Olympic.or.id – Kabar gembira sempat mengudara ketika lini RTX 5000 disebut-sebut sudah memasuki tahap produksi massal. Bahkan, salah satu mitra papan sirkuit Nvidia dikabarkan sudah memegang fisik kartu grafis generasi terbaru ini di tangan mereka. Namun, seperti film horor dengan akhir yang bisa ditebak, masalah klasik yang sama sekali tidak mengejutkan justru muncul di ujung jalan dan kini mengancam jadwal peluncuran besar-besaran. Investor dan gamer pun mulai gelisah.
Harga Chip Memori Melonjak Drastis, Nvidia Menarik Rem Darurat
Berdasarkan laporan terkini yang dihimpun dari VideoCardz, Nvidia dikabarkan telah mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh mitra untuk menahan diri dan tidak terburu-buru meluncurkan kartu grafis tersebut ke pasaran. Mengapa? Akar masalahnya ternyata sederhana tapi menyakitkan: harga komponen memori GDDR7 berkapasitas 3GB yang melonjak tinggi bak roket. Keputusan mengejutkan ini tentu saja langsung menjadi buah bibir hangat di kalangan industri teknologi.
Sumber internal dari publikasi tersebut mengungkapkan fakta mengejutkan: satu chip GDDR7 3GB saat ini dibanderol dengan harga fantastis antara USD 60 hingga USD 70. Angka ini sungguh mencengangkan jika kita bandingkan dengan chip GDDR7 2GB standar yang hanya dihargai USD 20. Bayangkan, para mitra harus membayar lebih dari tiga kali lipat hanya untuk mendapatkan tambahan kapasitas memori sebesar 50 persen. Kondisi ini secara otomatis membuat biaya produksi alias Bill of Material (BOM) membengkak secara drastis dan tidak terkendali.
Situasi semakin pelik karena perusahaan-perusahaan raksasa di bidang komputasi AI tengah memborong hampir seluruh kapasitas manufaktur DRAM dan NAND yang tersedia di dunia. Akibatnya, harga komponen melambung tinggi di semua lini. Di tengah tekanan ekonomi global, Nvidia tentu sadar betul bahwa merilis kartu RTX 5000 Super dengan harga jual yang selangit tidak akan pernah populer di mata konsumen. Gamer tidak akan mau menguras dompet untuk produk yang nilai ekonomisnya dipertanyakan.
Mitra Papan Sirkuit Terjepit: Antara MSRP dan Kerugian Besar
Masalah lain yang memperumit keadaan adalah perubahan kebijakan internal Nvidia mulai tahun 2025. Sejak saat itu, raksasa chip hijau tersebut telah menyerahkan sepenuhnya urusan pengadaan chip memori secara mandiri kepada masing-masing mitra pembuat papan sirkuit. Keputusan ini berarti setiap perusahaan harus bertanggung jawab penuh atas biaya komponen yang mereka gunakan. Jika Nvidia tetap memaksa para mitra untuk menjual seri Super pada atau mendekati harga eceran yang disarankan (MSRP), maka besar kemungkinan mereka akan memilih mundur dan tidak memproduksi kartu sama sekali. Menanggung kerugian besar dari setiap unit yang terjual jelas bukan pilihan bisnis yang bijak.
Sebenarnya, penggunaan chip memori GDDR7 3GB menyimpan potensi teknis yang sangat menarik bagi Nvidia. Dengan chip ini, pabrikan bisa meningkatkan kapasitas memori kartu grafis secara signifikan tanpa harus menambah jumlah modul memori atau bahkan mengubah rancangan bus memori yang sudah ada. Ini adalah solusi elegan di atas kertas. Akan tetapi, harga selangit yang harus dibayar untuk setiap chip terbukti menjadi hambatan beton yang sulit ditembus. Mimpi indah itu pun pupus sudah oleh realitas pasar yang kejam.
Lantas, model mana saja yang terdampak oleh penundaan ini? Berdasarkan laporan, ada beberapa varian kartu grafis yang sudah dalam tahap pengerjaan untuk lini baru ini, sesuai dengan berbagai rumor spesifikasi yang beredar sebelumnya. Rincian model yang siap tempur meliputi GeForce RTX 5080 Super, GeForce RTX 5070 Ti Super, GeForce RTX 5070 Super, dan yang menarik perhatian adalah GeForce RTX 5050 9GB yang juga memakai memori GDDR7 3GB. Sayangnya, kelima model ini kini harus merana di rak penyimpanan.
Prediksi Krisis Pasokan hingga 2030, Kapan Konsumen Bisa Tersenyum?
Nasib serupa juga menimpa jajaran seri Super lainnya, termasuk model RTX 5050 9GB. Tanggal rilis untuk kartu entry-level ini pun belum juga diputuskan akibat harga chip yang dinilai terlalu membebani biaya produksi. Jika Nvidia memilih strategi bertahan dan menunggu hingga harga memori turun sebelum merilis kartu-kartu tersebut, maka konsumen kemungkinan besar harus bersabar dan menunggu dalam waktu yang cukup lama. Sabar, ya, gamer!
SK Hynix, sebagai salah satu pemasok utama, sebelumnya sempat memprediksi bahwa tahun 2027 akan menjadi masa terburuk bagi industri memori dari perspektif ketersediaan pasokan. Mereka memperkirakan permintaan pasar akan terus melampaui pasokan yang tersedia bahkan hingga melewati tahun 2030. Bayangan krisis panjang ini tentu membuat para pelaku industri bergidik ngeri. Kabar penundaan ini menjadi rincian terbaru yang melengkapi rentetan bocoran seri RTX 5000 Super yang beredar belakangan ini. Publik pun semakin penasaran dengan langkah selanjutnya.
Sebelumnya, nama RTX 5080 Super sempat muncul secara mengejutkan dalam kalkulator daya (PSU) milik Seasonic. Kemunculan itu menyusul model RTX 5070 Super dan RTX 5070 Ti Super yang sudah lebih dulu ditambahkan pada bulan September lalu. Semua petunjuk ini, sebagaimana dikutip dari Techspot pada Senin (20/7/2026), mengonfirmasi bahwa lini Super memang sudah di depan mata, tetapi kini tertahan oleh badai harga komponen. Akankah Nvidia menemukan jalan keluar, atau kita harus mengubur mimpi memiliki RTX 5000 Super di tahun ini? Waktu yang akan menjawab.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










