Jakarta, Olympic.or.id – Februari lalu, FBI bikin geger publik Amerika. Mereka nekat meminta Apple membobol iPhone milik terduga teroris penembakan di San Bernardino. Namun dengan tegas, Apple langsung menolak permintaan itu. Bayangkan, perusahaan sekelas Apple pun ogah-ogahan membantu biro investigasi paling disegani di dunia! Satu bulan berselang, FBI tiba-tiba mengumumkan kabar mengejutkan. Mereka mengklaim telah berhasil menembus pertahanan iPhone tersebut. Lalu siapa dalang di balik keberhasilan ini? FBI hanya menyebut “pihak ketiga” tanpa mau mengungkap identitasnya. Namun kabar ini langsung memicu spekulasi liar di kalangan teknologi. Banyak pihak meyakini bahwa pihak misterius itu tak lain adalah Cellebrite – perusahaan asal Israel yang memang spesialis jebol-membobol smartphone secara komersial.
Klaim Gila: “Kami Bisa Akses SEMUA Data di Ponsel!”
Dalam wawancara eksklusif dengan BBC pada Selasa (29/11/2016), Cellebrite melontarkan pernyataan bombastis. Mereka mengklaim sanggup menembus tembok pertahanan berbagai smartphone modern tanpa terkecuali.
“Kami bisa mengakses semua data yang ada di ponsel,” ujar Yuval Ben Moshe, VP Business Development of Forensics Cellebrite, sambil mendemonstrasikan kemampuan alat ajaib buatan perusahaannya.
Moshe menggunakan Galaxy S5 dengan Android versi 4.2 untuk demo tersebut. Ponsel itu sudah terkunci dengan fingerprint lock dan PIN. Namun dengan tenang, Moshe menyambungkan perangkat ke alat khusus berbentuk tablet. Dalam sekejap, sistem keamanan ponsel itu jebol total!
Lebih gilanya lagi, Moshe mengklaim perusahaannya juga mampu membobol perangkat dengan sistem operasi terbaru. Mereka bahkan bisa membuka data percakapan dari berbagai aplikasi pesan instan. Bayangkan, chat WhatsApp, Line, atau Telegram Anda pun bisa mereka akses!
Awal Mula: Dari Pemindah Data Jadi “Tukang Bobol”
Siapa sebenarnya Cellebrite? Mari kita telusuri sejarahnya. Perusahaan ini dimiliki oleh Sun Corporation dan berbasis di Petah Tikva, Israel. Firma forensik data ini memang spesialis dalam perolehan data, transfer data, dan analisis ponsel serta perangkat mobile.
Selama bertahun-tahun, FBI mengandalkan jasa Cellebrite untuk membobol ponsel milik tersangka kasus kejahatan. Hubungan mereka sudah sangat lama dan intensif.
Tahukah Anda? Cellebrite awalnya tidak bergerak di bidang pembobolan! Perusahaan yang berdiri pada 1999 ini memulai bisnis dengan menawarkan jasa transfer data antar ponsel. Layanan ini sangat dibutuhkan oleh para retailer mobile saat pelanggan melakukan upgrade dari ponsel lama ke ponsel baru.
Motorola, Nokia, dan Verizon termasuk nama-nama besar yang menjadi pelanggan setia Cellebrite. Mereka menggunakan layanan perusahaan ini untuk mengekstrak data dari ponsel rusak dan memindahkannya ke perangkat baru.
Seiring waktu, Cellebrite mengembangkan keahliannya. Mereka mulai menawarkan tool untuk melewati sistem keamanan dan mengambil data ponsel bagi “forensik dan penegak hukum”. Sebuah lompatan bisnis yang cerdik!
Pada awal 2007, saat pertama kali memasarkan tool buatannya, Cellbrite mengklaim bisa membobol “lebih dari 1.000 model perangkat” termasuk berbagai ponsel dan PDA.
Mempercepat Penyelidikan dengan Alat Canggih
Cellebrite kini memosisikan diri sebagai penyedia “solusi” pembobolan perangkat. Target utama mereka adalah polisi, terutama ketika vendor seperti Apple menolak bekerja sama.
“Provider yang tidak kooperatif, proses hukum yang bertele-tele, mempersulit perolehan data privat dan yang berbasis di cloud,” sebut Cellebrite dalam brosur layanannya. “Solusi kami membantu pengungkapan fakta yang diperlukan untuk mempercepat proses investigasi.”
Alat andalan mereka bernama Universal Forensics Extraction Device (UFED) Touch. Perangkat berbentuk tablet inilah yang digunakan Moshe saat demo bersama BBC. Harga alat ini fantastis – lebih dari 10.000 dollar AS atau sekitar 130 juta rupiah!
Lalu bagaimana cara kerja UFED? Sayangnya, rahasia teknisnya tidak banyak diungkap. Yang jelas, alat ini bisa membombardir ponsel dengan ribuan kombinasi password untuk membuka kunci. UFED juga dilengkapi graphical user interface (GUI) dan layar sentuh sehingga sangat user-friendly.
“Ada beberapa tombol yang mesti ditekan untuk mengidentifikasi jenis ponsel dan mematikan kunci perangkat,” kata Moshe saat mendemonstrasikan kemampuan UFED.
Hebatnya lagi, UFED bersifat ringkas dan mudah dibawa-bawa. Petugas polisi bahkan bisa menyimpannya di dalam mobil patroli! Perangkat canggih ini diklaim mampu membobol lebih dari 8.000 jenis perangkat elektronik.
Sebuah dokumen pemerintah yang didapatkan CNN menyebutkan fakta mengejutkan. FBI telah menandatangani kontrak penyediaan UFED dengan Cellebrite sebanyak 187 kali dalam kurun waktu 7 tahun! Jumlah yang sangat fantastis.
Kena Batara di iPhone: Ketika Apple Meningkatkan Keamanan
UFED Cellbrite sebelumnya bekerja efektif untuk para detektif dan penegak hukum AS. Password atau PIN tak mampu membendung serbuan alat ini.
Namun semuanya berubah saat Apple meningkatkan sekuriti iPhone pada 2014. Mereka memperkenalkan enkripsi jenis baru yang terkait dengan passcode pada sistem operasi iOS 8. Tujuannya mulia: meningkatkan privasi pengguna, termasuk dari endusan pemerintah.
Bahkan Apple dengan sengaja membuat diri mereka sendiri tak mampu melewati kunci pengaman pada produknya! Sebuah langkah revolusioner yang mengundang kontroversi.
“Berbeda dari kompetitor, Apple tak bisa melewati passcode dan mengakses data (di dalam perangkat),” sebut Apple di situs resminya. “Jadi, secara teknis kami tak bisa memenuhi permintaan dari pemerintah untuk mengakses data pengguna.”
Apple juga menambahkan fitur pengaman ekstra. Pengguna bisa mengaktifkan setting yang otomatis menghapus data iPhone apabila PIN salah dimasukkan sebanyak 10 kali. Akibatnya, para penyidik FBI dalam kasus penembakan San Bernardino pun mati langkah.
FBI sempat menempuh jalur hukum untuk mendesak Apple membuat “backdoor”. Namun upaya ini tak membuahkan hasil. Malahan, perusahaan teknologi lain seperti Facebook ikut mendukung sikap Apple. FBI mendapat pertentangan keras dari berbagai pihak.
Misteri Pihak Ketiga: Cellebrite atau Grey Hacker?
Karena frustrasi, FBI memutuskan meminta tolong kepada pihak ketiga. Namun hingga sekarang, identitas “pihak ketiga” ini masih menjadi teka-teki. Bisa jadi itu Cellebrite yang sudah jadi langganan, bisa juga bukan.
Washington Post mempublikasikan dugaan menarik. FBI kemungkinan mendapat bantuan dari “grey hacker” – peretas yang menemukan celah keamanan lalu menjualnya ke pemerintah. Mereka sengaja tidak melaporkan kelemahan tersebut ke vendor agar tidak diperbaiki.
Direktur FBI, James Comey, pernah mengungkapkan fakta mengejutkan. Pihaknya membayar sejumlah besar uang untuk memperoleh “kunci” pembobol iPhone San Bernardino. Besarnya duit yang disetor melebihi total gajinya di FBI dalam sisa masa jabatan selama 7 tahun – sekitar 1,34 juta dollar AS atau lebih dari 19 miliar rupiah!
Bisa Bobol iPhone 7? Cellebrite Mengaku Mampu!
Comey mengatakan bahwa “kunci” yang diperoleh FBI hanya bisa dipakai untuk membobol iPhone model tertentu. Spesifiknya, iPhone 5C dengan sistem operasi iOS 9 yang dipakai tersangka teroris San Bernardino.
Apple sempat penasaran berat. Mereka ingin tahu cara FBI membobol perangkat tersebut karena khawatir cara itu bisa dipakai untuk meretas jutaan iPhone lain. Namun FBI dengan tegas menolak mengungkapkannya.
“Orang-orang yang menjual (tool) ini pun, saya tahu mereka, dan saya percaya mereka akan melindungi (cara membobol iPhone), dan motivasi mereka sejalan dengan kami,” kata Comey.
Hingga kini, identitas pihak ketiga yang membantu FBI menjebol iPhone tetap menjadi misteri. Cara melakukannya pun masih diselimuti kabut tebal.
Namun satu hal yang pasti: Cellebrite masih menjadi kandidat terkuat. Terlebih, dalam wawancara dengan BBC, Moshe mengaku perusahaannya mampu menjebol segala jenis ponsel Android dan iPhone. Termasuk model-model terbaru sekalipun!
“Kami bisa mengambil data dari iPhone 7 juga. Pertanyaannya adalah data yang mana, situasinya seperti apa,” ujar Moshe dengan percaya diri.
Sayangnya, dia menolak mengungkapkan siapa saja pihak-pihak yang menjadi pelanggan Cellebrite. Rahasia dagang tampaknya tetap terjaga rapat. Satu hal yang jelas – di era digital yang penuh ancaman ini, privasi kita mungkin tidak seaman yang kita bayangkan!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










