Olympic.or.id – Sobat teknologi, pernahkah Anda membayangkan punya ponsel Android yang justru berfungsi sebagai mata-mata pemerintah? Faktanya, ini bukan adegan film, melainkan realitas sehari-hari di Korea Utara! Ponsel Android dari negara tertutup itu sama sekali bukan perangkat komunikasi biasa. Alih-alih, perangkat ini justru lebih mirip alat pengawasan canggih yang sengaja diciptakan negara untuk mengontrol warganya secara total. Sebagai contoh, pengguna pasti akan langsung ciut nyali jika mengetahui isi dalamnya. Bagaimana tidak, ponsel tersebut ternyata dibenamkan dengan berbagai sensor pembatas dan pengintai. Setidaknya, itulah klaim yang diungkapkan oleh tech reviewer ternama, Arun Maini.

Membongkar Sistem Ponsel yang Tak Biasa
Sebagai bukti, kanal YouTube teknologi populer Mrwhosetheboss baru-baru ini secara mengejutkan berhasil membedah sistem ponsel Android Korea Utara. Arun Maini, sang pemilik kanal, dengan berani menjajal dua unit ponsel yang berhasil diselundupkan keluar dari negara tersebut. Dalam video bertajuk “Testing North Korea’s Illegal Smartphones”, ia menjelaskan bahwa salah satu ponsel yang diuji adalah model kelas bawah bernama Haeyang 710.
Sementara itu, unit satunya lagi merupakan model flagship dengan nama yang terdengar sangat familiar: Samtaesung 8. Meski dari luar tampak seperti ponsel Android pada umumnya, kedua perangkat ini nyatanya jauh dari konsep kepemilikan pribadi. Berdasarkan pengamatannya, Maini dengan tegas menyimpulkan bahwa ponsel Android asal Korea Utara ini lebih layak kita sebut sebagai instrumen pengawasan negara. Kesimpulan mengejutkan ini ia dapatkan setelah menemukan fakta bahwa seluruh sistem operasi ponsel itu dirancang khusus untuk membatasi komunikasi, menyaring informasi, dan—yang paling mengkhawatirkan—memantau setiap aktivitas pengguna tanpa ampun.
Blokir Total Internet dan Aplikasi Global
Nah, salah satu bentuk sensor paling mencolok dari ponsel ini adalah pemblokiran total terhadap akses internet bebas dan aplikasi global. Sebagai ilustrasi, kedua ponsel yang diuji sama sekali tidak bisa menggunakan Wi-Fi secara leluasa. Untuk sekadar terhubung ke jaringan, pengguna harus membuka aplikasi khusus bernama “Mirae” dan memasukkan identitas pribadi mereka terlebih dahulu. Namun, jangan berharap bisa berselancar di dunia maya. Pasalnya, akses yang diberikan hanya mengarah ke intranet tertutup yang isinya cuma situs resmi pemerintah dan konten-konten yang sudah disetujui. Lebih lanjut, aplikasi populer seperti Google, media sosial, hingga aplikasi pesan instan juga sama sekali tidak bisa diakses karena sistem memblokirnya sepenuhnya.
Jadi Corong Propaganda Korea Utara
Selain soal pembatasan internet, sistem operasi (OS) di ponsel ini juga dikontrol dengan sangat ketat. Maini mengungkapkan bahwa OS ponsel Android Korea Utara ini sepertinya menjalankan Android 10 atau 11, yang tergolong sudah cukup lawas. Yang lebih unik lagi, semua aplikasi di dalamnya merupakan tiruan buatan lokal. Beberapa aplikasi utama seperti browser, kalender, kamera, hingga pemutar musik, tidak bisa berfungsi dengan normal. Alih-alih memudahkan, aplikasi-aplikasi tersebut justru seringkali dipakai untuk menampilkan konten propaganda pemerintah. Maini bahkan menemukan fakta bahwa beberapa aplikasi hanya menampilkan informasi seputar pemimpin dan ideologi negara secara terus-menerus.
Sensor Ketat Sampai Level Ketik!
Hebatnya lagi, sensor pada ponsel ini ternyata berlaku sangat keras, bahkan hingga ke level pengetikan! Dalam uji coba yang dilakukan, Maini menunjukkan bahwa kata “Korea Selatan” sama sekali tidak bisa diketik dengan normal. Secara otomatis, sistem akan menggantinya dengan istilah bernada propaganda seperti “negara boneka”, atau menyamarkannya dengan deretan tanda bintang. Tidak hanya itu, istilah gaul modern dan referensi budaya populer dari Korea Selatan juga bisa memicu peringatan dari sistem. Dalam beberapa kasus, teks yang diketik pengguna akan diubah paksa oleh sistem ke versi yang dianggap lebih sesuai dengan ideologi negara.
Fitur Intel yang Memata-matai Pengguna
Selain berbagai pembatasan tadi, ponsel Android Korea Utara ini juga rupanya dilengkapi dengan fitur pengawasan tersembunyi yang siap memata-matai penggunanya. Contohnya, ponsel ini bisa secara diam-diam mengambil tangkapan layar (screenshot) setiap kali pengguna membuka suatu aplikasi. Hasil screenshot tersebut kemudian disimpan rapi di dalam sistem, sehingga aktivitas pengguna bisa ditelusuri kapan saja oleh pihak berwenang. Temuan ini sendiri sejalan dengan laporan BBC beberapa waktu lalu, yang menyebut bahwa ponsel Korea Utara rutin mengambil screenshot setiap beberapa menit sekaligus memblokir kata-kata tertentu yang dianggap terlarang.
Di sisi lain, pembatasan ketat juga berlaku untuk berbagi foto, pengiriman file, hingga penggunaan Bluetooth. Sistem akan menandai file yang berasal dari luar ekosistem resmi dan berpotensi menghapusnya secara otomatis. Sementara itu, untuk memasang aplikasi baru, pengguna diharuskan datang langsung ke toko resmi dan mendapatkan izin khusus dari pemerintah yang bahkan memiliki batas waktu penggunaan.
Di akhir eksperimennya, Maini menyimpulkan bahwa Korea Utara sama sekali tidak mengenal konsep ponsel pribadi. Seluruh sistem ponsel sengaja mereka rancang agar pengguna tidak bisa berkomunikasi dengan bebas, mengakses informasi dari luar, atau menyimpan data privat tanpa pengawasan negara. Dengan segudang pembatasan dan pengawasan ketat seperti ini, mungkin kita semua berpikir bahwa tidak ada orang yang mau menggunakan ponsel semacam itu.
Namun, siapa sangka, ponsel yang tidak lazim dan mengorbankan privasi ini justru sangat populer di Korea Utara! Faktanya, Samtaesung 8 disebut-sebut menjadi ponsel paling populer di negara tersebut pada tahun 2024 lalu. Selain itu, model lainnya seperti Chongsong 234 dan Chongsong 222 juga memiliki banyak peminat, sebagaimana dilansir oleh Daily North Korea. Lalu, pertanyaannya, apakah Anda sendiri berminat untuk memakainya?
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id









