Olympic.or.id – Warga Amerika Serikat benar-benar menunjukkan taringnya. Mereka tidak sekadar marah-marah di media sosial, tetapi langsung bertindak tegas! Kontroversi kerja sama OpenAI dengan Departemen Perang AS langsung menghantam performa ChatGPT di pasar domestik. Bayangkan, CEO OpenAI Sam Altman baru saja mengumumkan kesepakatan untuk menempatkan model AI mereka ke jaringan rahasia pemerintah, dan publik langsung bereaksi keras. Media sosial pun mendadak panas dengan seruan “uninstall ChatGPT” hingga ajakan hijrah massal ke Claude, chatbot AI pesaing dari Anthropic.

Data dari perusahaan intelijen pasar Sensor Tower benar-benar mencengangkan. Jumlah penghapusan atau uninstall ChatGPT di Amerika Serikat melonjak gila-gilaan, tepatnya 295 persen secara harian pada Sabtu (28/2/2026). Lonjakan ini terjadi tidak lama setelah kabar kerja sama dengan Departemen Perang menggema. Sebagai gambaran, selama 30 hari sebelum pengumuman tersebut, tingkat uninstall harian ChatGPT hanya berkisar 9 persen. Artinya, pengguna melakukan aksi hapus massal sekitar 33 kali lipat dari pola normal! Kenaikan drastis ini jelas menunjukkan bentuk protes langsung sebagian pengguna terhadap keputusan OpenAI.
Bukan cuma uninstall, unduhan dan rating juga ikut babak belur!
Sensor Tower mencatat unduhan ChatGPT di AS langsung ambles 13 persen secara harian pada 28 Februari. Keesokan harinya, angka download kembali turun 5 persen. Padahal sehari sebelum pengumuman kontroversial itu, unduhan ChatGPT sempat tumbuh 14 persen. Situasi ini semakin memperjelas dampak negatif dari kerja sama tersebut.
Yang lebih mencengangkan lagi, pengguna berbondong-bondong memberi rating bintang satu! Jumlah rating bintang satu untuk ChatGPT melonjak 775 persen pada Sabtu, lalu naik lagi 100 persen pada Minggu. Di sisi lain, rating bintang lima justru merosot tajam hingga 50 persen. Sungguh pukulan telak bagi aplikasi yang lahir sejak 2022 ini!
Di tengah kehancuran ChatGPT, Claude justru panen durian runtuh!
Rival berat ChatGPT, yaitu Claude buatan Anthropic, mencatat lonjakan yang luar biasa. Pada Jumat (27/2/2026), unduhan Claude di AS naik 37 persen. Keesokan harinya, Sabtu, unduhannya kembali melonjak 51 persen setelah Anthropic dengan tegas menyatakan tidak akan bekerja sama dengan Departemen Perang AS. Mereka menolak kesepakatan tersebut karena khawatir AI akan digunakan untuk pengawasan massal domestik dan sistem senjata otonom penuh.
Sensor Tower melaporkan Claude berhasil merebut posisi nomor satu di App Store AS pada Sabtu dan masih bertahan hingga awal pekan ini. Firma analitik lain, Appfigures, bahkan mencatat kenaikan download Claude di AS mencapai 88 persen secara harian pada Sabtu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, total unduhan harian Claude melampaui ChatGPT di pasar AS!
Aplikasi Claude milik Anthropic pun melesat ke posisi nomor satu di kategori aplikasi gratis paling banyak diunduh di App Store AS pada Sabtu malam. Posisi ini sebelumnya lama didominasi ChatGPT. Padahal pada akhir Januari, Claude masih berada di luar 100 besar. Sepanjang Februari posisinya merangkak naik ke sekitar 20 besar. Dalam beberapa hari terakhir, peringkatnya melonjak tajam dari posisi keenam, lalu keempat, hingga akhirnya menempati posisi pertama pada 28 Februari.
Claude juga tercatat menjadi aplikasi gratis nomor satu di iPhone di berbagai negara lain, seperti Belgia, Kanada, Jerman, Luksemburg, Norwegia, dan Swiss. Juru bicara Anthropic menyebut jumlah pengguna gratis meningkat lebih dari 60 persen sejak Januari. Pendaftaran harian bahkan memecahkan rekor sepanjang sejarah perusahaan selama sepekan terakhir. Jumlah pelanggan berbayar pun disebut telah meningkat lebih dari dua kali lipat tahun ini.
Lantas, apa sebenarnya yang memicu amukan warganet ini?
Kontroversi ini bermula ketika Sam Altman mengumumkan kesepakatan OpenAI dengan Departemen Pertahanan AS. Mereka akan mengerahkan model AI di jaringan terklasifikasi milik pemerintah. Altman menyatakan kerja sama tersebut tetap memegang dua prinsip utama, yaitu larangan pengawasan massal domestik dan tanggung jawab manusia atas penggunaan kekuatan, termasuk sistem senjata otonom.
“Departemen Perang menyetujui prinsip-prinsip ini, mencerminkannya dalam hukum dan kebijakan, dan kami memasukkannya ke dalam perjanjian kami,” tulis Altman di X. OpenAI juga berjanji membangun perlindungan teknis tambahan, mengerahkan insinyur lapangan untuk pengawasan, serta membatasi penggunaan model di jaringan cloud.
Sebuah Community Note muncul di unggahan Altman dan menyebut pejabat pemerintah menyatakan model OpenAI dapat digunakan untuk “semua tujuan yang sah secara hukum”. Frasa ini langsung memicu kekhawatiran karena sejumlah undang-undang pasca peristiwa 11 September dinilai memberi ruang interpretasi luas terkait pengumpulan data. Publik pun semakin resah dengan potensi penyalahgunaan teknologi ini.
Di sisi lain, Anthropic justru mengambil sikap yang berseberangan!
Perusahaan yang dipimpin Dario Amodei, mantan eksekutif OpenAI yang hengkang pada 2021, menolak kerja sama jika model AI digunakan untuk pengawasan massal domestik atau senjata otonom penuh. Penolakan ini tentu berani dan penuh risiko.
Pemerintahan Presiden Donald Trump pun bereaksi keras. Mereka memerintahkan lembaga federal untuk menghentikan penggunaan teknologi Anthropic. Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahkan meminta agar perusahaan tersebut ditetapkan sebagai risiko rantai pasok terhadap keamanan nasional. Artinya, kontraktor dilarang bekerja sama secara komersial dengan Anthropic, dengan masa transisi enam bulan.
Situasi ini semakin memperuncing perpecahan antara Silicon Valley dan Washington!
Namun di tengah tekanan pemerintah, sikap Anthropic justru mendapat simpati luas dari sebagian publik. Media sosial pun dipenuhi pernyataan protes dan kekecewaan terhadap OpenAI. “Saya baru saja membatalkan ChatGPT dan berlangganan Claude Pro Max,” tulis seorang pengguna di X. Pengguna lain menyebut langkah Anthropic sebagai sikap prinsipil, sedangkan OpenAI dinilai terlalu kompromistis terhadap pemerintah. Seruan boikot pun bermunculan, dengan berbagai unggahan menyerukan hijrah massal dari ChatGPT.
Meski demikian, perjalanan masih panjang bagi kedua kubu!
Tak bisa dipungkiri, ChatGPT masih menjadi pemain terbesar di pasar AI konsumen dengan 900 juta pengguna mingguan. OpenAIPun tetap agresif memperluas kemitraan bisnisnya, termasuk kerja sama dengan berbagai perusahaan konsultasi global. Namun gelombang protes ini jelas menjadi sinyal keras bahwa pengguna tidak segan-segan meninggalkan teknologi yang mereka anggap melanggar etika. Perang opini antara kepentingan bisnis dan prinsip etika pun semakin memanas!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










