Olympic.or.id – Selama bertahun-tahun, mata dunia hanya tertuju pada kapal-kapal tanker super raksasa yang mengangkut minyak mentah melewati Selat Hormuz. Namun, tahukah kamu? Kini Iran secara mengejutkan mengalihkan fokusnya ke sesuatu yang jauh lebih modern, yaitu lalu lintas data digital. Dengan berani, Teheran mulai melihat kawasan strategis ini sebagai “titik tekanan digital” global yang potensial.

Baru-baru ini, kantor berita Tasnim yang memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan seruan keras. Mereka mendorong pemerintah Iran untuk segera mulai menghasilkan uang dari kabel fiber optik bawah laut yang melintasi perairan Selat Hormuz. Jadi, jangan bayangkan jalur ini hanya untuk minyak lagi, karena kekayaan digital sedang menjadi incaran.
Faktanya, para ahli menemukan setidaknya tujuh kabel internet bawah laut internasional yang melintasi Selat Hormuz. Saat ini, kabel-kabel canggih tersebut berfungsi sebagai jalur vital untuk koneksi data antara Asia, Timur Tengah, hingga Eropa. Bahkan, pusat data cloud global dan layanan internet dunia sangat bergantung pada infrastruktur ini. Tanpa kabel-kabel ini, layanan streaming dan aplikasi favoritmu bisa kacau balau!
Menurut laporan eksklusif dari Tasnim, lebih dari 10 triliun dolar AS transaksi finansial global terjadi setiap hari melalui kabel internet bawah laut yang melewati jalur tersebut. Bayangkan angka fantastis itu! Karena itulah, Iran merasa sangat rugi karena selama ini tidak pernah mendapatkan setetes pun manfaat ekonomi atau keuntungan kedaulatan dari infrastruktur digital tersebut. Mereka mengaku bahwa Selat Hormuz masih dipandang secara “tradisional”, hanya sebagai jalur kapal dan minyak semata.
Tiga Langkah Nekat yang Siap Dilakukan Iran
Sebagai tindak lanjut, dalam artikelnya yang berjudul “Three practical steps for generating revenue from Strait of Hormuz internet cables”, Tasnim secara agresif mendorong pemerintah mengambil tiga langkah utama yang mengubah situasi. Simak baik-baik, karena ini bisa berdampak ke kantongmu!
- Pertama, pemerintah Iran berencana mengenakan biaya lisensi awal dan biaya pembaruan tahunan kepada semua perusahaan asing yang memanfaatkan kabel tersebut. Jadi, mereka tidak bisa lagi lewat gratis.
- Kedua, Secara tegas mewajibkan perusahaan teknologi besar yang memakai kabel laut, seperti Meta (pemilik Facebook/IG), Amazon, dan Microsoft, untuk beroperasi di bawah hukum Iran yang keras. Langkah ini jelas akan memaksa raksasa teknologi tunduk pada aturan lokal.
- Ketiga, Teheran memberikan kontrol eksklusif kepada perusahaan Iran untuk proses pemeliharaan dan perbaikan kabel bawah laut yang melintasi wilayahnya. Dengan kata lain, Iran ingin menjadi “preman berlisensi” yang memonopoli perbaikan jika kabel putus.
Tidak hanya Tasnim, outlet media Fars yang juga terafiliasi dengan IRGC ikut menggemakan wacana serupa. Bahkan, Fars dengan pedas menyebut Hormuz sebagai “jalan tol digital tersembunyi” yang bisa menjadi alat kekuatan baru bagi Iran. Dalam proposal yang mereka usulkan, perusahaan asing nantinya diwajibkan meminta izin dan membayar biaya transit untuk kabel internet yang melintasi kawasan tersebut.
Para analis pun mulai gelisah. Jika benar-benar menerapkan kontrol atau pungutan baru ini, dampaknya bisa meluas secara masif ke sistem keuangan global, layanan cloud, hingga operasional perusahaan teknologi besar yang kamu gunakan sehari-hari. Jangan kaget jika biaya langganan aplikasi ikut naik!
Meniru Mesir? Strategi Berbahaya yang Siap Ditiru
Menariknya, seruan mengambil “pajak” kabel internet bawah laut di Selat Hormuz ini tampaknya meniru langkah sukses yang telah dilakukan Mesir. Seperti diketahui, Negeri Piramida itu memang secara rutin memungut biaya transit untuk kabel internet bawah laut yang menghubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania.
Di Mesir, kabel-kabel tersebut melintasi daratan negara itu sebelum kembali masuk ke laut. Selain itu, perusahaan milik negara bernama Telecom Egypt ikut terlibat aktif dalam bisnis kabel sekaligus menarik biaya transit dari operator global. Model bisnis basah inilah yang kini dengan ambisius ingin ditiru untuk Selat Hormuz, sebagaimana dihimpun dari laporan Seoul Economic Daily dan Iran International.
Mengapa Iran Begitu Percaya Diri? Ini Faktor X-nya!
Perlu kamu pahami kembali profil kawasan ini. Selat Hormuz merupakan perairan berkelok dengan lebar hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya. Secara geografis, selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, yang kemudian menjadi jalur utama kapal menuju pasar global. Dalam hukum maritim internasional, setiap negara pantai berhak menguasai hingga 12 mil laut dari garis pantainya. Karena selat ini relatif sempit, wilayah laut Iran dan Oman secara alami saling tumpang tindih, sehingga sebagian besar jalur perairan itu berada dalam yurisdiksi hukum kedua negara.
Oleh karena itu, secara geografis dan hukum teritorial, Iran dan Oman memang memiliki kontrol langsung atas kawasan tersebut. Meskipun selat ini dipandang sebagai jalur internasional yang dapat dilalui semua kapal, pada kenyataannya Iran memegang posisi strategis yang sangat signifikan. Negara itu menguasai seluruh garis pantai utara serta sejumlah pulau penting di dekat jalur pelayaran. Keunggulan geografis ini dengan jelas memberi Teheran kemampuan pengawasan dan posisi militer yang kuat.
Saat ini, jalur ini memang banyak dilalui kapal tanker raksasa pengangkut minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, UEA, dan Iran. Data mencatat sekitar 20 persen konsumsi minyak global, setara 20 juta barel minyak mentah dan bahan bakar per hari, melewati perairan ini. Selain itu, seperempat atau lebih perdagangan gas alam cair (LNG) global juga melintasi koridor sempit tersebut.
Dalam situasi tegang, Iran secara teori dapat memantau bahkan berpotensi mengganggu lalu lintas kapal yang melewati selat tersebut. Namun, perlu diingat bahwa penutupan total akan melanggar hukum internasional dan berdampak besar pada ekonomi kawasan. Jadi, apakah langkah “pajak digital” ini akan memicu perang baru? Satu yang pasti, dunia harus bersiap menghadapi “Toll Digital” pertama di laut lepas
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










