Olympic.or.id – Amerika Serikat ternyata punya cerita dramatis di balik layar pendidikan online-nya. Coba tebak, siapa yang mampu menumbangkan platform bimbel online kawakan berusia hampir 20 tahun? Bukan kompetitor sejenis, melainkan ChatGPT! Ya, chatbot cerdas buatan OpenAI itu secara perlahan namun pasti, menggerus peran layanan bimbel konvensional. Akibatnya, Chegg—nama platform legendaris itu—harus mengalami keruntuhan yang sangat memilukan.

Setengah Juta Pelanggan Kabur, Saham Anjlok 99%!

Sejak kemunculan ChatGPT, para pelajar langsung berbondong-bondong memanfaatkannya untuk memahami materi dan mengerjakan soal. Mereka pun dengan cepat menyadari kemudahan yang ditawarkan. Alhasil, gelombang pemutusan langganan besar-besaran pun menghantam Chegg. Bayangkan, platform yang didirikan sejak 2006 dan pernah menjadi primadona ini kehilangan lebih dari setengah juta pelanggan dalam waktu singkat! Padahal sebelumnya, pelanggan dengan rela mengeluarkan kocek 19,95 dolar AS per bulan hanya untuk mengakses jawaban dan konsultasi ahli.
Kini, ChatGPT dengan mudah menyajikan layanan serupa secara gratis atau dengan biaya yang jauh lebih terjangkau. Fakta ini secara langsung mengguncang fondasi bisnis Chegg. Tidak heran, saham perusahaan ini anjlok sampai 99 persen menjadi hanya 1,86 dolar AS per lembar—bandingkan dengan masa kejayaannya di 2021 yang mencapai 113,51 dolar AS! Krisis ini akhirnya memaksa Dan Rosensweig, CEO yang memimpin lebih dari satu dekade, untuk mengundurkan diri pada Juni 2024.
Kesalahan Fatal: Menyepelekan ChatGPT Hingga Kolaborasi yang Gagal

Ironisnya, sebenarnya Chegg telah melihat peluang AI lebih awal. Pada 2022, beberapa karyawan sempat mengusulkan pemanfaatan AI untuk otomatisasi. Sayangnya, ide cemerlang ini justru ditolak oleh jajaran eksekutif. Bahkan, saat ChatGPT meluncur, manajemen dengan percaya diri meremehkannya dengan anggapan bahwa AI cenderung memberikan jawaban keliru. Nyatanya, asumsi ini ternyata meleset jauh! Hanya dalam hitungan bulan, data internal Chegg membuktikan bahwa siswa massif beralih ke ChatGPT.
Lebih mencengangkan lagi, jawaban dari GPT-4 (model di balik ChatGPT) ternyata mencetak skor lebih tinggi dibandingkan jawaban yang disusun ahli manusia Chegg sendiri! Fakta inilah yang pada akhirnya menjadi pukulan telak bagi kredibilitas layanan inti mereka. Menyadari ancaman serius, CEO Chegg kala itu, Dan Rosensweig, langsung menemui CEO OpenAI, Sam Altman. Dari kolaborasi darurat ini, lahirlah Cheggmate, sebuah layanan hybrid yang menggabungkan data Chegg dengan kekuatan GPT-4. Namun, upaya ini tidak mampu membendung dominasi ChatGPT yang sudah terlanjur merebut hati pengguna.
Restrukturisasi dan Masa Depan yang Belum Jelas
Posisi Chegg kemudian diambil alih oleh Nathan Schultz. Di bawah kepemimpinan baru, Schultz langsung mengambil tindakan drastis dengan memangkas 441 karyawan. Ia juga berusaha mengubah strategi dengan mendorong ekspansi internasional dan mengalihkan citra Chegg dari sekadar “pemberi jawaban PR”. Cheggmate akhirnya diputuskan untuk dihapus oleh kepemimpinannya. Kini, Chegg berusaha bangkit dengan bermitra bersama Scale AI untuk menciptakan puluhan sistem AI khusus. Situs web mereka juga didesain ulang menyerupai antarmuka ChatGPT, dilengkapi kolom tanya-jawab interaktif. Meski demikian, langkah-langkah ini terasa seperti usaha tertatih-tatih di tengah gempuran inovasi ChatGPT yang terus bergulir. Pertanyaannya sekarang: mampukah raksasa bimbel online yang terluka ini benar-benar bangkit, atau hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah revolusi AI di dunia pendidikan?
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










