Olympic.or.id – Saat ini, teknologi Artificial Intelligence (AI) memang telah menyusup ke dalam seluruh sendi kehidupan masyarakat modern, mulai dari membantu menyelesaikan tumpukan pekerjaan kantor hingga menemani obrolan santai sehari-hari. Namun, di balik segala kemudahan canggih yang kita rasakan tersebut, ternyata ada fakta kelam yang mendadak memicu kecemasan hebat di kalangan pengamat lingkungan global. Pasalnya, mesin-mesin raksasa yang bekerja menopang keberlangsungan ekosistem digital tersebut rupanya membutuhkan pasokan air bersih dalam jumlah luar biasa banyak hanya demi menjaga operasional data center tetap stabil dan tidak hancur akibat kepanasan.

Selanjutnya, sebuah riset ilmiah kredibel yang terbit dalam jurnal internasional ternama Nature membongkar angka riil di balik kebutuhan pendinginan mesin tersebut. Para peneliti menemukan kenyataan bahwa satu unit data center berkapasitas 1 megawatt (MW) saja ternyata sanggup menyedot hingga 25,5 juta liter air setiap tahunnya khusus untuk sistem pendingin (cooling system). Oleh karena itu, lonjakan konsumsi air yang sangat masif ini langsung membuka mata publik dunia mengenai betapa besarnya dampak fisik yang tersembunyi di balik gemerlapnya industri pemrosesan data berbasis AI.
Kemudian, laporan resmi dari World Economic Forum yang rilis pada Selasa (22/9/2026) kian mempertegas betapa gawatnya ancaman kekeringan akibat ekspansi teknologi ini. Lembaga tersebut menguraikan fakta bahwa sedotan air harian untuk satu data center skala 1 MW tersebut ternyata setara dengan total konsumsi air harian untuk 300.000 jiwa manusia sekaligus. Alhasil, pengerukan air secara besar-besaran ini makin memperparah krisis lingkungan hidup, terutama di daerah-daerah rentan yang sejak awal sudah merintih akibat kelangkaan air bersih.
Di Balik Layar Server: Mengapa Mesin AI Begitu ‘Haus’ Air?
Di sisi lain, proses pengolahan kecerdasan buatan memang pada dasarnya melahap daya listrik berukuran raksasa saat memproses model data yang terintegrasi dan amat rumit. Oleh sebab itu, ketika arus energi raksasa melintasi sirkuit pemrosesan, mesin-mesin server pemroses AI ini bakal memancarkan suhu panas ekstrem secara terus-menerus. Maka dari itu, pengelola pusat data memutar otak dengan mengalirkan miliaran liter air dingin demi menjaga temperatur perangkat keras tersebut agar server tidak mengalami kerusakan fatal saat bekerja keras.
Lagipula, laju perkembangan kecerdasan buatan yang bertambah kencang dari hari ke hari jelas akan melipatgandakan beban lingkungan hidup di masa depan. Sebagai contoh konkret, pemrosesan satu model AI populer seperti GPT-3 ternyata menelan sekitar 500 mililiter air bersih hanya untuk membalas 10 hingga 50 pesan singkat yang dikirimkan penggunanya. Lebih lanjut, apabila kita mengalikan angka tersebut dengan miliaran interaksi pesan dari pengguna di seluruh planet bumi, maka jejak air yang ditinggalkan oleh aktivitas AI ini jelas langsung membengkak hingga mencapai jumlah yang sangat mengerikan.
Meskipun demikian, para perusahaan pengelola pusat data saat ini sebenarnya sudah mulai menghitung tingkat pemborosan air dalam operasional bisnis harian mereka. Namun sayangnya, pihak manajemen kerap kali mengesampingkan isu penyerapan air ini karena mereka lebih memilih memfokuskan perhatian publik pada isu jejak karbon semata. Kendati demikian, kenyataan ini justru memberikan peluang emas bagi para petinggi industri untuk segera menerapkan sistem daur ulang air sirkular yang jauh lebih strategis, seperti memulihkan kembali sisa limbah cair dan mengoptimalkan penggunaan air secara berkelanjutan dalam skala luas.
Ancaman Nyata: Triliunan Galon Air Terancam Lenyap pada 2027
Selain itu, hasil proyeksi ilmiah dari analisis mendalam terbaru memperkirakan bahwa industri AI bakal menelan air sebanyak 1,7 triliun galon secara global pada tahun 2027 mendatang. Akibatnya, lonjakan angka yang sangat fantastis ini dipastikan akan menebar ancaman kerusakan mematikan bagi kestabilan cadangan air bersih di berbagai negara. Oleh sebab itu, para pakar lingkungan mendesak para pengembang teknologi untuk segera membenahi infrastruktur murni mereka sebelum krisis air global benar-benar meledak tanpa kendali.
Lebih jauh lagi, penelusuran media terkemuka The Conversation terhadap studi komprehensif dari peneliti Stanford University memaparkan fakta krisis lokasi yang amat mengkhawatirkan. Dari sekitar 9.500 fasilitas data center yang beroperasi aktif di seluruh belahan planet bumi saat ini, mayoritas besar di antaranya ternyata menumpuk di wilayah Amerika Utara dan dataran Eropa. Yang lebih mengerikan lagi, para peneliti menemukan fakta bahwa seperempat dari keseluruhan lokasi pangkalan server tersebut berdiri kokoh di area yang pasokan air lokalnya sudah berada dalam kondisi kritis akibat ketidakseimbangan pasokan harian.
Gelombang Protes Memuncak: Dari Eropa Hingga Negara Tetangga!
Oleh karena situasi yang semakin menghimpit, gelombang amarah warga lokal akhirnya pecah dalam bentuk aksi demonstrasi besar-besaran di berbagai belahan dunia, mulai dari kawasan metropolitan Vancouver, pemukiman padat di New Jersey, hingga desa-desa di Lombardy, Italia. Warga setempat kini secara terbuka menyuarakan keraguan mendalam terkait manfaat keberadaan gedung server tersebut bagi kehidupan harian mereka. Sebab, berbagai laporan independen secara konsisten membuktikan bahwa kehadiran data center tersebut malah memicu pengerukan air secara gila-gilaan serta pencemaran lingkungan yang merusak sumber air warga.
Tak kalah mengejutkan, gejolak penolakan serupa kini telah merembet sangat dekat ke wilayah negara tetangga kita, yaitu Malaysia. Pesatnya pertumbuhan pangkalan data di Negeri Jiran tersebut mendadak memicu letupan protes publik untuk pertama kalinya dalam sejarah negara itu pada tanggal 7 Februari 2026 lalu. Akibatnya, peristiwa bersejarah ini menjadi bukti nyata bahwa kejenuhan masyarakat terhadap eksploitasi lingkungan akibat ekspansi industri AI sudah mencapai titik puncaknya di kawasan Asia Tenggara.
Pada aksi tersebut, lebih dari 50 warga berdiri berjejer menyampaikan tuntutan tepat di depan lokasi proyek fasilitas pangkalan data yang lokasinya sangat menempel dengan area permukiman di Negara Bagian Johor, Malaysia Selatan. Warga meluapkan kemarahan serta menuntut penghentian polusi debu tebal sekaligus meminta kompensasi atas gangguan kesehatan yang berpotensi menyerang keluarga mereka. Selain itu, para demonstran juga memekikkan kekhawatiran mendalam mengenai penurunan drastis kualitas dan kuantitas pasokan air bersih akibat keberadaan proyek raksasa tersebut.
Sementara itu, para koordinator aksi menegaskan bahwa pergerakan mereka secara sah mewakili suara hati dari hampir 1.000 penduduk lokal yang tersebar di empat perumahan distrik Gelang Patah. Padahal, bangunan raksasa milik perusahaan asal China bernama Zdata Technologies tersebut berdiri sangat dekat, yaitu berjarak kurang dari satu kilometer saja dari rumah-rumah warga. Sayangnya, pihak pengembang bertindak acuh dan menolak menemui massa, hingga akhirnya para demonstran dibubarkan secara tertib setelah 90 menit menyampaikan aspirasi di bawah pengawalan ketat puluhan personel kepolisian.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










