Olympic.or.id – Industri PC benar-benar diguncang badai baru! Soalnya, setelah harga GPU akhirnya mulai stabil, giliran memori RAM dan SSD yang tiba-tiba melonjak ekstrem. Krisis kelangkaan komponen global kembali menghantui, dan kali ini, pusat data kecerdasan buatan (AI) menjadi biang keladinya yang menyedot seluruh pasokan hardware!
Badai Harga Dimulai, Produsen PC Langsung Ambil Sikap
Nah, sebagai bukti langsung, CyberPowerPC dengan berani membuka suara. Perusahaan ini secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka bakal menaikkan harga semua sistem PC mereka mulai 7 Desember 2025. Mereka dengan jelas menyatakan, “Harga memori global (RAM) telah melonjak 500 persen, dan harga SSD naik 100 persen,” seperti yang mereka kutip dari PCGamer.
AI Jadi ‘Pelaku Utama’ yang Menyedot Semua Pasokan
Lantas, apa yang sebenarnya memicu kekacauan ini? Ternyata, permintaan memori untuk server AI melesat sangat tajam sepanjang 2025. Kita harus ingat, server AI itu rakus memori, butuh DRAM dalam jumlah besar untuk operasi cepat dan NAND untuk penyimpanan jangka panjang. Alhasil, fasilitas produksi chip yang biasa melayani pasar konsumen kini kewalahan karena harus memprioritaskan permintaan raksasa dari pusat data AI. Data dari TrendForce semakin memperkuat situasi mencekam ini. Laporan mereka menunjukkan harga kontrak DRAM pada kuartal ketiga 2025 melambung hingga 171,8 persen dibanding tahun sebelumnya! Bahkan, TrendForce dengan tegas menyatakan, “Kenaikan ini bahkan melampaui laju kenaikan harga emas.”
Pasar Ritel Panik, Stok Menipis di Seluruh Lini

Krisis pasokan ini ternyata begitu parah. Beberapa produsen di Korea Selatan dilaporkan sampai harus menghentikan pesanan baru untuk DDR5 hingga akhir bulan karena stok mereka benar-benar habis total! Selain itu, dampak dari kelangkaan ini pun langsung terasa di pasar ritel yang kita kenal. Sebagai contoh, data dari PCPartPicker menunjukkan harga memori DDR4 dan DDR5 terus naik stabil sejak pertengahan 2025, dengan lonjakan yang justru semakin tajam sejak September. Di platform seperti Amazon, modul RAM dari merek ternama seperti Corsair dan Crucial juga mengalami kenaikan harga yang signifikan hanya dalam hitungan minggu. Bahkan, harga spot di DRAM Exchange mengalami kenaikan yang sangat drastis hanya dalam beberapa hari:
- DDR4 16Gb: melonjak dari US$28 (Rp448.000) menjadi US$37 (Rp592.000)
- DDR5 16Gb: naik dari US$20 (Rp320.000) menjadi US$33 (Rp528.000)
Di sisi lain, produsen memori besar pun ikut kesulitan. SK Hynix mengonfirmasi bahwa seluruh stok DRAM, NAND, dan bahkan HBM mereka sudah ludes terjual hingga tahun depan. Sebuah sumber internal industri pun membenarkan, “Pasokan sangat terbatas. Beberapa penyedia cloud hanya mendapatkan pemenuhan sekitar 70 persen,” dan kondisi OEM bahkan lebih buruk, hanya terpenuhi 30-40 persen. Yang menarik, meski DDR5 adalah teknologi terbaru, kenaikan harga DDR4 justru lebih tajam. Para analis pun langsung menganalisis penyebabnya, yaitu peralihan produksi massal ke DDR5, sementara permintaan DDR4 dari konsumen PC masih tetap tinggi. Akibatnya, kekosongan pasokan DDR4 pun tidak terhindarkan lagi.
Masa Suram Hingga 2026, Laptop pun Ikut Terseret
Lalu, kapan situasi ini akan membaik? Sayangnya, Adata sebagai salah satu produsen memori terbesar justru memperkirakan kelangkaan ini akan berlangsung lama. Mereka dengan tegas menyatakan, “Kami memperkirakan kelangkaan ini akan berlangsung hingga jauh ke 2026. Pasar memori saat ini sangat bullish.” Pada akhirnya, para gamer dan perakit PC harus gigit jari. Pasalnya, setelah menikmati penurunan harga GPU, kini mereka harus menghadapi kenyataan pahit yaitu lonjakan harga RAM dan SSD. Para analis pun memprediksi gelombang kenaikan harga komponen ini akan terus berlanjut sepanjang 2025 hingga awal 2026. Bahkan, RAM berpotensi menjadi komponen termahal dalam rakitan PC untuk pertama kalinya dalam lebih dari sepuluh tahun!
Tak hanya pasar komponen, dampak tsunami harga ini juga langsung menerjang pasar laptop. Sebagian besar produsen laptop sudah mempertimbangkan untuk menaikkan harga jual perangkatnya. Misalnya, Lenovo dilaporkan sudah memperingatkan toko ritel tentang perubahan harga mulai Januari 2026, yang artinya harga eceran yang disarankan akan baru. Tentu saja, konsumen akhir yang akan menanggung beban ini. Kita semua dipaksa untuk membayar lebih mahal saat ingin membeli PC atau laptop baru. Produsen besar lainnya seperti HP dan Dell juga dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah serupa. Menurut laporan media Korea Selatan, Chosun Ilbo, HP dan Dell bahkan sedang mempertimbangkan ulang lini produk mereka beberapa pekan sebelum dipamerkan di ajang CES 2026.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Indonesiaartnews.or.id









