Olympic.or.id – Siapa yang sangka, perusahaan ojek online dan pesan-antar makanan asal Singapura, Grab Holdings, kini melebarkan sayapnya hingga ke negeri Paman Sam dengan cara yang sangat mengejutkan. Mereka resmi mengakuisisi platform investasi digital asal Amerika Serikat, Stash Financial, dalam sebuah kesepakatan yang nilainya bikin melongo!
Aksi korporasi ambisius ini mereka umumkan langsung di situs resmi Grab pada Kamis, 12 Februari 2026. Bukan tanpa alasan, langkah berani ini mereka ambil untuk memperluas portofolio layanan keuangan mereka, apalagi saat ini super-app tersebut sudah mulai mencetak keuntungan yang cukup gemilang.
Grab tidak main-main dalam aksi korporasi ini. Mereka mengakuisisi Stash melalui skema tunai dan saham yang cukup kompleks. Sebagai langkah awal, Grab akan membeli 50,1 persen saham Stash berdasarkan valuasi perusahaan yang mencapai angka fantastis, yaitu 425 juta dolar AS atau setara dengan sekitar Rp 7,1 triliun! Bayangkan, uang sebanyak itu mereka keluarkan untuk memborong setengah dari kue kepemilikan Stash.
Sisa kepemilikan perusahaan rintisan tersebut akan mereka akuisisi secara bertahap dalam kurun waktu tiga tahun setelah transaksi pertama selesai. Menariknya, harga untuk sisa saham ini akan mengacu pada nilai pasar wajar yang berlaku saat itu. Kesepakatan ini pun mencakup rencana ambisius untuk mengakuisisi hingga 100 persen ekuitas Stash. Namun, seluruh proses transaksi ini baru akan mereka perkirakan rampung pada kuartal III-2026, tentunya dengan catatan harus mendapatkan persetujuan dari regulator dan memenuhi berbagai syarat penutupan transaksi lainnya.
Lantas, siapa saja pemilik sisa saham Stash saat ini? Ternyata, mereka dimiliki oleh sederet investor institusional kelas kakap, seperti Union Square Ventures, StepStone Group, Serengeti, University of Illinois Foundation, T. Rowe Price, Breyer Capital, dan Goodwater Capital. Menariknya lagi, Goodwater Capital lah yang sebelumnya memimpin pendanaan Seri H senilai 146 juta dolar AS untuk Stash pada Mei tahun lalu.
Stash sendiri bukanlah pemain baru di industri fintech. David Ronick, Brandon Krieg, dan Ed Robinson mendirikan perusahaan ini pada 2015. Mereka menyediakan aplikasi investasi yang user-friendly, kartu debit yang bisa memberikan imbalan saham dari transaksi harian penggunanya, serta StashWorks. StashWorks merupakan program kesejahteraan finansial karyawan yang menyediakan panduan investasi serta akses ke tabungan jangka pendek dan panjang.
Saat ini, Stash tengah mengelola aset dengan nilai mencapai sekitar 5 miliar dolar AS dan memiliki lebih dari satu juta pelanggan berbayar. Hebatnya lagi, perusahaan ini sudah mencetak arus kas positif dan mereka perkirakan akan menghasilkan lebih dari 60 juta dolar AS dalam bentuk adjusted EBITDA pada 2028, demikian Grab mengungkapkan dalam pengumuman resminya.
Yang menarik, setelah transaksi raksasa ini tuntas, Stash tidak akan berubah total. Mereka akan tetap beroperasi sebagai entitas mandiri di bawah naungan Grab. Mereka juga akan mempertahankan model pendapatan berulang, layanan, serta merek yang sudah mereka bangun selama ini.
Anthony Tan, CEO sekaligus cofounder Grab, menyebut akuisisi ini sebagai langkah strategis dalam transformasi bisnis perusahaannya. Dengan nada optimistis, ia mengatakan bahwa langkah ini merupakan tonggak penting dalam evolusi Grab sebagai penyedia layanan keuangan internasional yang tepercaya.
Grab juga berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan Stash di pasar konsumen Amerika Serikat. Lebih dari itu, mereka berencana mengeksplorasi peluang untuk menghadirkan solusi investasi Stash, termasuk fitur AI Money Coach, ke pasar Asia Tenggara dalam jangka panjang. Ini tentu kabar gembira bagi para pengguna Grab di kawasan ini!
Akuisisi ini mereka umumkan bertepatan dengan kabar baik lainnya. Grab melaporkan laba bersih sebesar 200 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,3 triliun pada 2025. Ini merupakan laba tahunan pertama yang berhasil mereka catatkan! Sungguh pencapaian yang membanggakan mengingat pada tahun sebelumnya mereka masih mencatat rugi bersih 158 juta dolar AS. Pendapatan tahunan Grab pun ikut melonjak 20 persen menjadi 3,4 miliar dolar AS.
“Hal ini memberi kami fleksibilitas lebih besar untuk mempercepat ambisi platform kami sekaligus memberikan nilai bagi pemegang saham,” ujar Peter Oey, Chief Financial Officer Grab, dalam wawancaranya dengan Forbes.
Tak hanya itu, Grab juga menyiapkan dana segar sebesar 500 juta dolar AS atau setara Rp 8,4 triliun untuk program pembelian kembali saham. Langkah ini mereka ambil guna meningkatkan imbal hasil bagi para pemegang saham yang telah setia mendukung mereka.
Memang, perjalanan Grab di bursa saham tidak selalu mulus. Sejak melantai di Nasdaq pada 2021, saham Grab sempat terpuruk dan turun lebih dari 70 persen seiring kerugian perusahaan yang sempat membesar. Namun kini, dengan fundamental yang semakin kuat, mereka optimis dapat meraih kembali kepercayaan pasar.
Saat ini, Grab memiliki lebih dari 50 juta pengguna aktif bulanan di delapan negara Asia Tenggara. Mereka juga mengoperasikan layanan bank digital di Singapura, Malaysia, serta melalui perusahaan asosiasi di Indonesia. Ekspansi demi ekspasi terus mereka lakukan, termasuk sebelumnya mereka mengakuisisi startup robotika AI Infermove pada bulan lalu dengan nilai transasi yang masih mereka rahasiakan.
Tambahkan 4 subjudul yang natural dan sesuai konteks.
Grab Borong Perusahaan Investasi AS: Siap Kuasai Dunia Fintech?
Olympic.or.id – Siapa yang sangka, perusahaan ojek online dan pesan-antar makanan asal Singapura, Grab Holdings, kini melebarkan sayapnya hingga ke negeri Paman Sam dengan cara yang sangat mengejutkan. Mereka resmi mengakuisisi platform investasi digital asal Amerika Serikat, Stash Financial, dalam sebuah kesepakatan yang nilainya bikin melongo!
Gak Main-Main, Nilai Akuisisi Tembus Rp 7,1 Triliun!
Aksi korporasi ambisius ini mereka umumkan langsung di situs resmi Grab pada Kamis, 12 Februari 2026. Bukan tanpa alasan, langkah berani ini mereka ambil untuk memperluas portofolio layanan keuangan mereka, apalagi saat ini super-app tersebut sudah mulai mencetak keuntungan yang cukup gemilang.
Grab tidak main-main dalam aksi korporasi ini. Mereka mengakuisisi Stash melalui skema tunai dan saham yang cukup kompleks. Sebagai langkah awal, Grab akan membeli 50,1 persen saham Stash berdasarkan valuasi perusahaan yang mencapai angka fantastis, yaitu 425 juta dolar AS atau setara dengan sekitar Rp 7,1 triliun! Bayangkan, uang sebanyak itu mereka keluarkan untuk memborong setengah dari kue kepemilikan Stash.
Sisa kepemilikan perusahaan rintisan tersebut akan mereka akuisisi secara bertahap dalam kurun waktu tiga tahun setelah transaksi pertama selesai. Menariknya, harga untuk sisa saham ini akan mengacu pada nilai pasar wajar yang berlaku saat itu. Kesepakatan ini pun mencakup rencana ambisius untuk mengakuisisi hingga 100 persen ekuitas Stash. Namun, seluruh proses transaksi ini baru akan mereka perkirakan rampung pada kuartal III-2026, tentunya dengan catatan harus mendapatkan persetujuan dari regulator dan memenuhi berbagai syarat penutupan transaksi lainnya.
Siapa Saja Investor di Balik Stash?
Lantas, siapa saja pemilik sisa saham Stash saat ini? Ternyata, mereka dimiliki oleh sederet investor institusional kelas kakap, seperti Union Square Ventures, StepStone Group, Serengeti, University of Illinois Foundation, T. Rowe Price, Breyer Capital, dan Goodwater Capital. Menariknya lagi, Goodwater Capital lah yang sebelumnya memimpin pendanaan Seri H senilai 146 juta dolar AS untuk Stash pada Mei tahun lalu.
Stash Bukan Kaleng-Kaleng, Ini Deretan Produknya!
Stash sendiri bukanlah pemain baru di industri fintech. David Ronick, Brandon Krieg, dan Ed Robinson mendirikan perusahaan ini pada 2015. Mereka menyediakan aplikasi investasi yang user-friendly, kartu debit yang bisa memberikan imbalan saham dari transaksi harian penggunanya, serta StashWorks. StashWorks merupakan program kesejahteraan finansial karyawan yang menyediakan panduan investasi serta akses ke tabungan jangka pendek dan panjang.
Saat ini, Stash tengah mengelola aset dengan nilai mencapai sekitar 5 miliar dolar AS dan memiliki lebih dari satu juta pelanggan berbayar. Hebatnya lagi, perusahaan ini sudah mencetak arus kas positif dan mereka perkirakan akan menghasilkan lebih dari 60 juta dolar AS dalam bentuk adjusted EBITDA pada 2028, demikian Grab mengungkapkan dalam pengumuman resminya.
Yang menarik, setelah transaksi raksasa ini tuntas, Stash tidak akan berubah total. Mereka akan tetap beroperasi sebagai entitas mandiri di bawah naungan Grab. Mereka juga akan mempertahankan model pendapatan berulang, layanan, serta merek yang sudah mereka bangun selama ini.
Bos Grab Buka Suara: Ini Baru Awal!
Anthony Tan, CEO sekaligus cofounder Grab, menyebut akuisisi ini sebagai langkah strategis dalam transformasi bisnis perusahaannya. Dengan nada optimistis, ia mengatakan bahwa langkah ini merupakan tonggak penting dalam evolusi Grab sebagai penyedia layanan keuangan internasional yang tepercaya.
Grab juga berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan Stash di pasar konsumen Amerika Serikat. Lebih dari itu, mereka berencana mengeksplorasi peluang untuk menghadirkan solusi investasi Stash, termasuk fitur AI Money Coach, ke pasar Asia Tenggara dalam jangka panjang. Ini tentu kabar gembira bagi para pengguna Grab di kawasan ini!
Akuisisi ini mereka umumkan bertepatan dengan kabar baik lainnya. Grab melaporkan laba bersih sebesar 200 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,3 triliun pada 2025. Ini merupakan laba tahunan pertama yang berhasil mereka catatkan! Sungguh pencapaian yang membanggakan mengingat pada tahun sebelumnya mereka masih mencatat rugi bersih 158 juta dolar AS. Pendapatan tahunan Grab pun ikut melonjak 20 persen menjadi 3,4 miliar dolar AS.
“Hal ini memberi kami fleksibilitas lebih besar untuk mempercepat ambisi platform kami sekaligus memberikan nilai bagi pemegang saham,” ujar Peter Oey, Chief Financial Officer Grab, dalam wawancaranya dengan Forbes.
Tak hanya itu, Grab juga menyiapkan dana segar sebesar 500 juta dolar AS atau setara Rp 8,4 triliun untuk program pembelian kembali saham. Langkah ini mereka ambil guna meningkatkan imbal hasil bagi para pemegang saham yang telah setia mendukung mereka.
Memang, perjalanan Grab di bursa saham tidak selalu mulus. Sejak melantai di Nasdaq pada 2021, saham Grab sempat terpuruk dan turun lebih dari 70 persen seiring kerugian perusahaan yang sempat membesar. Namun kini, dengan fundamental yang semakin kuat, mereka optimis dapat meraih kembali kepercayaan pasar.
Saat ini, Grab memiliki lebih dari 50 juta pengguna aktif bulanan di delapan negara Asia Tenggara. Mereka juga mengoperasikan layanan bank digital di Singapura, Malaysia, serta melalui perusahaan asosiasi di Indonesia. Ekspansi demi ekspasi terus mereka lakukan, termasuk sebelumnya mereka mengakuisisi startup robotika AI Infermove pada bulan lalu dengan nilai transasi yang masih mereka rahasiakan.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id









