Olympic.or.id – CEO Nvidia, Jensen Huang, baru saja mengeluarkan peringatan menghebohkan tentang potensi ancaman serius yang membayangi dominasi Amerika Serikat di dunia kecerdasan buatan (AI). Peringatan ini muncul seiring perusahaan-perusahaan China menunjukkan kemajuan teknologi AI yang luar biasa—mereka kini semakin mandiri dan bahkan berpotensi lepas total dari ketergantungan pada teknologi buatan AS.
China Siap Guncang Dunia!

Dalam wawancara eksklusif di podcast Dwarkesh Podcast belum lama ini, Huang dengan blak-blakan menyoroti perkembangan model AI terbaru dari perusahaan China, DeepSeek. Menurutnya, model ini berpotensi mengubah arah persaingan industri AI global secara dramatis. Model AI bernama DeepSeek V4 ini digadang-gadang akan berjalan menggunakan chip Ascend buatan Huawei, bukan lagi mengandalkan chip Nvidia yang selama ini mendominasi pengembangan AI dunia.
Hasil Buruk Menanti Amerika!
Meskipun ada indikasi bahwa model ini masih akan menggunakan arsitektur Blackwell terbaru dari Nvidia, Huang dengan tegas menyebut dampaknya tetap bisa menjadi “hasil yang buruk” bagi Amerika. “Hari ketika DeepSeek pertama kali berjalan di atas teknologi Huawei, itu akan menjadi hasil yang buruk bagi negara kami (AS),” ujar Huang dengan nada penuh kekhawatiran.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa jika model AI global mulai dikembangkan dan berjalan optimal di atas teknologi non-AS, hal ini berpotensi melemahkan dominasi Amerika dalam ekosistem AI secara signifikan. “Bayangkan jika model tersebut dioptimalkan untuk Huawei dan arsitektur mereka. Itu akan menempatkan kita (Amerika) pada posisi yang tidak menguntungkan,” imbuhnya tegas.
Namun demikian, Huang juga menekankan bahwa kemajuan AI tidak hanya ditentukan oleh kekuatan perangkat keras semata, melainkan juga inovasi pada aspek perangkat lunak dan algoritma.
Posisi AS Terancam Runtuh!
Selama ini, banyak sistem AI di dunia bergantung pada chip buatan perusahaan AS, terutama Nvidia. Artinya, AS selama ini memegang posisi penting dalam mendominasi perkembangan teknologi AI global. Akan tetapi, jika perusahaan China mulai bisa mengembangkan AI canggih dengan teknologi buatan mereka sendiri seperti yang disebutkan Huang, ketergantungan global terhadap AS bisa berkurang drastis.
Ketika ketergantungan berkurang, posisi AS sebagai pemimpin di bidang AI juga berpotensi melemah secara perlahan. Situasi ini sekaligus membuka peluang lebar bagi negara lain, termasuk China, untuk mengambil peran lebih besar dan secara perlahan menggeser dominasi AS.
Menariknya, Huang sendiri menilai bahwa pemerintah AS sebaiknya menerapkan kebijakan yang lebih seimbang terkait pembatasan ekspor teknologi ke China. Menurut dia, kebijakan yang terlalu ketat justru berisiko mendorong perusahaan China mengembangkan alternatif sendiri, yang pada akhirnya dapat merugikan industri AI di AS. “Kenapa AS tidak membuat regulasi yang lebih seimbang agar Nvidia bisa menang secara global, bukannya justru menyerahkan pasar dunia? Kenapa AS ingin melepaskan sebagian besar pasar global?” tutur Huang dengan nada mempertanyakan.
China Punya Jurus Jitu Berbeda!
Meskipun saat ini chip buatan Huawei masih dianggap sedikit tertinggal dan belum sekuat produk AS, China ternyata menggunakan pendekatan yang berbeda dan inovatif. Alih-alih mengandalkan satu chip paling canggih, perusahaan di sana menggabungkan banyak chip sekaligus serta meningkatkan efisiensi perangkat lunak secara masif. Teknik canggih seperti Mixture-of-Experts juga mereka gunakan untuk mengoptimalkan performa tanpa harus bergantung pada perangkat keras terbaik.
Bukan hanya itu, perusahaan di China juga didukung oleh jumlah tenaga ahli AI yang sangat besar dan biaya energi yang relatif lebih murah. Kondisi ini memungkinkan perusahaan menjalankan sistem komputasi dalam skala besar dengan efisiensi tinggi. Dengan kata lain, meskipun menggunakan chip yang tidak sekuat buatan AS, hasil yang mereka capai tetap kompetitif dan bahkan bisa menyamai produk AS.
Persaingan China-AS Kian Panas Membara!
Di sisi lain, persaingan teknologi antara AS dan China juga semakin memanas dari hari ke hari, terutama setelah para pembuat kebijakan di AS mendorong pembatasan yang lebih ketat terhadap perusahaan AI asal China. Namun di saat yang sama, sejumlah kebijakan terkait pasokan chip juga menunjukkan adanya pelonggaran di beberapa aspek. Situasi ini dinilai menciptakan sinyal kebijakan yang tidak sepenuhnya konsisten dalam mengatur hubungan teknologi antara kedua negara adidaya tersebut.
Situasi yang tidak menentu ini juga membuat persaingan di bidang AI tidak lagi hanya soal kekuatan perangkat keras, tetapi secara bertahap bergeser ke perangkat lunak, efisiensi, serta kontrol ekosistem secara keseluruhan.
Jika nantinya DeepSeek berhasil mengembangkan model AI yang sepenuhnya berjalan di atas chip Huawei, hal ini diyakini bisa menjadi titik balik monumental dalam industri AI global, sebagaimana dihimpun dari Gizmo China. Dunia pun kini menahan napas menyaksikan siapa yang pada akhirnya akan memenangkan pertarungan sengit ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










