Olympic.or.id – Perusahaan teknologi Xiaomi memperkenalkan alat kecerdasan buatan bernama Xiaomi MiClaw. Alat ini dirancang untuk mengubah smartphone menjadi asisten AI yang otonom, mampu menjalankan tugas di berbagai fitur maupun aplikasi. Bukan sekadar chatbot yang mampu menjawab pertanyaan atau menghasilkan teks. Menurut perusahaan asal China itu, MiClaw dibangun di atas model AI MiMo yang dikembangkan Xiaomi secara independen. Alat ini didesain mampu menafsirkan niat pengguna dan menyelesaikan tugas dengan berinteraksi bersama alat lainnya yang tersedia di ponsel.

MiClaw memerlukan izin dari pengguna sebelum beraksi. Setelah diberi izin, AI ini akan mampu mengakses layanan pihak ketiga yang didukung untuk menjalankan perintah. Sederhananya, AI ini mampu memilih alat mana yang akan digunakan dan memutuskan cara untuk menyelesaikan tugas secara mandiri. Lantas bagaimana mekanisme MiClaw hingga memiliki kemampuan secanggih itu?
Pengguna tidak perlu lagi membuka aplikasi satu per satu. Cukup berikan perintah suara atau teks, maka MiClaw langsung bergerak. Ia akan menyusuri setiap sudut ponsel, membuka aplikasi, mengisi formulir, hingga menyelesaikan transaksi. Semua terjadi tanpa campur tangan jari Anda. Bayangkan Anda ingin memesan tiket bioskop untuk malam nanti. Biasanya Anda harus membuka aplikasi, memilih film, memilih kursi, lalu membayar. Dengan MiClaw, Anda cukup bilang “Pesenin tiket film terbaru jam 7 malam di bioskop deket rumah, kursi yang enak ya.” Sisanya? Biarkan AI ini bekerja.
Makin Dipakai, Makin Paham Kebiasaan Anda
Menurut Xiaomi, inference-execution loop merupakan inti dari sistem yang melengkapi MiClaw. Sistem ini membuat MiClaw menganalisis permintaan, kemudian memilih alat dan parameter, mengeksekusi tindakan, meninjau hasilnya dan melanjutkan prosesnya hingga selesai. Setiap langkahnya diklaim dilakukan tanpa memblokir proses lain di ponsel. Anda tetap bisa membuka aplikasi lain atau menerima telepon saat MiClaw bekerja di latar belakang.
MiClaw juga dibekali sistem memori yang didesain membantu AI belajar dari penggunaan berulang. Jadi, semakin sering dipakai, MiClaw akan semakin memahami pengguna khususnya saat mengerjakan tugas lanjutan, tanpa perlu di-briefing sedari awal lagi. Contohnya, jika Anda sering memesan kopi setiap pagi, MiClaw akan hafal jenis kopi favorit Anda. Cukup bilang “Pesen kopi kayak biasa,” maka ia akan langsung memesan Americano dengan gula setengah dari kedai langganan Anda. Ia bahkan tahu metode pembayaran yang biasa Anda pakai.
Alat AI ini nantinya juga bisa dihubungkan ke ekosistem Xiaomi berkat integrasi dengan platform Mi Home. Dengan begitu, MiClaw dapat membaca status aneka perangkat smart home hingga memberikan perintah. Saat Anda bilang “Aku mau tidur,” MiClaw tidak hanya menjawab “Selamat tidur.” Ia akan mematikan lampu ruang tamu, menurunkan suhu AC, mengunci pintu depan, dan memastikan semua perangkat elektronik dalam keadaan standby. Semua terjadi dalam hitungan detik tanpa Anda harus menyentuh satu tombol pun.
Lebih dari itu, sistem di MiClaw turut mendukung Model Context Protocol (MCP), yaitu standar terbuka yang dapat mengintegrasikan alat AI. Dengan dukungan ini, pengembang dapat mengintegrasikan layanannya bersama MiClaw. Artinya, aplikasi bank, e-commerce, media sosial, hingga aplikasi produktivitas bisa “dikendalikan” oleh AI ini. Ekosistemnya akan semakin luas dan memudahkan pengguna dalam berbagai aspek kehidupan digital.
Masih Tahap Eksperimen, Jangan Pasang di HP Utama!
Terlepas dari berbagai fitur itu, MiClaw masih dalam tahap eksperimen dan tersedia secara terbatas. Alat AI ini dirilis dalam versi beta tertutup, dan hanya bisa digunakan oleh penguji yang dapat undangan. Xiaomi sengaja membatasi jumlah penguji awal untuk memastikan sistem berjalan stabil dan mengumpulkan masukan yang berarti sebelum peluncuran massal.
Karena masih uji coba, Xiaomi menyarankan penguji untuk tidak menginstal MiClaw di smartphone utama. Risiko gangguan sistem masih cukup tinggi mengingat teknologi ini tergolong baru dan kompleks. Xiaomi merekomendasikan untuk melakukan backup data sebelum menginstalnya. Langkah pencegahan ini diambil agar pengguna tidak kehilangan data berharga jika terjadi kesalahan saat uji coba.
Pada saat yang sama, Xiaomi masih berupaya meningkatkan konsistensi, konsumsi daya, hingga tingkat keberhasilan untuk tugas-tugas yang rumit dan operasi yang belum berhasil. Tim pengembang terus bekerja keras menyempurnakan algoritma agar MiClaw dapat menjalankan perintah dengan akurat meskipun dalam kondisi jaringan yang kurang stabil atau saat menghadapi aplikasi dengan antarmuka yang kompleks.
Untuk saat ini MiClaw baru mendukung beberapa model ponsel saja, termasuk Xiaomi 17, Xiaomi 17 Pro, Xiaomi 17 Pro Max, Xiaomi 17 Ultra, dan Xiaomi 17 Ultra Leica Edition. Pemilihan model ini didasarkan pada spesifikasi hardware yang mumpuni untuk menjalankan AI canggih ini. Ponsel-ponsel tersebut memiliki prosesor khusus yang dirancang untuk komputasi AI, memori yang besar, serta sistem manajemen daya yang mampu mendukung operasi MiClaw secara optimal. Bagi pengguna seri lain, Anda harus bersabar menunggu perluasan dukungan di masa mendatang.
Privasi Terjaga, Data Tak Akan Dipakai Sembarangan
Xiaomi menegaskan bahwa data pengguna saat berinteraksi dengan MiClaw tidak akan dipakai untuk melatih model AI-nya. Sebab, menurut Xiaomi, pelatihan model bergantung pada kumpulan data yang tersedia untuk umum atau telah diotorisasi. Perusahaan ini berkomitmen menjaga privasi pengguna di tengah maraknya kekhawatiran tentang penyalahgunaan data pribadi oleh perusahaan teknologi besar.
Adapun data interaksi yang bersifat pribadi, diklaim hanya dipakai untuk memproses perintah real-time. Data pribadi juga diklaim diproses secara lokal di perangkat menggunakan teknologi edge-cloud privacy computing, dihimpun dari Gizmochina. Teknologi ini memastikan data sensitif seperti riwayat percakapan, preferensi pribadi, atau informasi keuangan tidak meninggalkan perangkat Anda. Hanya perintah yang sudah dianonimkan yang terkirim ke cloud untuk keperluan peningkatan layanan secara umum.
Langkah ini diambil Xiaomi untuk membangun kepercayaan pengguna. Mereka sadar bahwa kecanggihan AI harus diimbangi dengan jaminan keamanan. Tanpa privasi yang terjamin, pengguna akan ragu memanfaatkan fitur canggih seperti MiClaw. Dengan arsitektur yang memprioritaskan pemrosesan lokal, Xiaomi berharap pengguna merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan AI ini setiap hari.
Ke depannya, Xiaomi berencana membuka akses lebih luas untuk MiClaw setelah fase pengujian selesai. Mereka akan terus memperbaiki bug, meningkatkan performa, dan menambah dukungan untuk lebih banyak model ponsel. Pengguna bisa berharap bahwa dalam waktu dekat, asisten cerdas ini akan tersedia secara umum dan bisa dinikmati oleh lebih banyak orang.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










