Olympic.or.id – Perusahaan induk Snapchat, Snap, baru saja mengambil keputusan mengejutkan. Pada Rabu (15/4/2026) waktu Amerika Serikat, secara resmi mereka memangkas sekitar 1.000 karyawannya. Tentu saja, langkah ini langsung mengguncang industri teknologi global.
Baca Juga: Sukses Menjual MacBook Neo, Apple Justru Kewalahan Penuhi Permintaan
Selanjutnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) ini ternyata setara dengan 16 persen dari total tenaga kerja full-time yang mereka miliki. Selain itu, manajemen Snap juga dengan tegas menghapus lebih dari 300 posisi yang sebelumnya belum terisi oleh karyawan baru. Sungguh sebuah restrukturisasi besar-besaran!
Bos Snap Buka Suara: “Kami Prioritaskan Nilai Jangka Panjang”
CEO Snap, Evan Spiegel, secara terbuka menjelaskan alasan di balik pemangkasan dramatis ini. Menurutnya, mereka melakukan pemangkasan ini demi memprioritaskan investasi yang benar-benar bernilai bagi perusahaan dalam jangka panjang. Di saat yang sama, langkah ini juga menghemat biaya pengeluaran perusahaan secara signifikan.
Baca Juga: Huawei Pamerkan Pura X Max: Ponsel Lipat dengan Layar Lebar dan Dual-Texture Belakang
“Selama beberapa bulan terakhir, kami dengan cermat meninjau pekerjaan yang diperlukan untuk melayani komunitas dan mitra kami sebaik mungkin,” ujar Spiegel dalam memo internal yang bocor ke publik. Lebih lanjut, ia menjelaskan, “Dan kami membuat pilihan sulit untuk memprioritaskan investasi yang kami yakini paling mungkin menciptakan nilai jangka panjang.” Sebuah pernyataan tegas dari pucuk pimpinan.
Wow! Hemat Rp 8,5 Triliun Berkat AI
Poin paling menarik dari keputusan ini terletak pada efisiensi anggaran. Bos Snap ini juga memaparkan bahwa PHK dan penyesuaian organisasi akan menghemat anggaran perusahaan hingga 500 juta dollar AS (sekitar Rp 8,5 triliun) pada semester II-2026. Bayangkan, angka yang fantastis!
Lalu, bagaimana cara mereka mengganti peran karyawan yang dipangkas? Jawabannya adalah kecerdasan buatan (AI). Snap akan memanfaatkan AI secara maksimal untuk membantu meringankan beban karyawan yang anggota timnya berkurang drastis. Dengan kata lain, mesin kini mengambil alih tugas-tugas penting.
Baca Juga: Malikie Gunakan Paten Peninggalan BlackBerry untuk Seret Brother Industries ke Meja Hijau
Spiegel juga sangat yakin bahwa AI dapat membantu karyawan Snap yang tersisa, terlebih karena beberapa tim internal sudah membuktikan bahwa teknologi tersebut mampu membuat kemajuan yang berarti. “Kami percaya bahwa kemajuan AI yang pesat memungkinkan tim kami mengurangi pekerjaan berulang, meningkatkan kecepatan, dan lebih mendukung komunitas, mitra, serta pengiklan kami,” pungkas pendiri Snapchat itu, dikutip dari SFGate. Sebuah keyakinan yang akan diuji waktu.
Nasib Karyawan dan Besaran Pesangon
Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, Snap tidak merinci divisi mana saja yang terdampak PHK. Mereka juga tidak menyebutkan berapa banyak pekerja di kantor pusatnya di California yang terkena imbas. Informasi ini masih diselimuti misteri.
Yang jelas, karyawan yang terdampak PHK tetap mendapat pesangon. Mengacu pada dokumen resmi Snap ke Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC), perusahaan identik warna kuning ini akan mengeluarkan dana sekitar 95 juta hingga 130 juta dollar AS (sekitar Rp 1,6 triliun – Rp 2,22 triliun) khusus untuk pesangon. Jumlah yang tidak sedikit, meski tak sebanding dengan penghematan jangka panjang.
Bukan Pertama Kalinya! Catatan Hitam Snap
Perlu dicatat, PHK pada 2026 ini bukanlah yang pertama bagi Snap. Sejumlah gelombang PHK telah terjadi sejak 2022 lalu, dengan total karyawan yang terdampak mencapai lebih dari 1.300 orang. Polanya sudah terlihat sejak lama.
Baca Juga: Globalstar Resmi Diakuisisi Amazon, Layanan Emergency SOS di iPhone Tetap Berjalan
Kemudian pada November 2023, mereka kembali memangkas sekitar 20 manajer produknya. Selanjutnya, pada awal 2024, Snap juga telah melakukan PHK terhadap 10 persen karyawannya secara global, yang melibatkan kurang lebih 540 orang. Ironisnya, saat itu pun Snap berdalih bahwa PHK memungkinkan perusahaan fokus pada prioritasnya. Sejarah seolah berulang.
Satu hal yang pasti: lompatan besar menuju otomatisasi AI telah dimulai, dan para karyawan membayar harganya. Apakah ini masa depan semua perusahaan teknologi? Waktu yang akan menjawab.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










