Jakarta, Olympic.or.id – Pemerintah China mendadak panik dan mengeluarkan peringatan keras! Mereka mengklaim telah menemukan celah keamanan berbahaya berbentuk “backdoor” yang bersembunyi di dalam Claude Code. Alat bantu pemrograman canggih berbasis kecerdasan buatan (AI) ini ternyata buatan perusahaan AI asal Amerika Serikat, Anthropic. Yang bikin heboh, temuan ini langsung dipublikasikan oleh China National Vulnerability Database (CNVD), yang merupakan basis data kerentanan siber di bawah Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) China.

Pertanyaannya, apa sih sebenarnya backdoor itu? Bayangkan saja, backdoor adalah metode atau celah keamanan tersembunyi yang dirancang secara diam-diam. Celah ini memungkinkan peretas atau hacker jahat mengakses sistem tertentu tanpa seizin pengguna yang sah. Nah, bayangkan jika celah mengerikan ini ditemukan di dalam Claude Code yang banyak dipakai para developer! Tentu ini jadi alarm bahaya yang bikin geleng-geleng kepala, apalagi bagi mereka yang sangat peduli dengan keamanan data.
CNVD Beberkan Fakta Mengejutkan: Claude Code Mengintai Data Pengguna!
Melalui pernyataan resmi yang disebar luas lewat platform WeChat dan dikutip oleh Reuters, CNVD dengan tegas mengungkap bahwa beberapa versi Claude Code ternyata dilengkapi dengan mekanisme pemantauan bawaan. Mekanisme ini bukan isapan jempol belaka; ia benar-benar bekerja secara diam-diam mengirimkan informasi sensitif tanpa persetujuan pengguna. Sungguh tindakan yang sangat mencurigakan! Yang lebih mencengangkan lagi, data-data yang kabarnya dikirimkan melalui mekanisme ini sangat vital dan bersifat pribadi. Mulai dari identitas pengguna yang jelas, hingga lokasi geografis di mana pengguna mengakses AI tersebut, semuanya dikabarkan bisa mengalir keluar tanpa sepengetahuan korban!
Menurut penyelidikan CNVD yang mendalam, kerentanan serius ini ditemukan pada rentang versi Claude Code 2.1.91 hingga 2.1.196. Perlu dicatat, versi-versi tersebut dirilis dalam kurun waktu April hingga Juni 2026. Artinya, dalam beberapa bulan terakhir, banyak pengguna yang mungkin tidak sadar telah menggunakan alat yang berpotensi membocorkan data mereka. Tentu saja, temuan ini membuat otoritas China angkat bicara dan menilai bahwa mekanisme tersebut merupakan ancaman serius yang mengintai keamanan data nasional. Sebabnya, jika data pribadi dan lokasi pengguna bisa dengan mudah dikirim, maka keamanan siber dan privasi masyarakat jelas terancam.
Imbauan Mendesak: Hapus Sekarang Juga atau Update Ke Versi Terbaru!
Merespons temuan yang begitu serius, pemerintah China pun tidak tinggal diam. Mereka mengimbau seluruh pengguna dan organisasi di Tanah Air untuk bertindak cepat! Langkah pertama yang sangat dianjurkan adalah segera memeriksa sistem masing-masing. Jika ditemukan Claude Code versi 2.1.91 hingga 2.1.196 yang terpasang, maka wajib hukumnya untuk segera menghapusnya. Namun, opsi lain yang bisa ditempuh adalah memperbarui Claude Code ke versi terbaru yang dianggap lebih aman.
Selain itu, CNVD juga memberikan imbauan tambahan yang tak kalah penting. Mereka meminta perusahaan-perusahaan untuk memperketat akses jaringan eksternal untuk berbagai alat pengembangan atau development tools. Jangan sampai ada celah yang dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab! Di sisi lain, pemantauan lalu lintas jaringan juga harus ditingkatkan secara signifikan guna mencegah pengiriman data sensitif tanpa izin. Semua langkah ini ditempuh demi melindungi data dan privasi pengguna dari potensi penyalahgunaan yang lebih besar.
Kronologi Mencengangkan: Muncul Usai Alibaba Melarang Karyawannya!
Yang membuat kasus ini kian menarik adalah waktu kemunculan dugaan backdoor ini. Pernyataan resmi dari CNVD muncul tak lama setelah raksasa teknologi China, Alibaba, mengambil langkah tegas melarang karyawannya menggunakan Claude Code untuk keperluan pekerjaan. Larangan tersebut bukan tanpa alasan; semuanya berawal dari sorotan tajam terhadap fitur Claude Code yang sempat ramai dibicarakan di forum Reddit. Di forum tersebut, muncul diskusi hangat bahwa Claude Code diduga kuat memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan melacak pengguna yang mengakses AI tersebut dari China. Wah, ini jelas bukan kabar baik dan langsung menimbulkan kekhawatiran besar!
Meskipun pemerintah China dan Alibaba sudah bersuara lantang, hingga saat ini Anthropic sebagai pengembang Claude Code belum memberikan tanggapan resmi secara langsung terhadap pernyataan pemerintah China. Namun, perusahaan AI asal Amerika tersebut bukannya tanpa pembelaan. Sebelumnya, Anthropic telah membantah keras tuduhan bahwa Claude Code memiliki backdoor. Mereka bersikukuh bahwa mekanisme yang dianggap sebagai backdoor oleh otoritas China sebenarnya adalah fitur eksperimental yang sengaja dirancang. Fitur ini, menurut mereka, bertujuan mulia untuk mengurangi penyalahgunaan layanan oleh reseller tidak resmi.
Lebih lanjut, Anthropic menjelaskan bahwa mekanisme berupa kode pemrograman yang tertanam di Claude Code ini juga diterapkan untuk tujuan melindungi model AI perusahaan dari praktik AI distillation. Praktik ini adalah proses melatih model AI baru menggunakan keluaran atau output dari model AI lain, yang dianggap dapat merugikan pengembang asli. Konflik ini semakin memanas karena sejak Februari lalu, Anthropic sudah menuding Alibaba dan sejumlah perusahaan AI asal China lainnya melakukan praktik AI distillation terhadap model AI miliknya. Tudingan ini semakin memperkeruh suasana dan menunjukkan ketegangan di balik layar antara raksasa AI dari dua negara adidaya.
Claude Code Tetap Populer di China Meski Dilarang!
Fenomena menarik lainnya adalah popularitas Claude Code di China yang tetap tinggi meskipun secara resmi dilarang. Faktanya, layanan Claude memang tidak tersedia secara resmi di China. Artinya, siapapun yang mengaksesnya di China kemungkinan besar menggunakan cara-cara alternatif yang bisa jadi ilegal. Namun, hal ini tidak menyurutkan minat para peneliti AI di China untuk tetap menggunakan Claude Code. Mereka disebut-sebut masih bisa mengakses Claude melalui proxy atau VPN layanan luar negeri.
Bahkan dalam beberapa kasus, biaya akses ke Claude Code yang ilegal di China ini disebut telah disubsidi oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Ini adalah fakta yang cukup mengkhawatirkan, karena menunjukkan bahwa meskipun ada larangan dan peringatan keamanan, ketergantungan dan minat terhadap teknologi AI asing masih tinggi. Tentu saja, situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keamanan data di tengah ketatnya pengawasan pemerintah dan maraknya penggunaan alat bantu pemrograman dari luar negeri.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.








