Jakarta, Olympic.or.id – Pemerintah China tiba-tiba menarik rem darurat di tengah hingar-bingar industri kecerdasan buatan. Mereka kini memasang pagar pembatas ketat terhadap OpenClaw, teknologi AI agent yang sedang naik daun karena kemampuannya yang terbilang “nakal”.
Dalam beberapa hari terakhir, gempar kabar berembus dari sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan pelat merah di China. Mereka secara aktif memperingatkan para pegawai agar tidak coba-coba memasang aplikasi OpenClaw di perangkat kerja. Langkah preventif ini langsung mereka ambil setelah regulator di Beijing mengendus potensi bahaya besar. Kekhawatiran utama mereka mencakup kebocoran data rahasia, risiko penghapusan data secara tidak sengaja, hingga potensi penyalahgunaan informasi pengguna yang bisa terjadi kapan saja.

Bukan Sekadar Chatbot Biasa
OpenClaw sendiri bukanlah chatbot receh yang hanya bisa menjawab pertanyaan. Teknologi ini merupakan agen AI bersifat open-source yang bekerja secara mandiri menjalankan berbagai tugas digital. Bayangkan, ia dapat bertindak layaknya asisten pribadi yang punya kuasa penuh menjalankan aksi langsung di komputer atau server pengguna. Anda bahkan bisa mengendalikannya cukup lewat aplikasi pesan seperti WhatsApp atau Telegram. Cukup berikan perintah, maka ia akan langsung mengoperasikan terminal, mengontrol browser, hingga mengelola sistem komputer secara otomatis tanpa perlu Anda sentuh lagi.
Karena kemampuannya yang demikian canggih, OpenClaw mampu bekerja seperti “asisten digital” yang setia menjalankan tugas di komputer pengguna selama 24 jam nonstop tanpa kenal lelah. Teknologi ini pertama kali mencuat ke publik di GitHub pada November 2025 dengan nama sandi Clawdbot. Seiring perjalanan waktu, proyek tersebut sempat bertransformasi nama menjadi Moltbot pada 27 Januari 2026, sebelum akhirnya memantapkan diri dengan nama OpenClaw pada 30 Januari 2026. Sejak pertama dirilis, OpenClaw langsung menyedot perhatian komunitas teknologi global karena kehebatannya menjalankan berbagai pekerjaan otomatis dengan intervensi manusia yang minim.
Awalnya Disambut Meriah, Kini Berbalik Arah
Menariknya, teknologi ini semula mendapat sambutan hangat di China. Perusahaan-perusahaan teknologi besar, startup AI, hingga pemerintah daerah di kota-kota pusat teknologi seperti Shenzhen justru gencar mendorong eksperimen penggunaan OpenClaw. Mereka bahkan berlomba-lomba menawarkan subsidi hingga jutaan yuan bagi perusahaan yang berani mengembangkan aplikasi berbasis teknologi tersebut. Kebijakan ini merupakan bagian gemilang dari program nasional ambisius bernama “AI Plus”, yaitu strategi jitu pemerintah China untuk mempercepat adopsi AI di berbagai sektor industri dan ekonomi.
Namun euforia itu mendadak meredup. Regulator pusat di Beijing kini angkat bicara dan memperingatkan potensi risiko keamanan yang mengintai dari teknologi ini. Sumber-sumber terpercaya yang mengetahui persis kebijakan tersebut mengungkapkan, instansi pemerintah dan perusahaan milik negara di China kini aktif memperingatkan pegawai agar tidak memasang OpenClaw di perangkat kerja karena alasan keamanan siber yang kian mengkhawatirkan. Mereka meminta pegawai yang terlanjur menginstal aplikasi terkait untuk segera melapor kepada atasan. Dengan begitu, perangkat mereka dapat segera diperiksa dan aplikasinya kemungkinan besar akan dihapus.
Beberapa pegawai, termasuk di bank-bank milik negara dan lembaga pemerintah strategis, bahkan menerima larangan tegas untuk memasang OpenClaw, baik di komputer kantor maupun di ponsel pribadi yang terhubung dengan jaringan kantor. Sebuah sumber menyebutkan, pembatasan tersebut dalam beberapa kasus bahkan turut berlaku bagi keluarga personel militer. Meski begitu, tidak semua lembaga menerapkan larangan total. Dalam sejumlah pemberitahuan internal, mereka masih memperbolehkan penggunaan OpenClaw, tentunya dengan syarat harus mendapat persetujuan ketat dari atasan terlebih dahulu.
Paket Lengkap Kekhawatiran Regulator
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China serta Komisi Pengawas dan Administrasi Aset Negara belum memberikan tanggapan resmi terkait kebijakan kontroversial tersebut. Menurut laporan The Business Times dan Reuters yang berhasil dihimpun, kekhawatiran utama pemerintah China berkisar pada akses luas yang dimiliki AI agent seperti OpenClaw terhadap sistem perangkat. Agar dapat menjalankan berbagai tugas otomatis, AI ini biasanya membutuhkan izin penuh untuk mengakses data pengguna, membuka aplikasi lain, serta terhubung dengan koneksi jaringan internet.
Akses yang demikian luas tersebut berpotensi memicu berbagai risiko keamanan serius. Mulai dari kebocoran data sensitif, penghapusan data secara tidak sengaja yang bisa berakibat fatal, hingga kemungkinan penyalahgunaan akses oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab. Para pakar keamanan siber juga angkat bicara memperingatkan bahwa kombinasi akses ke data sensitif, kemampuan berkomunikasi dengan jaringan eksternal, serta interaksi dengan konten yang tidak sepenuhnya terpercaya dapat meningkatkan potensi kerentanan sistem secara signifikan.
Meski demikian, hingga kini belum jelas seberapa luas sebenarnya pembatasan penggunaan OpenClaw di China. Beberapa pemerintah daerah disebut-sebut masih terus bergeming dan bereksperimen dengan teknologi tersebut. Salah satunya distrik Futian di kota Shenzhen, mereka dilaporkan masih setia menggunakan OpenClaw untuk mengembangkan agen AI yang dirancang membantu pekerjaan pegawai pemerintah. Jadi, meski regulator pusat memasang rambu-rambu bahaya, semangat eksplorasi di daerah ternyata masih menyala terang.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









