Olympic.or.id – Kabar menggembirakan datang dari dunia teknologi! Google DeepMind bersama Google Research secara resmi memperkenalkan WeatherNext 3, generasi terbaru dari kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk memprediksi kondisi cuaca global. Bayangkan, teknologi ini mampu memberikan gambaran cuaca dengan ketajaman lima kali lebih baik dibanding pendahulunya!
Google dengan lantang mengklaim bahwa WeatherNext 3 merupakan model AI cuaca tercanggih dan terakurat yang pernah mereka ciptakan sepanjang sejarah pengembangan teknologi prediksi cuaca. Klaim berani ini ternyata tidak main-main, sebab didukung oleh hasil evaluasi independen dari Operational WeatherBench yang merupakan leaderboard terpercaya untuk mengukur performa berbagai model cuaca, baik yang berbasis AI maupun yang menggunakan metode konvensional. Saat ini, WeatherNext 3 berhasil menduduki posisi puncak di papan peringkat bergengsi tersebut, mengalahkan pesaing-pesaingnya.
Selama bertahun-tahun, tantangan terbesar dalam dunia meteorologi adalah memprediksi cuaca yang berubah dengan cepat di lokasi spesifik. Menurut tim WeatherNext Google dalam rilis resminya, “Model kami belajar langsung dari observasi real-time.” Pendekatan revolusioner ini memungkinkan model memberikan prediksi yang lebih tepat waktu dan lebih lokal untuk peristiwa cuaca yang paling berdampak bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Terobosan Baru Mengatasi Keterbatasan Model Konvensional
Model prediksi cuaca tradisional selama ini mengandalkan metode bernama numerical weather prediction (NWP) yang memproses data atmosfer dari berbagai sumber seperti satelit, stasiun cuaca, dan balon udara. Data tersebut kemudian dijalankan melalui simulasi fisika kompleks di superkomputer canggih. Namun, model AI cuaca sebelumnya, termasuk WeatherNext 2, masih sangat bergantung pada hasil olahan NWP sebagai bahan pembelajaran mereka. Sayangnya, kata Google, data olahan NWP memiliki jeda sekitar enam jam sebelum bisa dimanfaatkan, sehingga kurang akurat untuk memprediksi cuaca yang berubah secara cepat.
Berbeda dengan pendahulunya, WeatherNext 3 mengambil lompatan besar dengan pendekatan yang sama sekali baru. Model canggih ini secara langsung memasukkan data mentah dari satelit geostasioner, berdampingan dengan data analisis cuaca konvensional. Lebih menarik lagi, model ini juga dilatih langsung dari data stasiun cuaca yang jarang dan tersebar di berbagai lokasi, bukan hanya mengandalkan hasil olahan NWP. Kombinasi inovatif ini memungkinkan WeatherNext 3 menghasilkan prakiraan cuaca global baru setiap jam, sebuah peningkatan dramatis dibanding pendahulunya yang hanya memperbarui prediksi setiap 6 jam sekali dengan rentang 25 kilometer.
Resolusi Lebih Tajam untuk Wilayah Rawan Perubahan Cuaca
Google menyebut bahwa secara keseluruhan, gambaran cuaca dari WeatherNext 3 kini sekitar lima kali lebih tajam dibandingkan WeatherNext 2. Resolusi setinggi ini sangat krusial bagi wilayah-wilayah yang kondisi cuacanya bisa berbeda jauh hanya dalam jarak pendek, seperti kawasan pesisir dan pegunungan. Bayangkan, dalam satu kota yang sama, cuaca di daerah pantai bisa sangat berbeda dengan cuaca di perbukitan hanya beberapa kilometer saja, dan kini AI mampu menangkap perbedaan halus tersebut dengan akurat.
Titik Lemah Mulai Terpecahkan: Prediksi Curah Hujan
Memprediksi hujan dan salju selama ini menjadi titik lemah model cuaca global karena kedua fenomena tersebut dikendalikan oleh proses awan berskala kecil yang bergerak cepat dan sulit disimulasikan lewat fisika murni. Namun, Google berhasil mengatasi tantangan ini dengan melatih WeatherNext 3 menggunakan dua sumber data curah hujan sekaligus. Sumber pertama adalah data satelit IMERG milik Badan Antariksa AS (NASA), sementara sumber kedua adalah data reanalisis curah hujan berbasis radar satelit yang dikembangkan sendiri oleh Google.
Hasilnya sungguh mengesankan! Akurasi model diukur melalui metrik bernama Continuous Ranked Probability Score (CRPS) yang mengukur seberapa dekat sebaran probabilitas prakiraan dengan cuaca yang benar-benar terjadi. Google mengeklaim skor CRPS WeatherNext 3 melonjak hingga 60 persen dibanding data IMERG. Sementara jika dibandingkan dengan data MRMS, skornya naik 30 persen, dan dibandingkan pengukuran langsung alat pengukur hujan di lapangan, kenaikannya mencapai 10 persen untuk prediksi jangka pendek. Secara umum, pengguna yang mengecek prakiraan sehari atau lebih kini bisa mendapatkan prediksi curah hujan hingga 50 persen lebih akurat!
Dampak Positif untuk Wilayah yang Selama Ini Terabaikan
Kabar baiknya, Google menegaskan bahwa wilayah Asia-Pasifik, Afrika, dan Amerika Latin selama ini kurang mendapat prakiraan cuaca beresolusi tinggi karena biaya superkomputer untuk menjalankan model fisika konvensional di wilayah-wilayah tersebut sangat mahal. Dengan kehadiran WeatherNext 3, Google mengklaim prakiraan cuaca beresolusi tinggi kini bisa menjangkau miliaran orang dan pelaku usaha lokal di kawasan tersebut. Ini bukan sekadar teknologi, melainkan sebuah langkah demokratisasi akses informasi cuaca yang selama ini menjadi hak istimewa negara-negara maju.
Mulai Kamis (3/9/2026), WeatherNext 3 secara resmi menggantikan model cuaca sebelumnya di berbagai platform Google, termasuk Google Search, aplikasi Gemini, Google Maps, Google Maps Platform Weather API, dan Google Earth Engine. Para peneliti dan pengembang juga bisa mengakses data prakiraan resolusi tinggi ini lewat BigQuery dan Earth Engine, atau mengunduhnya langsung dari Google Cloud Storage, tanpa perlu membangun model sendiri dari nol. Namun demikian, meski mengklaim tingkat akurasi yang tinggi, Google tetap mengarahkan pengguna untuk memakai lembaga meteorologi resmi atau layanan cuaca nasional setempat sebagai rujukan prakiraan resmi, peringatan cuaca ekstrem, dan imbauan keselamatan publik.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









