Olympic.or.id – Siapa sangka, PC mini yang selama ini kita kenal sebagai pilihan hemat kini berubah status menjadi barang mewah? Ya, krisis RAM global benar-benar membuat harga produk-produk mungil ini terbang tinggi, dan tentu saja, ini bikin para penggemar teknologi menarik napas panjang.
Raspberry Pi, komputer papan tunggal yang sudah malang melintang di dunia maker dan edukasi, baru saja mengumumkan kenaikan harga lagi pada awal Februari lalu. Padahal, sebelumnya mereka sudah menaikkan harga pada Desember akibat biaya memori yang membengkak. Kini, konsumen harus merogoh kocek lebih dalam hingga 60 dollar AS atau sekitar Rp 960.000 untuk beberapa varian tertentu, tergantung kapasitas memorinya. Bisa dibayangkan, kan, betapa cepatnya perubahan ini terjadi?
Ternyata Bukan Cuma Isu, Ini Biang Keroknya
Lantas, apa sebenarnya biang kerok dari semua kekacauan ini? Jawabannya terletak pada harga RAM jenis LPDDR4 yang terus meroket tanpa ampun. Kok bisa? Ternyata, permintaan besar dari industri pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) menjadi pemicu utamanya. Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa kini tengah berlomba membangun pusat data AI, dan mereka butuh memori dalam jumlah sangat besar.
Akibatnya, para produsen memori pun mengalihkan fokus produksi mereka ke memori kelas atas seperti HBM (high bandwidth memory). Mereka lebih memprioritaskan pasar yang menguntungkan ini ketimbang memproduksi DRAM dan LPDDR untuk konsumen biasa. Logikanya sederhana: selama permintaan dari sektor AI masih menggebu-gebu, mereka akan terus memasok ke sana. Sementara kita, para pengguna PC mini dan gadget konsumer, harus rela antre dan membayar lebih mahal. Informasi ini kami rangkum dari laporan The Register yang mengupas tuntas fenomena ini.
Kalau kita lihat data dari analis TrendForce pada Januari lalu, prediksinya benar-benar bikin kaget. Mereka memperkirakan harga kontrak DRAM bisa melonjak hingga 60 persen pada kuartal ini. Tapi, perkiraan terbaru bahkan lebih mencengangkan lagi: kenaikan bisa mencapai 90 hingga 95 persen! Angka yang fantastis untuk komponen yang dulu relatif stabil harganya.
Dampaknya kini sudah terasa langsung di lini produk Raspberry Pi. Seluruh jajaran terkena imbasnya, mulai dari Raspberry Pi 4 dan Raspberry Pi 5, termasuk juga modul komputasi CM4 dan CM5. Bahkan perangkat berbasis keyboard seperti Raspberry Pi 500 dan Raspberry Pi 500+ juga ikut merasakan panasnya krisis ini. Benar-benar tidak ada yang selamat, kecuali varian-varian tertentu yang sengaja dipertahankan harganya.
Rincian Kenaikan yang Bikin Gigit Jari
Mari kita bedah satu per satu kenaikannya. Untuk produk dengan RAM 2GB, harganya naik 10 dollar AS. Model 4GB harus rela meloncat 15 dollar AS lebih tinggi. Varian 8GB? Naiknya mencapai 30 dollar AS. Tapi yang paling mencengangkan adalah model 16GB. Varian ini mengalami kenaikan terbesar, yakni 60 dollar AS! Bisa dibayangkan betapa beratnya keputusan ini bagi para penggemar yang sudah menanti-nanti produk dengan spesifikasi tinggi.
Sebagai gambaran yang lebih konkret, coba simak kasus Raspberry Pi 5 varian 16GB ini. Saat pertama kali diluncurkan, produk ini dibanderol sekitar 145 dollar AS. Kini? Harganya melambung menjadi 205 dollar AS! Artinya, harga model ini mengalami kenaikan sekitar 70 persen dibandingkan sebelum krisis RAM melanda. Sungguh lonjakan yang sulit dicerna oleh logika konsumen biasa.
Namun, di tengah kabar buruk ini, ada secercah harapan untuk para pengguna dengan kebutuhan dasar. Model dasar dengan RAM 1GB pada Raspberry Pi 4 dan Pi 5 tetap dipertahankan di harga 35 dollar AS (Rp 500.000-an) dan 45 dollar AS (Rp 750.000-an). Jadi, bagi kalian yang hanya butuh PC mini untuk proyek sederhana, masih ada opsi yang terjangkau.
Selain itu, produk-produk lama seperti Raspberry Pi Zero, Raspberry Pi 3, serta Raspberry Pi 400 dengan RAM 4GB yang dijual 60 dollar AS juga tidak mengalami kenaikan harga. Mereka seperti oase di tengah gurun pasir kenaikan harga yang menyengat. Setidaknya, para kolektor dan pengguna lama bisa sedikit bernapas lega.
Ada Kabar Baik dari DDR5, Tapi Jangan Senang Dulu
Uniknya, di tengah situasi krisis yang melanda LPDDR4 ini, harga RAM DDR5 justru menunjukkan tren yang berbeda. Dalam sebulan terakhir, harganya hanya naik tipis 0,1 persen. Kenaikan yang hampir tidak terasa, bukan?
Tapi jangan buru-buru bersorak. Sebelumnya, perjalanan harga DDR5 ini benar-benar roller coaster yang menegangkan. Pada Oktober–November 2025, harganya melonjak 49 persen. Lalu, sampai Desember 2025, lonjakan bertambah lagi hingga 93 persen! Dan pada Januari 2026, masih naik tambahan 27 persen. Meskipun laju kenaikannya kini melambat, harga memori masih bertengger di level yang sangat tinggi. Artinya, kantong kita masih akan terus tertekan.
Kesimpulannya, selama permintaan pusat data AI masih menggebu-gebu dan produsen memori terus memprioritaskan pasar tersebut, harga RAM untuk perangkat konsumen seperti PC mini ini diperkirakan bakal tetap tinggi. Kita mungkin harus bersiap-siap untuk era baru di mana “murah meriah” perlahan mulai bergeser maknanya. Jadi, siapkan strategi belanja teknologi kalian dengan bijak!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id









