Olympic.or.id – Hati-hati, guys! Kabar mengejutkan datang dari dunia teknologi yang lagi hits banget. Kacamata pintar (smart glasses) yang katanya bakal jadi barang wajib masa depan, ternyata menyimpan risiko mengerikan. Olympic.or.id melaporkan bahwa perangkat canggih ini, yang memungkinkan kita merekam momen sehari-hari dengan mudah, justru bisa membuka celah privasi. Investigasi terbaru membuktikan fakta yang nggak main-main: rekaman video dari kacamata pintar—termasuk video paling pribadi sekalipun—ternyata bisa diintip dan dilihat oleh orang lain. Gila, kan?

Apa yang Terjadi? Rekaman Kamu Dipakai untuk “Ngajar” AI
Nah, sumber heboh ini datang dari investigasi gabungan dua surat kabar Swedia, Svenska Dagbladet dan Göteborgs-Posten. Mereka dengan teliti menelusuri alur data setelah pengguna memencet tombol rekam di kacamata pintar. Hasilnya, mereka menemukan praktik yang kurang mengenakkan: sebagian rekaman yang kita buat ternyata dikirim dan ditinjau oleh kontraktor manusia. Proses ini namanya “data annotation”.
Gampangnya, data annotation ini adalah proses “mengajari” kecerdasan buatan (AI) supaya paham apa yang ada di dalam video. Bayangkan, ada tim manusia di balik layar yang harus memberi label pada objek, aktivitas, atau bahkan percakapan dalam rekaman kita. Tentu saja, temuan ini langsung bikin merinding. Pasalnya, ini menunjukkan bahwa teknologi yang seharusnya membantu aktivitas kita sehari-hari, ternyata bisa jadi pintu belakang buat pelanggaran privasi yang serius.
Investigasi ini secara spesifik menyorot produk yang lagi naik daun, yaitu kacamata pintar Ray-Ban Meta. Perangkat buatan Meta (induk perusahaan Facebook dan WhatsApp) ini memang dilengkapi kamera dan fitur AI yang canggih. Namun, setelah menyelidiki lebih dalam, para jurnalis menemukan fakta bahwa sebagian video dari kacamata ini tidak hanya diamankan di server, tapi malah dikirim ke luar negeri. Tujuan utamanya adalah untuk dianalisis oleh kontraktor perusahaan, termasuk salah satunya di Nairobi, Kenya. Artinya, ada banyak tangan asing yang berpotensi melihat rekaman kita.
Lebih Parah Lagi: Video Pribadimu Diintip Orang Lain!
Yang bikin semakin merinding adalah pengakuan langsung dari para kontraktor di Nairobi. Dalam wawancara dengan media, mereka mengaku sudah sering menemukan video yang super pribadi. Bukan cuma sekadar rekaman jalan-jalan atau makan siang, tapi mereka mengaku pernah melihat rekaman yang memperlihatkan data sensitif, seperti kartu bank yang dipegang, hingga percakapan pribadi yang membahas hal-hal sensitif terkait tindak kejahatan.
Bahkan, satu anotator dengan jujur mengungkapkan bahwa mereka pernah melihat video orang yang sedang pergi ke toilet atau berganti pakaian. Bayangkan privasi kamu yang paling dalam bisa dilihat oleh orang asing di negara lain! Menurut mereka, para pengguna yang merekam momen-momen tersebut jelas nggak menyadari bahwa video mereka bakal diintip oleh orang lain. Mirisnya, hal ini dihimpun dari laporan BGR yang menunjukkan bahwa celah keamanan ini benar-benar terjadi di dunia nyata.
Kalau kamu merasa ini ilegal dan mengejutkan, perlu tahu satu fakta penting. Praktik yang bikin bulu kuduk berdiri ini sebenarnya sudah “mengintai” dalam syarat penggunaan layanan AI Meta. Iya, dokumen panjang yang biasanya kita lewati begitu saja saat mengaktifkan perangkat. Dalam ketentuan mereka, Meta secara gamblang menyatakan bahwa dalam beberapa kasus, perusahaan akan meninjau interaksi pengguna dengan AI, termasuk isi percakapan atau pesan. Mereka bilang peninjauan ini bisa dilakukan secara otomatis atau manual oleh manusia.
Bukan cuma itu, informasi yang pengguna bagikan juga boleh disimpan dan digunakan untuk pengembangan sistem AI. Memang, di awal mereka mengklaim sudah memperingatkan pengguna agar tidak membagikan informasi yang tidak ingin disimpan atau digunakan. Namun, pernyataan ini tetap membuat kita bertanya-tanya: apakah kita rela semua momen pribadi kita diproses dan dibagikan lebih lanjut hanya agar fitur AI bisa berfungsi optimal?
Investigasi itu semakin menegaskan bahwa data pengguna—baik suara, teks, gambar, hingga video—memang harus diproses dan berpotensi dibagikan. Kata mereka, ini syarat mutlak agar fungsi AI bisa bekerja. Lagi-lagi, ini membuka mata kita tentang harga yang harus dibayar untuk sebuah kemudahan teknologi.
Pengguna Harus Lebih Cerdas dan Waspada
Yang jadi masalah utama adalah, mayoritas dari kita nggak pernah baca syarat penggunaan dengan seksama. Kita biasanya langsung klik “setuju” tanpa paham konsekuensinya. Padahal, informasi penting seperti ini sudah tercantum jelas dalam dokumen kebijakan privasi yang panjangnya bisa puluhan halaman. Akhirnya, kita baru tersadar setelah ada investigasi seperti ini yang membongkar praktik di balik layar.
Karena itu, buat kamu yang sudah punya atau berencana membeli kacamata pintar, ada baiknya untuk lebih berhati-hati. Gunakan perangkat ini untuk merekam video hanya jika benar-benar diperlukan. Hindari merekam momen pribadi yang sensitif, karena kamu nggak pernah tahu siapa saja yang akan melihatnya nanti. Ingat, rekaman itu bisa melampaui batas ruang pribadi dan dilihat oleh mata manusia lain di belahan dunia yang berbeda.
Masa Depan yang Semakin Padat, Risiko yang Semakin Nyata
Peringatan ini semakin relevan mengingat popularitas kacamata pintar terus melonjak. Di ajang CES 2026 di Las Vegas saja, sekitar 60 perusahaan memamerkan berbagai produk kacamata pintar. Tren ini menunjukkan bahwa teknologi ini akan semakin mengisi keseharian kita. Bahkan, menurut perusahaan kacamata raksasa EssilorLuxottica (produsen Ray-Ban Meta), penjualan kacamata AI pada 2025 sudah menembus lebih dari tujuh juta unit. Angka ini melonjak tajam dibanding total dua juta unit pada 2023 dan 2024.
Jadi, selagi kita menikmati kecanggihan teknologi, kita juga harus sadar akan risiko yang mengintai. Jangan sampai kacamata pintar yang kita pakai justru menjadi “mata-mata” yang membocorkan privasi kita sendiri. Tetap pintar menggunakan teknologi, ya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










