Olympic.or.id – Dunia maya para gamer di Indonesia baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah game anyar berjudul Cinder City. Pasalnya, kehebohan ini bukan datang dari gameplay-nya yang spektakuler, melainkan dari sebuah angka fantastis yang terpampang nyata di halaman resmi Steam. Ketika pertama kali dirilis, halaman tersebut secara mengejutkan mencantumkan kebutuhan Random Access Memory (RAM) minimum yang mencapai 64 GB untuk sekadar bisa memainkan gim ini. Angka ini sontak membuat banyak pemain menggaruk-garuk kepala dan berteriak kaget di berbagai forum diskusi, karena tentu saja spesifikasi tersebut terasa sangat tidak masuk akal bagi kebanyakan PC gaming rumahan.
Spesifikasi yang Bikin Gamer Ngelag
Jika kita melihat tren gim-gim kekinian, angka 64 GB jelas melesat jauh di atas rata-rata kebutuhan pasar. Biasanya, para pengembang masih sangat wajar jika merekomendasikan RAM 16 GB atau 32 GB untuk pengalaman bermain yang mulus. Namun, kebutuhan RAM setinggi 64 GB selama ini lebih sering kita kaitkan dengan keperluan berat seperti menjalankan workstation untuk desain 3D, rendering video, atau bahkan PC khusus untuk kecerdasan buatan (AI). Oleh karena itu, tidak heran jika gamer langsung mempertanyakan logika di balik spesifikasi tersebut, karena sejauh ini belum ada gim AAA sekalipun yang berani memasang patokan RAM setinggi itu sebagai kebutuhan minimum.
Klarifikasi Pengembang: Ternyata Cuma Salah Ketik!
Untungnya, kepanikan massal ini tidak berlangsung lama. Setelah ramai diperbincangkan di berbagai media sosial dan komunitas, pengembang gim tersebut, NC, dengan sigap bergerak cepat untuk mengklarifikasi kesalahan fatal ini. Pihak pengembang secara resmi mengumumkan bahwa persyaratan RAM 64 GB yang sempat tercantum di Steam tersebut ternyata hanyalah sebuah kekeliruan teknis belaka. Mereka pun langsung mengambil langkah cepat dengan memperbarui halaman toko digital tersebut. Kini, spesifikasi yang direkomendasikan untuk memainkan Cinder City telah diturunkan menjadi RAM 32 GB. Meskipun angka ini tetap tergolong tinggi untuk ukuran gim kebanyakan, setidaknya angka ini terasa jauh lebih manusiawi dan tidak terlalu membuat kantong jebol.
Hanya 4% Gamer yang Punya RAM Sebesar Itu
Sebelum klarifikasi ini keluar, Cinder City sempat menyandang status tidak resmi sebagai gim PC pertama yang berani merekomendasikan RAM 64 GB. Status ini tentu saja memicu perdebatan sengit di kalangan gamer karena dianggap terlalu berat dan elitis untuk kebanyakan PC yang beredar saat ini. Apalagi jika kita melihat data terkini dari survei perangkat keras Steam, fakta di lapangan menunjukkan bahwa hanya sekitar 4 persen dari total pengguna Steam yang memiliki PC dengan kapasitas RAM 64 GB. Sementara itu, mayoritas pemain, yaitu sekitar 41 persen pengguna, masih bertahan dengan konfigurasi RAM 16 GB yang menjadi standar industri saat ini. Jadi, bisa dibayangkan betapa kecilnya pasar yang bisa menjangkau gim ini jika spesifikasi lama tetap dipaksakan.
Yang membuat kehebohan ini semakin terasa aneh dan penuh teka-teki adalah fakta bahwa kebutuhan untuk komponen lain ternyata tidak sebanding dengan kebutuhan RAM-nya. Ketika para gamer memeriksa lebih dalam, mereka mendapati bahwa kebutuhan kartu grafis (GPU) untuk gim ini ternyata tidak terlalu tinggi atau ekstrem. Cinder City hanya merekomendasikan GPU Nvidia GeForce RTX 4060 yang memiliki VRAM 8 GB, yang mana ini adalah kartu grafis kelas menengah yang cukup umum dimiliki oleh para gamer.
Selain itu, prosesor yang disarankan pun tergolong masuk akal, yaitu Intel Core i7-12700 atau AMD Ryzen 7 7800X3D. Ketidaksesuaian antara kebutuhan RAM yang “wah” dengan komponen lain yang “biasa saja” ini akhirnya membuat banyak pihak menduga kuat bahwa persyaratan RAM 64 GB tersebut adalah sebuah kekeliruan besar, dan dugaan ini akhirnya terbukti benar setelah pengembang angkat bicara.
Di Tengah Harga RAM yang Kian Meroket
Hebohnya isu ini juga tidak lepas dari kondisi industri PC yang sedang panas-panasnya karena melonjaknya harga memori DDR5 di pasar global. Saat ini, harga kit RAM DDR5 64 GB di pasaran internasional dibanderol mulai dari 800 dollar AS, atau setara dengan sekitar Rp 14 jutaan jika dirangkum dari berbagai toko luar negeri seperti TechSpot. Angka yang sangat fantastis ini tentu menjadi momok menakutkan bagi gamer yang ingin melakukan upgrade. Pemandangan harga selangit ini semakin membuat gamer khawatir bahwa tren gim masa depan akan menuntut biaya perangkat keras yang tidak terjangkau lagi.
Kekhawatiran para gamer ini ternyata juga sejalan dengan prediksi para analis industri. Konsultan industri memori sekaligus mantan eksekutif Samsung China, Ethan Tan, sebelumnya telah mengeluarkan peringatan tentang masa depan harga memori yang suram. Beliau memperkirakan bahwa harga memori akan terus merangkak naik secara signifikan. Menurut proyeksinya, kita akan melihat lonjakan harga sebesar 40 hingga 50 persen pada kuartal III tahun 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya, dan kemudian harga akan kembali melonjak sekitar 30 hingga 40 persen pada kuartal IV di tahun yang sama. Tentu saja kabar ini menjadi berita buruk bagi para gamer yang berencana untuk merakit PC baru di tahun-tahun mendatang.
Hingga berita ini diturunkan, pengembang NC masih belum mengumumkan tanggal peluncuran resmi untuk gim Cinder City, sehingga para gamer masih harus bersabar menunggu kabar selanjutnya. Namun, kejadian ini mengingatkan kita pada kasus serupa yang pernah terjadi di industri gim. Sebelumnya, pengembang IO Interactive sempat membuat gamer bergidik ketika mereka merekomendasikan RAM 32 GB untuk gim 007 First Light. Mereka kemudian menjelaskan bahwa spesifikasi tersebut sebenarnya hanya berlaku jika para pemain ingin menjalankan gim tersebut pada pengaturan grafis 4K Ultra yang ekstrem. Kejadian-kejadian seperti ini menunjukkan betapa pentingnya kejelasan informasi dari pengembang agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak perlu di kalangan komunitas gamer yang sudah cukup pusing dengan mahalnya harga komponen PC saat ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










