Jakarta Olympic.or.id – Google baru saja memecat seorang karyawan yang dengan berani menyuarakan penolakan terhadap kerja sama perusahaan dengan militer Israel. Insiden ini langsung menyulut perhatian publik dan memicu diskusi tentang etika bisnis di dunia teknologi.
Dalam sebuah presentasi yang dipimpin oleh eksekutif dari Google Israel pada Senin lalu, sang mantan karyawan—yang merupakan insinyur di divisi Google Cloud—tiba-tiba berdiri dan berteriak lantang, “Saya menolak membangun teknologi yang memfasilitasi genosida atau pengawasan!”. Aksi protes spontan ini langsung mengguncang acara.
Google pun secara resmi mengonfirmasi pemecatan tersebut setelah laporan pertama muncul di media lokal dan kemudian disiarkan oleh laman teknologi ternama, The Verge, pada Sabtu (9/3). Langkah ini menunjukkan betapa seriusnya perusahaan menanggapi aksi yang dianggap melanggar aturan.

“Awal pekan ini, seorang karyawan mengganggu presentasi rekan kerjanya dan mengacaukan acara resmi yang disponsori perusahaan. Perilaku seperti ini tidak dapat kami terima, terlepas dari masalahnya, dan kami terpaksa memecatnya karena melanggar kebijakan internal,” jelas juru bicara Google, Bailey Tomson, melalui pernyataan resmi yang dikirim via email.
hubungi juga laman berita terkini di Exposenews.id
Insiden protes tersebut terjadi di konferensi teknologi tahunan Israel, Mind the Tech, yang diselenggarakan di New York, Amerika Serikat. Saat itu, direktur eksekutif Google Israel, Barak Regev, sedang memaparkan materinya.

Karyawan yang dipecat itu menyoroti Proyek Nimbus, yaitu kontrak senilai 1,2 miliar dolar AS (sekitar Rp18,6 triliun) antara pemerintah Israel dengan Google dan Amazon untuk pengadaan layanan komputasi awan. “Proyek Nimbus membahayakan komunitas Palestina. Tidak boleh ada apartheid di dunia cloud!”, tegas mantan insinyur tersebut.
Sejak ditandatanganinya kontrak Proyek Nimbus pada 2021, Google memang kerap mendapat tentangan dari dalam maupun luar perusahaan. Ratusan karyawan Google dan Amazon bahkan pernah mempublikasikan surat terbuka yang mengecam kesepakatan tersebut. Mereka menuduh bahwa teknologi yang dibangun memungkinkan pengawasan dan pengumpulan data ilegal terhadap warga Palestina.

No Tech For Apartheid, sebuah organisasi yang aktif menentang Proyek Nimbus, turut menyuarakan dukungan bagi insinyur yang dipecat tersebut dalam pernyataan resmi mereka pada Jumat (8/3). “Tujuan Google jelas: mereka berusaha membungkam karyawan untuk menutupi moralitas yang cacat. Sebagai insinyur perangkat lunak cloud yang bekerja pada teknologi inti Proyek Nimbus, karyawan ini berbicara berdasarkan keprihatinan mendalam atas dampak kekerasan dari pekerjaannya,” tegas organisasi tersebut.
Sejak perang Israel-Hamas berkecamuk pada Oktober lalu, gelombang protes internal di Google semakin menguat. Karyawan menggelar “duduk-diam” atau die-in di kantor perusahaan di San Francisco sebagai bentuk penolakan terhadap kontrak layanan cloud. Lebih dari 600 karyawan juga menandatangani petisi yang mendesak Google untuk menghentikan sponsor bagi konferensi Mind the Tech.
Dengan demikian, pemecatan ini bukan hanya sekadar persoalan disiplin karyawan, melainkan juga mencerminkan ketegangan antara kebijakan perusahaan dengan suara hati para pekerja yang peduli terhadap isu kemanusiaan.









