olympic.or.id – Kalau akhir-akhir ini timeline kamu penuh sama kata “avoidant”, “dismissive avoidant”, atau “fearful avoidant” di TikTok, Twitter, sama Instagram, selamat… kamu lagi kena demam attachment style 2024-2025! Dari quotes galau sampe meme “aku avoidant jadi wajar kalau ghosting 3 hari”, kata ini udah jadi bahasa sehari-hari anak muda. Tapi sebenarnya “avoidant” itu apa sih? Kok bisa jadi bahan roasting sekaligus alasan bucin gagal?

Secara simpel, avoidant adalah salah satu gaya keterikatan (attachment style) dalam hubungan romantis maupun pertemanan. Orang dengan kecenderungan avoidant biasanya punya ciri-ciri:
- Takut banget sama komitmen berat
- Lebih nyaman sendiri daripada terlalu deket sama orang lain
- Kalau mulai sayang, malah mundur (classics: “aku butuh space”)
- Susah ngomongin perasaan dalam-dalam
- Kadang keliatan cuek atau dingin, padahal dalemnya lagi panik
Dalam teori attachment, avoidant ada dua jenis besar yang lagi sering dibahas di medsos:

- Dismissive-Avoidant
Tipe yang “aku baik-baik aja sendiri, gak butuh orang lain”. Mereka bangga sama independensinya, sering ngerasa pasangan terlalu “clingy” atau “drama”. Kalau putus, biasanya cepet move on (atau pura-pura cepet). - Fearful-Avoidant (kadang disebut disorganized)
Ini yang lebih rumit. Mereka pengen deket, tapi takut disakiti. Jadi siklusnya: ngejar → takut → mundur → nyesel → ngejar lagi. Banyak yang bilang ini “toxic”-nya attachment style karena bikin bingung pasangan.
Kenapa Tiba-Tiba Jadi Viral?

Menurut psikolog klinis yang sering muncul di podcast dan TikTok, Dr. Amelia Putri, M.Psi, tren ini naik gara-gara:
- Banyak konten kreator psikologi populer (lokal maupun luar) yang bikin tes “Apa Attachment Style Kamu?” di Instagram Story.
- Film dan series Indonesia belakangan sering nunjukin karakter cowok/cowok “dingin tapi sayangnya dalem” yang langsung dicap avoidant sama penonton.
- Generasi Z dan milenial akhir yang lagi banyak ngomongin mental health, termasuk trauma masa kecil yang bikin orang jadi avoidant.
“Sejak 2023 akhir, kata kunci ‘avoidant’ di TikTok Indonesia naik lebih dari 800%. Banyak anak muda yang akhirnya sadar pola hubungan mereka berulang-ulang karena gaya keterikatan ini,” ujar dr. Amelia saat dihubungi olympic.or.id, Senin (24/11/2025).
kunjungi laman berita terbaru di Exposenews.id
Yang Lucu, Banyak yang Salah Kaprah
Sayangnya, kata “avoidant” sekarang sering dipake buat pembenaran tingkah laku yang sebenarnya gak sehat. Contoh:
- Ghosting orang tanpa penjelasan → “Maaf aku avoidant”
- Gak mau komitmen bertahun-tahun → “Namanya juga dismissive-avoidant”
- Cuek sama perasaan pasangan → “Aku emang gini dari lahir”
Padahal menurut terapis pasangan Reihan Arkananta, S.Psi, attachment style itu bukan vonis seumur hidup. “Avoidant bisa berubah jadi secure kalau orangnya mau introspeksi dan terapi. Jangan dijadikan alasan buat terus nyakitin orang lain,” tegas Reihan.
Kamu Termasuk Avoidant Gak Sih?
Coba cek tanda-tanda ini (tapi jangan self-diagnose ya, tetep konsultasi ke psikolog kalau serius):
- Kalau lagi deket sama orang, tiba-tiba pengen kabur?
- Lebih gampang bilang “aku gak butuh siapa-siapa” daripada minta tolong?
- Pas putus, kamu lebih lega daripada sedih?
- Susah bilang “aku sayang” atau “aku takut kehilangan kamu”?
Kalau iya-nya banyak, bisa jadi kamu punya kecenderungan avoidant. Tapi tenang, ini bukan akhir dunia.
Cara “Sembuh” dari Avoidant
- Sadar dulu pola kamu dari mana (biasanya dari orang tua yang dingin atau terlalu kritis waktu kecil).
- Mulai latihan buka diri sedikit-sedikit ke orang terdekat yang aman.
- Kalau berani, ikut terapi (CBT atau schema therapy cukup membantu).
- Pacaran sama orang yang secure biar “nular” keamanannya (tapi jangan jadi beban dia ya!).
Yang paling penting: jangan bangga jadi avoidant. Keren sih bisa hidup sendiri, tapi manusia pada dasarnya butuh koneksi. Kalau terus menutup diri, nanti yang ada cuma kesepian berkedok “aku nyaman sendiri”.
Jadi, lain kali ada yang bilang “aku avoidant makanya gini”, tanya balik: “Emang gak mau berubah apa?”
Karena cinta yang sehat itu bukan soal menemukan orang yang mau nerima semua kekurangan kita, tapi juga tentang kita yang mau berusaha jadi versi lebih baik—bukan cuma buat pasangan, tapi buat diri sendiri juga.
Gimana, kamu tim avoidant, anxious, secure, atau lagi bingung sendiri? Ceritain di kolom komentar ya!










