olympic.or.id — Bayangin kalau tiba-tiba listrik mati total, ATM ga bisa tarik uang, rumah sakit lumpuh, dan data pribadi kita nyebar di dark web. Bukan film dystopia, tapi ancaman nyata yang lagi dihadapi Indonesia sekarang. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) baru saja rilis data: sepanjang 2024 sampai Oktober 2025, serangan siber ke infrastruktur kritis nasional melonjak hampir 300% dibanding tahun sebelumnya. Yang paling bikin merinding? 68% serangan itu berhasil karena “celah manusia” – alias kita sendiri yang masih males ganti password atau klik link aneh.

Makanya, konsep “Tanggung Jawab Kolektif Keamanan dan Ketahanan Siber” lagi jadi mantra baru pemerintah, swasta, sampai komunitas. Intinya simpel: keamanan siber itu bukan urusan BSSN doang, bukan urusan perusahaan IT gede doang, tapi urusan kita semua – dari yang punya UMKM di kampung sampai anak SMA yang suka nge-game sampe subuh.

“Kalau dulu kita mikir ‘ah paling kena hacker cuma bank gede’, sekarang beda. UMKM yang baru buka Tokopedia aja bisa jadi sasaran ransomware,” kata Pratama Persadha, Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, dalam diskusi bareng Olympic.or.id pekan lalu. “Satu server down, bisa bikin ribuan pedagang online nangis.”

Pemerintah sendiri udah gerak cepat. Perpres 47/2024 tentang Strategi Keamanan Siber Nasional 2024-2029 mewajibkan setiap kementerian, BUMN, sampai pemerintah daerah punya Tim Tanggap Darurat Siber (CSIRT) sektoral. Tapi aturan doang ga cukup. Yang paling susah itu mengubah mindset dari “bukan urusan gue” jadi “kalau bukan gue, siapa lagi?”
Contoh nyata? Bulan lalu, serangan DDoS ke salah satu platform e-commerce besar bikin jutaan transaksi terganggu. Ternyata pintu masuknya dari perangkat karyawan yang pakai WiFi umum tanpa VPN. Satu orang lalai, jutaan orang kena getahnya. Ini yang bikin konsep tanggung jawab kolektif jadi super urgent.
Di level masyarakat, gerakan sudah mulai muncul. Komunitas seperti ID-CERT, Hacker Sekolah, sampai Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi lagi gencar sosialisasi. Mereka bikin konten TikTok pendek banget: “Ganti password tiap 3 bulan, jangan kayak mantan yang ga pernah move on.” Ternyata ampuh. Survei Katadata 2025 bilang, kesadaran masyarakat soal phishing naik dari 42% (2023) jadi 71% tahun ini.
Tapi jangan seneng dulu. Gap-nya masih gede. Di daerah, banyak sekolah dan kantor desa yang masih pakai Windows XP – sistem operasi yang udah “pensiun” sejak 2014. Belum lagi soal talenta. Indonesia cuma punya sekitar 1.200 certified ethical hacker, bandingin sama India yang udah ratusan ribu. Padahal tiap tahun kita butuh tambahan minimal 30.000 ahli siber baru.
Makanya, Olympic.or.id lagi getol dorong kolaborasi lintas sektor. “Olahraga nasional aja butuh tim yang solid, apalagi pertahanan siber negara,” kata Ferry Kono, Ketua Harian Komite Olimpiade Indonesia. “Kami lagi siapkan program pelatihan dasar keamanan siber buat atlet, pelatih, dan staf. Karena kalau akun resmi cabang olahraga kena hack dan data doping bocor, bisa berabe banget.”
Ide gila tapi masuk akal: bayangin tiap event olahraga nasional ada “Cyber Drill” bareng latihan fisik. Atlet lari 10 km, terus langsung simulasi tangani serangan ransomware. Keren ga?
kunjungi juga laman berita terbaru di exposenews.id
Di akhir 2025, pemerintah targetkan 100% infrastruktur kritis punya standar ISO 27001 dan minimal 70% masyarakat punya kesadaran dasar siber. Caranya? Pakai pendekatan “by design, by default” – keamanan siber harus jadi fitur bawaan, bukan tambahan. Misalnya, tiap aplikasi pemerintah wajib punya two-factor authentication, tiap laptop dinas wajib update otomatis, dan tiap warga yang daftar BPJS otomatis dapat edukasi anti-phishing.
Pesan penutup dari Pak Semuel Abrijani Pangerapan, Dirjen Aptika Kominfo: “Siber itu kayak pertahanan sepak bola. Kalau satu pemain bolong, gol masuk. Makanya kita harus main zona, bukan man-to-man. Semua harus tutup celah masing-masing, tapi tetap saling bantu.”
Jadi, mulai hari ini, cek password kamu. Update HP. Jangan klik link dari “pacar baru” yang tiba-tiba kirim APK. Karena di era digital, pahlawan bukan cuma yang bisa lari 100 meter di bawah 10 detik, tapi juga yang bisa nge-defend data bangsa dari serangan tak kelihatan.
Indonesia aman? Ya, kalau kita semua ikut jaga bareng.
Kalau enggak… ya siap-siap jadi headline dunia: “Negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia, kalah sama botnet.”
Pilih mana?
Ayo main bareng, biar ga tenggelam bareng.









