Olympic.or.id – Dunia teknologi mendadak gempar setelah platform chatbot kecerdasan buatan populer, Character.AI, secara resmi mengajukan permohonan kebangkrutan di Amerika Serikat. Langkah drastis ini mengejutkan jutaan pengguna setia yang selama ini menggunakan platform tersebut untuk berinteraksi dengan karakter AI kesayangan mereka.
Melalui mekanisme hukum tersebut, Character.AI berencana menjual seluruh maupun sebagian besar aset strategisnya dengan pengawasan ketat dari Pengadilan Kepailitan Amerika Serikat. Di tengah krisis ini, raksasa hiburan Disney mendadak tampil sebagai penawar perdana yang siap menyodorkan dana segar senilai 20 juta dollar AS atau setara Rp 360 miliar.
Pihak Character Technologies sebagai induk usaha yang menaungi Character.AI telah melampirkan laporan resmi mengenai perkiraan nilai aset sekaligus total kewajiban finansial mereka. Angka keuangan yang tercatat tersebut berada pada kisaran yang cukup fantastis, yakni antara 50 juta hingga 100 juta dollar AS, atau berkisar Rp 900 miliar sampai Rp 1,8 triliun.
Tumpukan Beban Operasional dan Penawaran Awal Disney
Pihak manajemen Character.AI mengungkapkan bahwa tumpukan biaya hukum yang membengkak, besarnya ongkos operasional teknologi server, serta tingginya standar gaji para pakar AI menjadi pemicu utama kehancuran finansial mereka. Kombinasi beban pengeluaran yang terlampau berat tersebut akhirnya mengguncang stabilitas perusahaan hingga berujung pada kebangkrutan fatal.
Sebelum mengambil keputusan dramatis untuk mendaftarkan kebangkrutan ke pengadilan, perusahaan startup ini ternyata memikul kerugian yang sangat dahsyat setiap bulannya. Berdasarkan data yang dihimpun Reuters, Character.AI membukukan kerugian operasional rutin berkisar antara 8 juta sampai 9 juta dollar AS, atau setara Rp 144 miliar hingga Rp 162 miliar per bulan.
Chief Executive Officer Character.AI, Colin Adams, akhirnya buka suara secara terbuka untuk menjelaskan rentetan peristiwa di balik keputusan pahit yang terpaksa diambil oleh pihak manajemen.
Dalam rilis resmi perusahaan, Adams menegaskan bahwa jajaran pimpinan Character.AI sebenarnya telah mengerahkan berbagai strategi bisnis selama satu tahun terakhir demi menyelamatkan kelangsungan perusahaan. Namun, langkah perbaikan tersebut terus terbentur oleh berbagai rintangan hukum, jeratan regulasi yang kian ketat, serta tekanan operasional yang sangat berat di industri kecerdasan buatan.
Meskipun proses hukum pendaftaran kepailitan sedang berjalan, para pengguna masih bisa mengakses situs web maupun aplikasi Character.AI secara normal hingga lelang penjualan aset selesai pada akhir November atau awal Desember 2026. Namun, nasib platform ini berada di ujung tanduk karena manajemen bakal menutup layanan secara permanen jika tidak ada pembeli yang bersedia menyelamatkannya.
Dari Valuasi Triliunan Rupiah Hingga Tren Viral di Indonesia
Padahal, dua mantan peneliti AI papan atas dari Google, Noam Shazeer dan Daniel de Freitas, mendirikan Character.AI dengan penuh optimisme pada tahun 2021 lalu. Bahkan, hanya dalam kurun waktu satu tahun sejak peluncuran perdana, nilai valuasi perusahaan ini sempat meroket hingga menembus angka fantastis 1 miliar dollar AS atau setara Rp 18 triliun.
Platform ini meraih popularitas luar biasa karena menawarkan fitur unik yang memungkinkan pengguna mengobrol secara bebas dengan berbagai tokoh buatan berteknologi AI. Pilihan karakternya sangat beragam, mulai dari tiruan kepribadian selebritas dunia hingga figur buatan yang memosisikan diri sebagai psikolog maupun dokter pribadi.
Fenomena ini juga meledak pesat di Indonesia hingga mendominasi linimasa media sosial TikTok berkat tren menjadikan chatbot AI sebagai pasangan impian. Ribuan pengguna lokal antusias memamerkan tangkapan layar percakapan romantis mereka bersama karakter fiksi populer seperti Itoshi Rin yang bertindak selayaknya kekasih sungguhan.
Meski demikian, Disney tidak lantas berniat membeli seluruh kepemilikan saham maupun operasional bisnis Character.AI secara utuh. Dengan dana penawaran sebesar 20 juta dollar AS tersebut, Disney hanya membeli hak penggunaan permanen atas teknologi inti serta kekayaan intelektual platform, tanpa status lisensi eksklusif sehingga perusahaan tetap bisa menjual hak serupa kepada pihak lain.
Langkah penawaran awal dari Disney ini juga belum menjadi kesepakatan final yang mengikat sepenuhnya di pengadilan. Angka 20 juta dollar AS tersebut baru mematok harga pembuka, sehingga calon pembeli lain masih memegang kesempatan emas untuk mengajukan harga lebih tinggi sebelum hakim kepailitan memberikan keputusan resmi.
Hubungan bisnis antara Disney dan Character.AI sebenarnya sempat memanas akibat perselisihan hak cipta yang cukup menyengat. Pada September 2025 lalu, Disney bahkan sempat melayangkan surat teguran keras yang menuntut Character.AI agar segera menghapus seluruh chatbot yang menirukan karakter-karakter ikonik milik Disney.
Namun secara mengejutkan, hanya berjarak satu tahun sejak teguran tersebut, Disney malah beralih membajak mantan bos Character.AI, Karandeep Anand, untuk menjabat sebagai Chief Technology Officer pada Oktober 2026. Padahal, Anand sebelumnya baru saja ditunjuk memimpin Character.AI pada tahun 2025 guna membenahi sistem keamanan serta memulihkan reputasi platform yang sedang terpuruk.
Sementara itu, perwakilan hukum Character.AI membeberkan fakta mengejutkan dalam persidangan perdana bahwa Disney telah merekrut mayoritas talenta terbaik mereka tanpa berminat mengambil alih basis data pengguna. Hingga saat ini, belum ada satu pun investor yang mengajukan penawaran untuk membeli data pengguna maupun melanjutkan unit bisnis chatbot tersebut secara utuh.
Terjerat Gugatan Hukum dan Pengawasan Ketat Global
Krisis finansial yang dialami Character.AI ini kian diperparah oleh gelombang gugatan hukum dari sejumlah orang tua yang menuduh chatbot AI memberikan saran berisiko tinggi kepada anak di bawah umur. Salah satu langkah hukum paling menyita perhatian publik datang dari sosok Megan Garcia yang melayangkan gugatan resmi atas tragedi memilukan tersebut.
Garcia melayangkan gugatan hukum pada tahun 2024 menyusul insiden tragis meninggalnya sang putra, Sewell Setzer III, yang masih berusia 14 tahun. Kasus tersebut akhirnya masuk ke dalam lima gugatan utama yang berhasil mencapai kesepakatan damai awal pada Januari 2026, meskipun detail perjanjian akhir antar kedua pihak belum sepenuhnya rampung.
Menanggapi tekanan hukum yang beruntun tersebut, pihak pengembang Character.AI langsung memasang fitur peringatan otomatis berupa pop-up yang menghubungkan pengguna ke layanan bantuan kesehatan mental. Selain itu, sistem baru ini juga membatasi durasi obrolan secara ketat agar pengguna berusia di bawah 18 tahun tidak bisa lagi berinteraksi tanpa henti dengan chatbot.
Kini, dampak permasalahan hukum tersebut kian meluas karena sebanyak 46 negara bagian beserta wilayah kekuasaan Amerika Serikat resmi menggelar penyelidikan menyeluruh terhadap operasional Character.AI. Bahkan, lembaga pengawas di berbagai negara maju seperti Inggris, Italia, Rusia, hingga Australia juga ikut mengusut tuntas dugaan pelanggaran keamanan yang dilakukan oleh platform AI ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










