olympic.or.id — Bayangkan lo lagi santai di rumah, tiba-tiba listrik padam gara-gara tetangga sebelah lagi “nambang” Bitcoin pake mesin-mesin panasnya yang rakus energi. Kedengeran kayak film sci-fi? Tapi ini kenyataan di Malaysia, bro! Negara tetangga kita itu lagi heboh banget soal penambang Bitcoin ilegal yang nyolong listrik nasional sampe Rp15 triliun (sekitar US$1,1 miliar) dalam lima tahun terakhir. Dan cara mereka bongkarnya? Pakai drone canggih yang kayak mata elang di langit, lengkap dengan deteksi panas. Seru abis, kan? Yuk, kita kupas tuntas cerita ini biar lo ikut deg-degan!

Semua berawal dari keluhan warga biasa. Di pinggiran kota-kota seperti Malaka atau daerah industri, tetangga pada curiga: “Eh, kok rumah kosong itu suaranya aneh? Kayak burung-burung lagi pesta, tapi kok nggak ada burungnya?” Ternyata, itu trik licik para penambang! Mereka pasang speaker yang muter suara alam palsu—kicau burung, angin sepoi-sepoi—buat nutupin deru fan ribuan rig mining yang lagi kerja keras 24/7. Rig-rig itu, ya, komputer super khusus yang ngitung triliunan kalkulasi per detik buat validasi transaksi Bitcoin. Hasilnya? Mereka dapet coin digital, tapi bayarannya? Listrik curian dari jaringan negara, yang dikelola Tenaga Nasional Bhd (TNB). Kerugiannya? Gila, bro, sampe US$1,1 miliar alias Rp15 triliun lebih! Itu setara biaya bangun ribuan sekolah atau rumah sakit, lho.

Menurut data TNB, dalam lima tahun terakhir, mereka udah nemuin sekitar 14.000 lokasi mining ilegal. Bayangin, ribuan gudang kosong, toko tutup, bahkan mall yang sepi pasca-pandemi kayak ElementX Mall di Malaka. Awal 2025, ada video TikTok viral yang bongkar mall itu lagi dipake buat mining, lengkap dengan ribuan rig yang nyedot listrik kayak gajah haus. Dampaknya nggak main-main: listrik padam massal, tagihan warga naik, dan lingkungan rusak karena panas berlebih dari mesin-mesin itu. Bitcoin mining global aja udah boros energi lebih dari konsumsi listrik Thailand atau Afrika Selatan, dan Malaysia ikut kena imbasnya. Dulu, negara ini punya 2,5% hashrate global (kekuatan mining) di 2022, tapi sekarang banyak yang ilegal dan bikin pusing pemerintah.

Nah, gimana caranya Malaysia balas dendam? Mereka nggak main-main, langsung bentuk task force udara-darat yang kayak operasi spionase ala James Bond! Di langit, drone-drone canggih melayang-layang di atas deretan toko dan rumah-rumah hantu. Drone ini dilengkapi kamera termal—alat pendeteksi panas yang bisa ngebaca “sidik jari” panas dari rig mining yang lagi overheat. Bayangin, malam hari, drone itu scan jalanan target, nyari titik-titik panas yang nggak wajar. Kalau ketemu, langsung catet koordinatnya. Di darat, polisi bawa sensor genggam yang kayak detektor hantu: tinggal jalan kaki, alat itu langsung “cium” lonjakan penggunaan listrik yang aneh. Hasilnya? Dari Oktober 2025 aja, udah ada 3.000 kasus yang ketangkep!

Tapi, para penambang ini licik banget, loh. Mereka nggak cuma sembunyi di tempat-tempat aneh, tapi juga pasang pertahanan ala benteng. Ada perisai panas buat nutupin glow rig dari drone, CCTV di setiap sudut, gembok super tebal, bahkan jebakan kaca pecah di lantai biar kalau ada yang nyusup, langsung kena luka. Mereka mobile abis: setup di satu tempat seminggu, terus pindah ke bangunan lain. “Ini kayak kucing-tikus, tapi tikusnya pinter banget,” kata Akmal Nasrullah Mohd Nasir, Wakil Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air Malaysia, yang ikut razia sejak 2024. Beliau bilang, “Risikonya nggak cuma nyolong listrik lagi… Mereka bisa rusakin fasilitas kita. Ini tantangan buat sistem kita.” Akmal bahkan usul larang total mining Bitcoin, karena pasarnya volatile banget—harga Bitcoin naik-turun kayak roller coaster, dari rekor tinggi sampe anjlok 30% baru rebound. “Walaupun legal, susah suksesnya. Apalagi ini dijalanin sindikat kriminal, modusnya jelas: pindah-pindah tempat cepet,” tambahnya.
kunjungi laman berita terkini di Indonesiaartnews.or.id
Pemerintah Malaysia nggak tinggal diam. 19 November 2025, mereka bentuk komite khusus lintas lembaga: Kementerian Keuangan, Bank Negara Malaysia, dan TNB. Ketua komite, Akmal lagi, langsung gelar rapat pertama 25 November. Tujuannya? Koordinasi razia lebih ketat, pastiin mining ilegal dilarang total kecuali yang bayar pajak dan listrik resmi. Contohnya, di Sarawak ada perusahaan Bityou yang legal, tapi kasus ilegal ini beda cerita—diduga dikuasai sindikat terorganisir. Hasilnya? Ribuan rig udah dimusnahin, dan TNB mulai pasang sistem deteksi pintar di grid listrik biar curian lebih susah.
Cerita ini ngingetin kita di Indonesia, kan? Kita juga punya isu mining ilegal, meski skalanya beda. Bitcoin emang janji cuan cepet, tapi risikonya gede: lingkungan rusak, energi boros, dan bisa bikin chaos ekonomi. Di Malaysia, drone ini jadi senjata ampuh, tapi Akmal bilang, “Kita harus adaptasi terus, karena mereka juga inovatif.” Siapa tau, suatu hari drone serupa terbang di atas Jakarta buat bongkar “hantu” mining kita sendiri.
Intinya, bro, teknologi kayak drone termal ini bukti kalau masa depan pemburuan kejahatan udah hybrid: langit dan bumi bareng-bareng. Malaysia lagi buktiin, curian listrik nggak bisa main-main. Lo penasaran? Pantau aja update-nya, siapa tau besok ada berita serupa di sini. Tetap hemat energi, ya—jangan sampe rig mining lo yang bikin tagihan meledak!








