olympic.or.id — Hei, sobat digital! Bayangin aja, lagi asyik scroll TikTok atau Instagram, tiba-tiba konten favoritmu soal kesehatan atau hukum hilang gara-gara pembuatnya nggak punya ‘lisensi’ resmi. Kedengarannya seperti plot film distopia, ya? Nah, ini bukan fiksi, tapi kenyataan baru di China yang lagi bikin heboh. Dan kabarnya, pemerintah Indonesia lagi serius ngebahas kemungkinan ikut-ikutan. Penasaran? Yuk, kita kupas tuntas!
Baru-baru ini, pemerintah China nge-drop aturan super ketat buat para influencer dan content creator. Mulai 10 Oktober 2025, mereka wajib punya ijazah atau sertifikasi akademik sebelum bisa bahas topik-topik ‘serius’ seperti kedokteran, hukum, keuangan, pendidikan, dan kesehatan. Alasannya? Biar nggak ada lagi info salah atau hoaks yang nyebar kayak virus di dunia maya. Platform seperti Douyin (versi China-nya TikTok), Bilibili, dan Weibo sekarang harus verifikasi dulu kualifikasi si pembuat konten sebelum postingan mereka tayang. Kalau melanggar? Siap-siap kena denda sampe 100.000 yuan – itu sekitar Rp230 juta, loh! Atau lebih parah, akun langsung ditutup. Ini bagian dari kampanye besar China buat jaga kualitas info online, terutama di sektor yang rawan salah paham.

Nah, berita ini langsung nyantol di radar Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) Indonesia. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemkomdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, bilang kalau timnya lagi asyik diskusi internal soal ini. “Informasi ini masih fresh banget, kami lagi kaji dulu. Bahkan di grup WA kami lagi rame bahas, ‘Eh, ada negara yang keluarin kebijakan baru nih, gimana ya?'” cerita Bonifasius santai saat ditemui di kantornya di Jakarta Pusat, Jumat lalu.

Bonifasius jelasin kalau Kemkomdigi emang hobi pantau kebijakan digital dari negara lain. Misalnya, mereka belajar dari Australia yang batasi akses medsos buat anak di bawah umur. Hasilnya? Indonesia nerbitin Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, atau yang biasa disebut PP Tunas. “Kita selalu liat-liat best practice dari luar, tapi disesuaikan sama kondisi kita,” tambahnya.
Kenapa sih Indonesia tertarik kaji aturan ini? Intinya, buat cegah misinformasi tanpa bikin orang kehilangan kebebasan berekspresi. Di era sekarang, konten creator lagi meledak jumlahnya. Dari remaja yang bikin tutorial makeup sampe tante-tante yang bagi tips parenting, semuanya bisa viral dalam sekejap. Tapi, kalau kontennya salah atau misleading, bisa bahaya banget, apalagi soal kesehatan atau keuangan. “Kita perlu jaga ekosistem digital, tapi jangan sampe kelewat ketat. Kompetensi itu penting, biar nggak ada yang bikin konten asal-asalan,” ujar Bonifasius.
Tapi tenang dulu, guys! Pemerintah belum mutusin apa-apa. Masih tahap analisis dan diskusi. Bonifasius tegas bilang kalau mereka bakal dengerin masukan dari semua pihak – mulai dari influencer, masyarakat sipil, sampe pakar digital. “Kita harus open ear. Kalau emang perlu diterapin, oke, tapi gimana bentuknya? Harus ada level-levelnya, kan? Siapa aja yang disasar? Soalnya sekarang content creator itu banyak banget, dari yang pro sampe amatir,” katanya.
Bayangin kalau aturan serupa diterapin di Indonesia. Influencer yang biasa bahas investasi saham harus punya sertifikat keuangan dulu? Atau dokter palsu yang kasih saran obat-obatan bakal langsung di-block? Pasti bakal bikin dunia digital lebih aman, tapi juga bisa bikin ribet buat yang baru mulai. Di sisi lain, ini bisa dorong content creator buat upgrade skill mereka. Misalnya, ikut kursus online atau dapat sertifikasi resmi. Bisa jadi peluang baru, kan?
Ngomongin konteks lebih luas, tren regulasi digital lagi naik daun di seluruh dunia. Di Eropa, ada GDPR yang ketat soal data privasi. Di AS, lagi rame bahas Section 230 yang lindungi platform dari tanggung jawab konten user. China, dengan populasi internet terbesar, emang sering jadi pionir – atau kontroversial, tergantung sudut pandang. Mereka punya Great Firewall yang blokir situs luar, dan sekarang tambah aturan ini buat jaga ‘integritas informasi’. Bagi Indonesia, yang punya lebih dari 200 juta user internet, ini bisa jadi inspirasi buat bikin regulasi yang lebih matang.
Tapi, ada tantangannya juga. Gimana ngecek sertifikasi secara akurat? Platform seperti Instagram atau YouTube di Indonesia harus ikut verifikasi? Dan yang paling penting, jangan sampe aturan ini jadi alat buat sensor konten kritis. Bonifasius sendiri ngaku kalau pemerintah lagi hati-hati banget. “Kita nggak mau mengekang kebebasan. Tujuannya cuma cegah konten salah yang bisa bikin orang rugi.”
Sementara itu, komunitas influencer di Indonesia lagi mulai rame bahas ini. Beberapa bilang ini bagus buat tingkatkan kredibilitas, tapi yang lain khawatir bakal bikin barrier entry yang tinggi. Misalnya, influencer muda yang belajar otodidak soal pendidikan bisa kesulitan. Atau yang bahas hukum dari pengalaman pribadi, harus punya gelar sarjana hukum dulu?
Buat kalian yang penasaran, pantau terus update dari Kemkomdigi. Mungkin sebentar lagi ada dialog publik atau hearing dengan DPR. Siapa tahu, ini bakal jadi babak baru buat dunia konten kreator di Tanah Air. Yang jelas, era di mana siapa aja bisa jadi ‘pakar’ online lagi diuji. Kamu tim pro atau kontra aturan ini? Share di komentar yuk!
kunjungi laman berita terkini di Exposenews.id










