Olympic.or.id – Meta kembali bikin geger dunia teknologi! Kali ini, raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu resmi meluncurkan Muse, sebuah personal AI agent yang dirancang untuk melakukan lebih dari sekadar menjawab pertanyaan. Olympic.or.id melaporkan bahwa Muse mampu mengerjakan berbagai tugas sesuai perintah pengguna, bahkan bisa menyusun rencana dan menjalankan tugas secara mandiri.
Yang menarik, sistem ini akan kembali meminta persetujuan ketika menghadapi keputusan yang membutuhkan campur tangan manusia. Untuk tahap awal, Muse tersedia di Amerika Serikat melalui aplikasi khusus dan WhatsApp. Kehadiran Muse ini menandai babak baru dalam evolusi kecerdasan buatan, di mana AI tidak lagi hanya menjadi alat pencari informasi, tetapi berubah menjadi mitra kerja yang aktif dan proaktif. Apakah Muse akan menjadi game changer di industri AI? Kita tunggu saja.

Muse, AI yang Bisa Belanja dan Kirim Email Sendiri
Selain itu, Muse dapat menangani beragam pekerjaan digital, mulai dari mengirim email, mengisi formulir, memesan perjalanan atau janji temu, hingga melakukan pembelian. Sistem ini juga terus bekerja setelah pengguna menutup aplikasi dan kembali ketika terjadi perubahan atau ketika persetujuan diperlukan. Kemampuan tersebut ditopang Muse Spark, model AI yang dikembangkan Meta untuk menangani pekerjaan agentic dan penggunaan berbagai tools. Dengan kata lain, Muse tidak hanya diam menunggu perintah, tetapi terus bergerak di belakang layar untuk memastikan setiap tugas terselesaikan dengan baik dan efisien. Ini berarti pengguna bisa fokus pada hal lain sementara Muse menyelesaikan pekerjaan yang memakan waktu.
Keamanan Jadi Fondasi Utama Meta
Di balik kemampuan tersebut, Meta menempatkan keamanan sebagai salah satu fondasi Muse. Sistem berjalan melalui Muse Secure VM, yaitu komputer virtual khusus dengan browser sendiri dan lingkungan yang terisolasi. Meta juga menggunakan agen keamanan bernama Sentinel untuk mengawasi akses Muse ke internet. Meski begitu, memberikan AI akses ke email, kalender, belanja, dan berbagai data pribadi tetap menghadirkan risiko baru, terutama ketika agen diberi kemampuan untuk mengambil tindakan secara mandiri. Oleh karena itu, Meta terus mengembangkan lapisan keamanan tambahan untuk memastikan Muse tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Dengan sistem ini, Meta berharap dapat memberikan rasa aman kepada pengguna yang ingin memanfaatkan kecanggihan Muse.
Salah satu perbedaan utama Muse terletak pada cara kerjanya. Pengguna cukup memberikan tujuan melalui percakapan, kemudian Muse dapat memecahnya menjadi sejumlah langkah dan menjalankannya. Pengguna juga dapat menghubungkan layanan seperti email, kalender, dan Instagram sehingga agen memiliki konteks yang lebih luas untuk menyelesaikan tugas. Dengan pendekatan ini, Muse benar-benar memahami kebutuhan pengguna secara menyeluruh, bukan sekadar menjalankan perintah satu per satu tanpa pemahaman yang mendalam.
Muse bahkan dirancang untuk bersikap proaktif. Jika mengetahui tujuan dan kebiasaan pengguna, sistem dapat memberikan saran atau menyusun langkah berikutnya tanpa harus selalu menunggu perintah baru. Konsep ini membuat AI bergeser dari sekadar alat untuk mencari informasi menjadi semacam asisten digital yang terus bekerja di belakang layar. Bayangkan memiliki asisten pribadi yang selalu siap sedia 24 jam, bahkan ketika Anda sedang tidur atau sibuk dengan pekerjaan lain. Inilah yang membuat Muse berbeda dari asisten digital lainnya yang masih menunggu perintah.
Tantangan Keamanan yang Harus Dihadapi Meta
Untuk tindakan sensitif seperti mengirim email atau melakukan pembelian, Meta mengatakan pengguna tetap harus memberikan persetujuan. Muse juga menyediakan riwayat aktivitas sehingga pengguna dapat melihat apa yang telah dilakukan maupun direncanakan agen. Data login disimpan dalam sistem kredensial yang tidak dapat dibaca langsung oleh Muse, sementara transaksi menggunakan nomor kartu sekali pakai agar informasi kartu sebenarnya tidak terlihat oleh agen. Dengan demikian, pengguna tetap memegang kendali penuh atas setiap tindakan yang dilakukan oleh Muse. Selain itu, pengguna dapat menghentikan atau membatalkan tindakan yang sedang dilakukan agen kapan saja.
Namun, pendekatan tersebut belum otomatis menghilangkan seluruh risiko. Reuters melaporkan bahwa pengujian internal Meta sebelumnya menemukan masalah keamanan dan reliabilitas yang membuat peluncuran Muse sempat ditunda. Tantangannya memang berbeda dari chatbot biasa: ketika AI diberi akses untuk benar-benar bertindak di internet, kesalahan kecil tidak lagi hanya menghasilkan jawaban yang keliru, tetapi berpotensi menimbulkan konsekuensi nyata. Oleh karena itu, Meta harus benar-benar memastikan bahwa Muse siap digunakan sebelum meluncurkannya secara global. Apakah Meta mampu mengatasi tantangan ini? Hanya waktu yang akan menjawab.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










