Olympic.or.id – Bayangkan, teknologi bisa membaca jutaan berita, lalu memprediksi di mana air akan naik besok. Kedengarannya seperti film fiksi ilmiah, ya? Tapi Google baru saja mewujudkannya. Mereka memperkenalkan sistem AI anyar yang cukup unik, namanya Groundsource. Sistem ini punya misi mulia: memprediksi banjir bandang hingga 24 jam sebelum kejadian. Kerennya, teknologi ini menggunakan model AI bernama Gemini. Lalu, AI ini bekerja dengan cara yang tidak biasa. Alih-alih hanya mengandalkan sensor, ia “melahap” jutaan laporan berita banjir dari seluruh dunia, menganalisisnya, dan akhirnya membuat prediksi titik-titik rawan di lebih dari 150 negara.
Gila Loike, manajer produk Google Research, bahkan menyebut ini sebagai terobosan. Menurutnya, ini adalah kali pertama Google memakai model bahasa besar (LLM) buatannya sendiri untuk menciptakan kumpulan data ilmiah dari teks laporan berskala global. Jadi, mereka tidak sekadar melihat masa lalu, tapi benar-benar membangun masa depan yang lebih siap.
Jutaan Berita Jadi Senjata Utama AI

Kita semua tahu, banjir bandang itu mematikan. Setiap tahun, bencana ini merenggut lebih dari 5.000 jiwa di seluruh dunia. Namun, ironisnya, banjir bandang juga termasuk yang paling sulit ditebak. Kenapa? Karena ia datang tiba-tiba. Berbeda dengan banjir sungai yang airnya naik perlahan, banjir bandang di kota terjadi cepat saat hujan deras meluapi jalanan dan drainase yang tersumbat.
Masalah klasiknya selama ini adalah minimnya data historis. Tanpa data yang cukup, para ilmuwan kesulitan melatih AI untuk mengenali pola-pola pemicu banjir. Nah, di sinilah Google mengambil jalan pintas yang jenius: mereka menjadikan berita sebagai sumber data utama.
Bagaimana caranya? Model Gemini bekerja keras. Ia menelusuri sekitar 5 juta artikel berita dari berbagai penjuru dunia, sejak tahun 2000. Kemudian, AI mengekstrak informasi penting dari artikel-artikel itu, seperti lokasi dan waktu persis kejadian banjir. Prosesnya pun tidak main-main. Setelah melewati penyaringan ketat, penghapusan data ganda, dan penerjemahan dari berbagai bahasa, jadilah sebuah dataset raksasa. Hasilnya? Sekitar 2,6 juta catatan kejadian banjir dari lebih dari 150 negara! Luar biasa, kan?
Selanjutnya, dataset inilah yang menjadi “bahan bakar” untuk melatih model AI berbasis Long Short-Term Memory (LSTM). Model ini kemudian menggabungkan berbagai data pendukung, seperti prakiraan cuaca per jam, tingkat kepadatan kota, kemampuan tanah menyerap air, serta kondisi topografi wilayah. Dari semua analisis itu, AI akhirnya memberikan sinyal risiko banjir bandang untuk 24 jam ke depan. Namun, sistem ini hanya fokus pada wilayah perkotaan dengan kepadatan di atas 100 orang per kilometer persegi.
Lihat Langsung di Flood Hub!
Hasil prediksi dari sistem Groundsource ini sudah bisa diakses publik, lho. Google menyediakannya melalui platform bernama Flood Hub. Sebelumnya, layanan ini memang sudah populer untuk memberikan peringatan banjir sungai kepada sekitar 2 miliar orang di dunia.
Caranya gampang. Pengguna tinggal mengunjungi link Flood Hub, lalu mencari negara atau kota yang ingin dicek. Di sana, akan muncul peta banjir bandang perkotaan. Simbolnya juga mudah dipahami: kotak merah artinya wilayah itu sangat mungkin banjir, sementara kotak oranye menandakan potensi banjir. Sebagai informasi, Google masih memberi label fitur ini sebagai versi Beta atau uji coba.
Ada Batasnya Juga
Meski terdengar canggih, sistem ini belum sempurna. Google sendiri mengakui ada beberapa keterbatasan. Misalnya, model prediksi ini hanya akurat untuk area sekitar 20 kilometer persegi. Artinya, cakupannya mungkin hanya seluas satu kecamatan kecil atau sebagian kota saja.
Selain itu, sistem ini belum bisa memperkirakan seberapa parah banjir yang akan terjadi. Akurasinya pun bisa menurun drastis di wilayah yang jarang mendapat liputan berita. Ketimbang sistem milik BMKG Amerika Serikat, kemampuan Google ini masih kalah dalam hal presisi. Salah satu penyebabnya adalah karena model ini belum menggunakan data radar lokal yang bisa memantau hujan secara langsung.
Namun, hasil uji coba di lapangan cukup menjanjikan. Google mencontohkan, otoritas penanggulangan bencana di Afrika bagian selatan pernah menerima peringatan dari Flood Hub. Mereka kemudian mengonfirmasi titik-titik banjir tersebut dan segera mengirimkan tim ke lokasi. Artinya, sistem ini sudah terbukti membantu secara nyata.
Harapan Google ke depan, pendekatan inovatif ini bisa mengisi kekosongan data yang selama ini menjadi momok dalam prediksi banjir bandang. Pada akhirnya, teknologi ini diharapkan membantu pemerintah dan organisasi kemanusiaan untuk bergerak lebih cepat saat bencana datang.
Bukan Cuma Banjir, Google Punya Tiga Alert Sekaligus
Sebelum Groundsource lahir, Google sebenarnya sudah lama memiliki fitur flood alert. Peringatan ini muncul di Google Search dan Maps sebagai bagian dari program Google SOS Alerts. Ini adalah fitur darurat yang dirancang untuk memberikan informasi krisis dengan mudah.
Dari laman dukungan Google, kita tahu ada tiga peringatan utama: Flood Alert untuk banjir, Fire Alert untuk kebakaran hutan, dan Excessive Heat Warnings untuk gelombang panas ekstrem. Jadi, Google memang serius membangun ekosistem tanggap darurat.
Sistem SOS Alerts ini mengambil konten dari berbagai sumber terpercaya, seperti lembaga pemerintah, organisasi kemanusiaan, media kredibel, hingga data internal dari Google News dan Maps. Informasi yang disajikan pun lengkap. Pengguna bisa melihat peta area terdampak, nomor darurat, situs resmi, berita terkini, bahkan opsi donasi.
Google baru akan menayangkan SOS Alert jika tersedia informasi resmi, dampaknya signifikan, dan situasi internet di lokasi memungkinkan. Jika pengguna sedang berada di dekat lokasi bencana dan mengaktifkan fitur lokasi, notifikasi darurat bisa langsung muncul di layar ponsel. Jadi, tetap waspada dan pantau terus teknologi ini, siapa tahu bisa menyelamatkan nyawa kita suatu hari nanti!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









