberikan bantahan tegas. Pihak NoA menegaskan bahwa klaim ShadowByt3$ tidak sepenuhnya benar dan memastikan tidak ada data sensitif pelanggan yang berhasil dirampas. Mereka menjelaskan dengan rinci bahwa data TinyPulse yang dimaksud hanyalah terbatas pada konten survei biasa yang sudah berusia beberapa tahun lalu, bukan data rahasia perusahaan atau informasi finansial penting.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari Nintendo Life pada Kamis (18/6/2026), NoA menyampaikan, “Kami telah mengetahui adanya permasalahan yang melibatkan layanan TinyPulse, yang merupakan penyedia pihak ketiga untuk survei internal karyawan di Nintendo of America. Namun, perlu kami luruskan bahwa sistem keamanan Nintendo sendiri sama sekali tidak mengalami kebobolan. Kami juga memastikan bahwa tidak ada data pribadi pelanggan maupun data keuangan yang diakses oleh pihak tidak bertanggung jawab. Data yang terlibat dalam insiden ini terbatas pada konten survei internal yang hanya mencakup sebagian kecil karyawan kami, dan sebagian besar informasi tersebut berasal dari beberapa tahun yang lalu.”
Nintendo Tak Gentar: Hukum Akan Berbicara!
Melihat pernyataan tegas dari raksasa game tersebut, sudah bisa dipastikan bahwa Nintendo tidak akan mau menuruti tuntutan liar yang diajukan oleh kelompok hacker ShadowByt3$. Sikap ini semakin masuk akal mengingat selama ini Nintendo dikenal sebagai perusahaan yang sangat agresif dalam melindungi setiap jengkal kekayaan intelektualnya melalui jalur hukum yang ketat. Kini, publik dan para penggemar game di seluruh dunia penasaran menanti langkah balasan apa yang akan diambil oleh Nintendo dalam menghadapi ancaman ransomware ini. Apakah mereka akan bergerak cepat melacak para pelaku atau justru memperkuat sistem keamanan mereka lebih jauh? Semua masih menjadi teka-teki menarik yang perlu kita nantikan bersama.
Teraleak 2024: Ketika 1 Terabyte Data Pokemon Bocor
Meskipun situasi ini terdengar mengkhawatirkan, faktanya insiden ini masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan pelanggaran data terbesar yang pernah dialami oleh Nintendo di masa lalu. Dunia maya kembali berguncang pada tahun 2024 ketika sebuah insiden dahsyat yang dikenal dengan sebutan Teraleak melanda Game Freak, yaitu pengembang utama seri Pokemon yang sangat populer di seluruh dunia. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu insiden peretasan dan kebocoran data paling besar dalam sejarah industri game modern.
Pada saat Teraleak terjadi, ukuran data yang berhasil dicuri dan disebarkan ke publik sungguh luar biasa besarnya. Bayangkan saja, total file yang bocor mencapai sekitar 1 terabyte atau setara dengan 1.000 GB! Kebocoran data sebesar ini tentu saja menguak berbagai macam rahasia dapur pengembangan game yang selama ini tersimpan rapi di balik layar. Menariknya, informasi-informasi rahasia tersebut tidak langsung dirilis sekaligus, melainkan dibagi dalam dua gelombang perilisan yang terjadi pada Oktober 2024 dan kemudian disusul dengan gelombang kedua pada Oktober 2025.
Selama insiden Teraleak pertama yang terjadi di tahun 2024, berbagai macam dokumen internal perusahaan, kode sumber dari berbagai judul game Pokemon, serta informasi penting tentang waralaba Pokemon yang sangat luas berhasil disebarkan secara online. Hal ini tentu saja menjadi pukulan telak bagi Game Freak dan Nintendo sebagai pemegang hak cipta, karena banyak informasi rahasia yang seharusnya tidak boleh diakses oleh publik justru tersebar bebas di dunia maya. Kemudian, pada Teraleak gelombang kedua di tahun 2025, dunia gaming kembali dikejutkan dengan terungkapnya berbagai informasi mengenai proyek game terbaru berjudul Pokemon Winds dan Waves yang masih dalam tahap pengembangan, sehingga menambah panjang daftar kebocoran yang pernah terjadi dalam sejarah panjang waralaba Pokemon.
Dengan semua kejadian ini, jelas terlihat bahwa ancaman keamanan siber menjadi tantangan serius yang terus menghantui raksasa-raksasa industri game global. Nintendo, yang selama ini dikenal dengan kebijakan perlindungan kekayaan intelektual yang sangat ketat, kini kembali diuji dengan adanya klaim peretasan dari ShadowByt3$. Meskipun mereka bersikukuh bahwa data pelanggan aman dan sistem mereka tidak terjebol, kewaspadaan tentu harus tetap dijaga mengingat semakin canggihnya teknik para hacker di era digital ini. Kita semua berharap Nintendo dapat segera mengatasi masalah ini dengan bijak dan memastikan keamanan data para penggemar serta karyawan mereka tetap terlindungi dengan baik ke depannya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









