Olympic.or.id – Kabar mengejutkan datang dari raksasa kamera aksi asal Amerika Serikat, GoPro! Perusahaan yang identik dengan petualangan ekstrem ini secara mengejutkan mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari seperlima karyawannya di seluruh dunia hingga penghujung tahun 2026. Langkah drastis ini tentu saja langsung mengundang tanda tanya besar dari para penggemar dan pelaku industri.
Ternyata, di balik keputusan kontroversial ini, GoPro tengah menjalankan strategi restrukturisasi besar-besaran. Perusahaan berambisi untuk menekan biaya operasional yang membengkak sekaligus berupaya keras memperbaiki kinerja keuangan yang terus tertekan selama beberapa tahun belakangan. Dengan kata lain, ini adalah upaya mati-matian agar GoPro tetap bisa bertahan di tengah badai persaingan.
Angka Fantastis di Balik Pemangkasan Massal
Berdasarkan dokumen resmi yang diajukan ke regulator Amerika Serikat, Mereka secara terbuka menyebut akan memangkok sekitar 145 posisi pekerja. Angka ini sungguh fantastis karena setara dengan sekitar 23 persen dari total tenaga kerja perusahaan! Bayangkan, hampir seperempat karyawan harus rela kehilangan pekerjaan mereka.
Untuk memberikan gambaran lebih jelas, sebelum pemangkasan massal ini dilakukan, jumlah karyawan GoPro secara global tercatat hanya sekitar 631 orang. Jadi, perusahaan yang dulu pernah berjaya ini kini sedang menjalani diet ekstrem dengan memotong hampir seperempat dari seluruh personelnya.
Jadwal dan Biaya yang Menguras Kantong
Lalu, kapan mimpi buruk ini mulai berlangsung? Manajemen GoPro telah menjadwalkan proses pemangkasan tenaga kerja ini dimulai pada kuartal kedua tahun 2026. Mereka pun menargetkan sebagian besar proses PHK ini sudah selesai sebelum tahun 2026 berakhir. Jadi, bagi karyawan yang terdampak, sisa waktu menanti kepastian nasib yang sungguh mencekam.
Tidak berhenti di situ, GoPro juga memperkirakan biaya restrukturisasi yang harus mereka tanggung mencapai angka fantastis, yaitu sekitar 11,5 juta dolar AS hingga 15 juta dolar AS. Dalam rupiah, jumlah itu setara dengan sekitar Rp 195 miliar hingga Rp 255 miliar! Dana sebesar itu pun disiapkan khusus untuk membayar pesangon serta memberikan manfaat kesehatan bagi para karyawan yang terkena PHK.
Mengapa GoPro Terpaksa Ambil Langkah Berat?
Pertanyaan besarnya, mengapa GoPro sampai nekat mengambil langkah seberat ini? Ternyata, efisiensi ini diambil di tengah tekanan bisnis yang luar biasa berat yang dihadapi GoPro dalam beberapa tahun terakhir, seperti yang dilansir oleh San Francisco Chronicle. Perusahaan pendobrak pasar kamera aksi ini ternyata sedang kewalahan menghadapi badai persaingan yang semakin sengit.
Coba bayangkan, di satu sisi, GoPro harus bertarung sengit di pasar kamera aksi melawan para pesaing tangguh seperti DJI dan Insta360. Kedua produsen ini secara agresif meluncurkan produk-produk inovatif yang tak kalah canggih. Di sisi lain, kemampuan kamera pada smartphone modern pun meningkat drastis dan menjadi alternatif serius bagi sebagian besar pengguna kasual. Mereka pun merasa tidak perlu lagi membeli kamera aksi terpisah.
Senjata Baru GoPro untuk Bangkit dari Kubur
Namun, jangan dulu mengubur GoPro terlalu dalam! Untuk memulihkan pertumbuhan yang sempat tersendat, perusahaan berencana meluncurkan generasi kamera baru yang lebih berfokus pada kebutuhan para profesional. Mereka sepertinya sadar bahwa pasar konsumen biasa telah banyak beralih ke ponsel pintar. Oleh karena itu, mereka berani mengubah haluan dengan menargetkan pembuat konten profesional.
Yang lebih menarik lagi, produk anyar tersebut akan ditenagai oleh prosesor GP3 terbaru buatan mereka sendiri. GoPro dengan percaya diri mengklaim chip terbaru ini mampu meningkatkan kualitas gambar dan performa perangkat secara signifikan. Apakah ini akan menjadi senjata rahasia mereka untuk bangkit kembali? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Bukan Pertama Kalinya, GoPro Sudah Punya Catatan Kelam
Perlu diketahui pula, bahwa pemutusan hubungan kerja kali ini bukanlah yang pertama bagi GoPro. Sebelumnya, perusahaan yang didirikan oleh Nick Woodman ini sudah beberapa kali melakukan pengurangan tenaga kerja. Sebagai contoh, pada tahun 2024, mereka juga telah memangkas sekitar 15 persen karyawan sebagai bagian dari upaya efisiensi biaya. Jadi, pola ini sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa waktu lalu.
Sebagai kilas balik, GoPro pertama kali didirikan pada tahun 2002 oleh seorang pengusaha visioner bernama Nick Woodman. Berkantor pusat di San Mateo, California, perusahaan ini dikenal sebagai pelopor kamera aksi yang sangat populer. Para penggunanya kerap menggunakan kamera ini untuk meregangkan adrenalin melalui olahraga ekstrem, mengabadikan perjalanan epik, hingga berbagai kegiatan luar ruang yang seru. Namun, kini sang pelopor harus berjuang ekstra keras untuk tidak tersingkir oleh zamannya sendiri.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.








