Olympic.or.id – Raksasa produsen chip global, AMD, mendadak membuat gebrakan luar biasa setelah mereka meluncurkan rencana akuisisi megah terhadap World Labs, sebuah startup kecerdasan buatan (AI) yang lahir dari tangan dingin profesor legendaris Stanford, Fei-Fei Li. Bahkan, nilai transaksi fantastis ini menembus angka 8,2 miliar dollar AS atau setara Rp 147 triliun, yang mana AMD membiayai seluruh pembayarannya menggunakan skema pengalihan saham secara penuh. Oleh sebab itu, manajemen AMD memasang target tegas untuk menuntaskan aksi korporasi jumbo ini sebelum akhir tahun 2026, tentu setelah regulator resmi memberikan lampu hijau persetujuan.
Menariknya, begitu seluruh proses transaksi ini rampung sepenuhnya, Fei-Fei Li akan langsung melangkah masuk ke jajaran eksekutif puncak AMD untuk menjabat posisi strategis sebagai Executive Vice President sekaligus Chief Scientist. Lebih dari itu, ilmuwan kawakan ini bakal melaporkan seluruh hasil riset dan terobosannya secara langsung kepada CEO AMD, Lisa Su.
Publik industri teknologi sendiri sudah lama menjuluki sosok Li sebagai “Godmother of AI” alias “Mami AI”, terutama berkat mahakaryanya membangun ImageNet sekitar dua dekade lalu. Proyek basis data visual raksasa ciptaannya itulah yang sukses memicu ledakan revolusi deep learning hingga menciptakan era kecerdasan buatan serba canggih seperti hari ini.
Tak heran jika kesepakatan bernilai ratusan triliun ini langsung menjadi sorotan utama media global, lantaran momen bersejarah tersebut sukses mempertemukan dua tokoh perempuan paling berpengaruh dan paling disegani di panggung AI dunia.
Mengintip Teknologi World Labs: Bukan Cuma Kata-Kata, Tapi Menghidupkan Dunia 3D!
Di sisi lain, World Labs sendiri bermarkas di jantung inovasi San Francisco dan baru saja didirikan oleh Li pada pertengahan tahun 2024 lalu. Startup mutakhir ini secara khusus merancang model AI revolusioner yang mampu merekonstruksi, membuat, hingga mensimulasikan lingkungan tiga dimensi (3D) interaktif secara instan hanya berdasarkan perintah teks, gambar, maupun video. Bahkan, teknologi canggih mereka juga sanggup menjalankan pembelajaran mendalam serta simulasi ruang fisik untuk ranah robotika.
Selanjutnya, World Labs sudah resmi memperkenalkan mahakarya perdana mereka yang diberi nama Marble, sebuah produk visioner yang mereka pasarkan secara luas untuk industri hiburan interaktif sekaligus menyediakan arena simulasi digital tempat para robot masa depan berlatih memahami realitas.
Mengenai filosofi pengembangannya, tim pakar World Labs menegaskan bahwa kemajuan AI masa depan sangat membutuhkan kolaborasi super erat antara riset model visual, arsitektur sistem, serta daya komputasi. Oleh karena itu, pimpinan AMD secara terbuka meyakini bahwa pemahaman mendalam atas beban kerja (workload) AI generasi baru seperti milik World Labs ini bakal secara langsung membentuk dan menyempurnakan cetak biru (roadmap) pemrosesan chip buatan mereka.
Sejatinya, kedua entitas raksasa ini sudah menjalin kolaborasi strategis sejak tahun lalu, di mana fokus utama mereka tertuju pada akselerasi pelatihan model serta optimalisasi proses inferensi pada infrastruktur unit pemrosesan grafis (GPU) andalan AMD.
Secara teknis, inferensi merupakan proses krusial saat sistem komputer menjalankan model AI yang telah selesai melewati masa pelatihan intensif. Bahkan, sebagai bentuk kedekatan awal mereka, Fei-Fei Li secara khusus sempat tampil memukau sebagai penceramah tamu kehormatan dalam panggung presentasi utama AMD pada ajang CES di awal tahun 2026.
Lewat tulisan resminya saat mengumumkan akuisisi raksasa ini, Li mengungkapkan alasan mendasar di balik keputusannya, yakni keinginan membara untuk membawa seluruh capaian riset World Labs keluar dari dinding laboratorium menuju penerapan dunia nyata.
Maka dari itu, Li menuliskan pesan emosional sekaligus penuh optimisme tinggi: “Sekarang setelah tim kami memegang bukti nyata mengenai potensi dahsyat ini, kami bertekad mengerahkan segala daya upaya demi mempercepat hadirnya masa depan. Karena itulah, kami harus memperbesar skala operasional, memperluas jangkauan global, serta menyatu lebih dekat dengan infrastruktur perangkat keras.”
Berbeda jauh dari model bahasa besar (LLM) populer kepunyaan OpenAI, Anthropic, maupun Google, World Labs secara khusus memfokuskan pengembangan pada world model atau model dunia. Oleh sebab itu, mereka melatih AI ini menggunakan aliran data video dan dunia fisik tiga dimensi ketimbang tumpukan teks, dengan tujuan utama agar kecerdasan buatan dapat memahami hukum fisika serta cara benda nyata bergerak secara natural di alam semesta.
Sejalan dengan visi tersebut, Li menegaskan prinsip ilmiah yang diusungnya sejak awal: “Kami mendirikan entitas ini di atas pondasi keyakinan bahwa bahasa semata tidak akan pernah cukup untuk menciptakan kecerdasan sejati. Sebab, alam semesta kita tidak pernah tersusun dari deretan kata-kata, melainkan dari objek-objek nyata yang saling berinteraksi.”
Panaskan Persaingan Lawan Nvidia: Kunci Utama Menuju Era Robotika Masa Depan
Langkah berani ini diprediksi para pengamat akan langsung mendongkrak daya saing AMD untuk menggoyang dominasi Nvidia di pasar chip AI global. Apalagi, persaingan kian membara lantaran Nvidia sudah lebih dulu menggelontorkan rangkaian world model berbasis open-weight yang sangat populer, seperti seri Cosmos.
Padahal, jika kita menengok katalog komputasi mereka sebelumnya, AMD terhitung baru sebatas menawarkan model pemrosesan berbasis teks dan video sederhana saja kepada publik.
Oleh karena itu, lewat unggahan antusias di platform X, Lisa Su secara tegas menyatakan bahwa AMD siap mengawinkan kepakaran mendalam World Labs dalam bidang model dunia dengan kepemimpinan daya komputasi AMD demi memperkuat ekosistem AI terbuka yang makin solid.
Terlebih lagi, para pakar meyakini bahwa teknologi world model menjadi kunci vital untuk mentransformasi AI generatif ke dalam wujud robotika fisik, mulai dari armada kendaraan otonom yang dapat menyetir sendiri hingga penciptaan robot humanoid serba bisa.
Mengingat ketersediaan data fisik berkualitas untuk melatih robot serba guna masih sangat langka di pasaran, alhasil penuangan data sintetis dari model dunia dipandang sebagai kunci emas paling mendesak untuk mewujudkan mimpi besar para raksasa teknologi seperti Tesla dan Figure.
Sementara itu, deretan startup dengan sokongan dana jumbo lainnya juga tengah gencar mengembangkan world model serupa, salah satunya AMI Labs buatan Yann LeCun yang baru saja ia dirikan pada Maret lalu usai hengkang dari posisi Kepala Ilmuwan AI Meta. Bahkan, Nvidia sendiri tidak tinggal diam dengan terus mempererat kemitraan strategis bersama Wayve untuk menggarap teknologi pemodelan dunia khusus navigasi kendaraan otonom.
Nyatanya, jauh sebelum akuisisi bernilai triliunan ini meledak ke publik, World Labs pada Februari 2026 telah sukses menutup putaran pendanaan raksasa senilai 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 18 triliun). Menariknya, jajaran investor awal yang menyuntikkan dana segar tersebut mencakup AMD, Nvidia, serta Autodesk yang menyetor Rp 3,6 triliun, bahkan Lisa Su pribadi pun tercatat sebagai pemodal awal di startup tersebut.
Pada akhirnya, kedua jajaran manajemen mengonfirmasi bahwa seluruh tim bertalenta dari World Labs akan melebur penuh ke dalam keluarga besar AMD, meskipun mereka tidak merinci jumlah pasti karyawan yang ditransfer. Akibat pengumuman heboh ini, pergerakan saham AMD terpantau merangkak stabil dan bergerak hampir datar pada sesi perdagangan setelah jam reguler bursa hari Senin.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










