Olympic.or.id – Bayangkan, dalam sekejap mata, perusahaan Anda kehilangan uang lebih dari Rp17 miliar! Inilah kenyataan pahit yang kini mengintai korporasi di Asia Pasifik. Perusahaan keamanan siber kenamaan, Akamai Technologies, baru saja membuka tabir mengerikan: gelombang serangan terhadap application programming interface (API) yang terhubung dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) sedang melonjak drastis di kawasan ini. Akibatnya, perusahaan-perusahaan di wilayah tersebut harus merogoh kocek sangat dalam, bahkan menembus lebih dari 1 juta dolar AS per satu kali insiden! Bayangkan betapa sakitnya pukulan finansial ini bagi bisnis mereka.

Fakta Mencekam dari Laporan Akamai: 81 Persen Perusahaan Pernah Dibobol!
Temuan mengerikan ini tentu tidak muncul dari ruang hampa. Akamai merilisnya secara resmi dalam laporan bertajuk “API Security Impact Study” edisi APAC. Di dalam studi tersebut, datanya sungguh mencengangkan: sebanyak 81 persen responden mengaku telah mengalami insiden keamanan API yang serius hanya dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Lebih buruk lagi, rata-rata kerugian yang harus mereka tanggung mencapai lebih dari 1 juta dolar AS, atau sekitar Rp17 miliar! Angka ini melonjak sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 580.000 dolar AS. Wah, ini benar-benar darurat siber!

API AI Jadi Incaran Utama: 43 Persen Serangan Paling Sering Terjadi!
Kemudian, Akamai mencatat sebuah pola yang sangat mengkhawatirkan. Ternyata, serangan yang menyasar API yang terhubung dengan teknologi AI—seperti aplikasi AI, agen AI, hingga model bahasa besar (LLM)—kini menjelma menjadi jenis insiden paling umum dan paling berbahaya. Bahkan, sebanyak 43 persen responden secara gamblang menyebut serangan ini sebagai ancaman nomor satu yang paling sering mereka hadapi sehari-hari. Jadi, jika Anda mengira API biasa yang menjadi target, Anda salah besar. Para peretas sekarang lebih doyan membobol fondasi AI!
India dan Singapura Darurat Siber, Jepang Paling Merugi!
Selanjutnya, jika kita memetakan negara mana yang paling parah terdampak, India dan Singapura memuncaki daftar hitam. Di India, tingkat insiden tembus hingga 93 persen, sementara Singapura menyusul dengan 90 persen perusahaan yang terdampak dalam setahun terakhir. Artinya, hampir semua perusahaan di dua negara ini pernah merasakan getaran serangan API! Sementara itu, Jepang mencatatkan rekor paling menyedihkan. Negeri Sakura ini harus menanggung kerugian rata-rata per insiden paling besar, yaitu mencapai 1,59 juta dolar AS. Singapura pun tak kalah merana dengan kerugian 1,33 juta dolar AS per insiden. Mengerikan, bukan?
Ironi Digitalisasi: Adopsi AI Tinggi, Tapi Keamanan API Terlantar!
Lebih ironis lagi, meski adopsi AI meningkat dengan kecepatan super, laporan Akamai justru menyoroti satu fakta memalukan: kesiapan keamanan API masih sangat tertinggal di belakang! Perusahaan-perusahaan sibuk berlomba meluncurkan layanan AI canggih, tetapi fondasi API-nya justru mereka biarkan rapuh. Buktinya, hanya 22 persen responden yang memiliki inventaris API lengkap dan benar-benar mengetahui API mana saja yang mengelola data sensitif. Coba bayangkan, sisanya yang 78 persen beroperasi dalam kegelapan! Kondisi ini menunjukkan kesenjangan yang sangat lebar antara ambisi transformasi digital dan kesiapan pertahanan siber. Perusahaan berlomba-lomba pamer layanan AI, namun API yang menjadi tulang punggungnya semakin sulit dipantau dan diamankan. Wah, ini ibarat membangun rumah mewah dengan pintu yang tak terkunci!
Peringatan Keras Pakar: Bukan Hanya Kerugian Teknis, Tapi Kepercayaan Juga Melayang!
Menghadapi situasi genting ini, Director of Security Technology & Strategy Akamai untuk Asia Pasifik dan Jepang, Reuben Koh, buka suara dengan sangat tegas. Ia menyatakan bahwa lemahnya keamanan API berpotensi menimbulkan dampak yang jauh lebih meluas, tidak hanya dari sisi teknis semata. “Ketika API yang mendukung aplikasi AI terus bertambah jumlahnya dan menjadi blind spot (titik buta), dampaknya bukan hanya sekadar meningkatnya risiko teknis. Ini juga bisa memicu gangguan layanan besar-besaran, biaya pemulihan yang selangit, hingga hilangnya kepercayaan pelanggan secara permanen,” ujar Reuben dalam keterangan resmi yang diterima pada Selasa (19/5/2026). Jadi, kerugian finansial hanyalah puncak gunung es!
Hanya 19 Persen yang Benar-benar Siap? Kesenjangan Manajemen dan Tim Teknis Memprihatinkan!
Selanjutnya, laporan tersebut mengungkap sebuah paradoks yang cukup memprihatinkan. Di satu sisi, 72 persen perusahaan mengaku sudah meningkatkan perhatian terhadap keamanan API. Namun, di sisi lain, fakta di lapangan berbicara lain: hanya 19 persen yang telah mengintegrasikan pengujian keamanan secara penuh dalam seluruh siklus pengembangan perangkat lunak mereka. Artinya, sebagian besar perusahaan masih melakukan pengujian keamanan di akhir pengembangan, atau bahkan tidak sama sekali! Lebih parah lagi, terdeteksi adanya perbedaan pandangan yang tajam antara pihak manajemen dan tim teknis. Sebanyak 56 persen eksekutif tingkat atas merasa sudah sangat siap menghadapi ancaman ini. Namun, hanya 44 persen tim keamanan aplikasi yang memiliki keyakinan serupa. Wah, ini jelas-jelas sinyal alarm yang harus segera dibenahi!
Masalah Kepatuhan: Regulasi Ada, Implementasi Malah Pincang!
Kemudian, dari sisi kepatuhan, ceritanya pun tak kalah memilukan. Memang, sebagian besar perusahaan di APAC telah memasukkan API dalam kebijakan regulasi internal mereka. Namun, implementasinya dinilai masih sangat terbatal dan setengah hati. Buktinya, hanya 63 persen perusahaan yang memasukkan API dalam proses penilaian risiko. Lebih parah lagi, hanya 40 persen yang menyertakan API dalam pelaporan kepatuhan mereka. Artinya, lebih dari separuh perusahaan tidak melaporkan kondisi keamanan API mereka!
Akamai pun menilai bahwa lemahnya visibilitas terhadap API kini bukan lagi sekadar masalah teknis keamanan semata. Ini sudah berkembang menjadi tantangan kepatuhan yang serius di era AI modern. Tanpa pemahaman yang jelas mengenai API apa saja yang digunakan dan data sensitif apa yang dikelola, perusahaan berisiko besar gagal memenuhi tuntutan regulasi yang semakin ketat. Jadi, selain rugi uang, mereka juga bisa kena sanksi hukum!
Rekomendasi Akamai: Jangan Biarkan API Jadi Pintu Belakang Bencana!
Sebagai penutup, Akamai memberikan rekomendasi tegas untuk menyelamatkan perusahaan dari bencana finansial ini. Perusahaan harus segera meningkatkan visibilitas dan tata kelola API secara drastis. Jangan biarkan API berceceran tanpa pengawasan! Selain itu, integrasikan pengujian keamanan sejak awal pengembangan, bukan sekadar tempelan di akhir. Langkah-langkah ini dinilai sangat krusial untuk memastikan sistem AI yang dibangun dapat berjalan secara aman dan andal di tengah badai ancaman siber yang kian menggila. Jadi, tunggu apa lagi? Jangan sampai perusahaan Anda menjadi korban berikutnya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.








