Olympic.or.id – Fenomena akun peniru dan konten yang disalin sudah lama menjadi keluhan para kreator di media sosial. Tidak jarang sebuah video atau foto yang dibuat dengan susah payah justru diunggah ulang oleh akun lain, bahkan tanpa izin. Untuk mengatasi masalah ini, Meta meluncurkan fitur Content Protection versi upgrade. Fitur ini dirancang untuk membantu kreator di Facebook lebih mudah mendeteksi akun peniru (copycat) dan konten yang menyalin karya mereka.

Meta menjelaskan di laman resmi Meta Newsroom bahwa fitur tersebut merupakan peningkatan dari Content Protection, tools yang sebelumnya mereka perkenalkan untuk membantu melindungi karya di platform. Kini melalui Content Protection versi lebih canggih, para kreator dapat melihat konten yang diduga menyalin karya mereka sekaligus melaporkannya dengan lebih mudah dari satu dashboard terintegrasi.
Perusahaan teknologi yang didirikan Mark Zuckerberg ini menegaskan bahwa langkah tersebut mereka ambil untuk memberi kreator lebih banyak kontrol atas karya mereka. Langkah ini juga bertujuan mengurangi maraknya akun tukang tiru di Facebook yang selama ini meresahkan komunitas.
Perang Terbuka Melawan Akun Tukang Copas dan Konten Duplikat
Upaya ini bukan tanpa alasan. Meta menyebut bahwa praktik peniruan konten masih cukup marak terjadi di platform media sosial mereka. Data yang mereka ungkap cukup mengejutkan publik. Sepanjang 2025 saja, Meta mengaku telah menghapus lebih dari 20 juta akun yang meniru kreator populer. Angka fantastis ini menunjukkan betapa seriusnya masalah pencurian konten di ekosistem media sosial.
Setelah berbagai langkah penindakan mereka lakukan, laporan terkait akun penjiplak terhadap kreator besar tercatat turun sekitar 33 persen. Penurunan ini menjadi bukti awal bahwa kebijakan dan teknologi perlindungan yang mereka terapkan mulai menunjukkan hasil positif.
Selain menghadirkan tools baru untuk melaporkan akun peniru, raksasa media sosial yang berbasis di Menlo Park, California ini juga memperbarui pedoman mengenai konten original di Facebook. Pembaruan aturan ini menjadi fondasi penting dalam upaya mereka melindungi hak kreator.
Dalam aturan baru tersebut, konten dianggap asli jika dibuat atau direkam langsung oleh pemilik akun. Definisi ini menjadi jelas dan tegas sehingga tidak menimbulkan multitafsir di kalangan pengguna. Karya original harus lahir dari tangan, kamera, dan ide kreator itu sendiri.
Sebaliknya, konten yang hanya menyalin karya orang lain dengan perubahan kecil tidak lagi mereka anggap sebagai konten karya sendiri. Perubahan kecil seperti menambahkan teks, mengganti kecepatan video, atau memberi bingkai tambahan tidak cukup untuk mengubah status konten jiplakan menjadi original. Konten semacam ini akan diprioritaskan lebih rendah di Feed dan Reels, sehingga jangkauan serta engagement-nya berpotensi lebih kecil secara signifikan.
Sebaliknya, kreator yang membuat konten sendiri atau mengolah ulang konten dengan nilai kreatif tambahan tetap berpeluang mendapatkan distribusi lebih luas. Nilai tambah tersebut bisa berupa analisis mendalam, penjelasan baru yang orisinal, atau sudut pandang berbeda yang belum pernah ada sebelumnya. Meta ingin memastikan bahwa kreator sejati mendapatkan apresiasi berupa visibilitas yang lebih tinggi.
Karya Kreator Asli Kini Mendapatkan Tempat Terhormat
Meta mengatakan bahwa langkah untuk memprioritaskan konten karya kreator sendiri mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Data terbaru mereka membuktikan bahwa kebijakan ini tidak sia-sia. Pada paruh kedua 2025, jumlah tayangan serta waktu menonton Reels karya asli di Facebook meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan fantastis ini menunjukkan bahwa algoritma Meta kini lebih berpihak kepada kreator original.
Selain fitur Content Protection, para kreator juga dapat menggunakan alat lain seperti Rights Manager. Fitur ini memungkinkan pemilik konten mengunggah file referensi karya mereka ke sistem Meta. Setelah terunggah, sistem akan secara otomatis memindai seluruh platform Facebook dan Instagram untuk menemukan konten serupa. Ketika menemukan potensi pelanggaran, sistem akan memberikan notifikasi kepada pemilik karya asli.
Meski demikian, Meta dengan jujur mengakui bahwa teknologi yang ada saat ini belum mampu mendeteksi deepfake berbasis AI yang menggunakan wajah atau identitas kreator. Tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana mengatasi peniruan identitas yang semakin canggih berkat perkembangan kecerdasan buatan. Pengakuan ini menunjukkan transparansi Meta dalam menghadapi keterbatasan teknologi mereka.
Langkah berani Meta ini muncul di tengah meningkatnya keluhan pengguna mengenai maraknya konten spam dan konten berbasis AI yang meniru karya kreator lain di media sosial. Situasi ini sudah seperti hutan belantara digital yang membutuhkan penertiban serius. Informasi ini mereka himpun dari Meta Newsroom dan TechCrunch sebagai sumber terpercaya.
Dengan kehadiran fitur-fitur anyar ini, para kreator kini memiliki senjata ampuh untuk melindungi karya mereka. Tidak perlu lagi merasa takut atau frustrasi ketika konten original dicuri orang lain. Meta telah menyediakan infrastruktur perlindungan yang memadai, tinggal bagaimana para kreator memanfaatkannya secara optimal. Perang melawan akun tukang copas kini memasuki babak baru yang lebih menjanjikan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









