olympic.or.id — Hei, sobat digital! Di era di mana segalanya serba online, mulai dari belanja sampai transfer uang, ternyata ada musuh tak terlihat yang lagi naik daun: penipuan digital atau scam. Bayangin aja, dulu cuma SMS palsu atau pesan spam, sekarang malah penipuan pakai kecerdasan buatan (AI) buat nyamar suara atau wajah orang terdekat. Gila, kan? Nah, baru-baru ini, pejabat dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) angkat bicara soal ini, dan katanya, ini bukan lagi masalah kecil-kecilan. Ini udah jadi industri besar yang bikin pelakunya kaya raya, sementara korban nangis bombay.

Mediodecci Lustarini, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital di Komdigi, bilang kalau scam sekarang bukan cuma gara-gara orang kurang paham teknologi. “Ini udah evolusi jadi bisnis teknologi yang untungnya gede banget, dan modusnya terus berkembang,” ujarnya saat peluncuran laporan “GASA State of Scams 2025 Indonesia Report” di Jakarta kemarin. Acara ini jadi momen penting buat bahas bagaimana Indonesia harus bersatu lawan ancaman ini. Bukan lagi tugas satu lembaga doang, tapi butuh kolaborasi super ketat antar instansi.

Menurut Mediodecci, penanganan scam gak bisa sectoral alias sendirian. Harus ada koordinasi erat sama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), platform digital kayak aplikasi chatting atau e-commerce, sampe operator seluler. Komdigi sendiri lagi aktif banget di Satgas PASTI dan Indonesia Anti-Scam Center (IASC), yang anggotanya dari berbagai pihak. Di sini, mereka saling update data, bagi info intelijen, dan selarasin strategi pencegahan. “Kami dukung penuh inisiatif seperti flagging pesan anti-scam via SMS atau platform, plus layanan cek rekening dan aduan nomor buat masyarakat,” tambahnya.

Yang bikin menarik, Mediodecci tekanin kalau pencegahan harus jadi prioritas nomor satu. Bukan cuma blokir dana setelah kejadian, tapi cegah sebelum terjadi. Komdigi lagi kembangkan integrasi layanan aduan, biar masyarakat bisa dapet notifikasi otomatis kalau nomor atau rekening yang dituju pernah dilaporin terkait scam. Bayangin, lagi mau transfer duit, tiba-tiba muncul warning: “Hati-hati, ini indikasi penipuan!” Itu bisa selamatin banyak orang dari jebakan, kan? Harapannya, sinergi antar lembaga ini cepet terwujud buat lindungin publik di dunia maya.
Di acara yang sama, ada juga Rozidyanti dari Bank Indonesia (BI), yang jabatannya Penasihat Departemen Surveilans Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen. Dia bilang, di tengah inovasi pembayaran digital yang lagi booming, perlindungan konsumen harus dijaga bareng-bareng sama penyedia jasa pembayaran (PJP). “Kepercayaan masyarakat ke sistem keuangan harus tetep utuh,” katanya. Jadi, kalau ada masalah, yang pertama dituju ya PJP itu sendiri. Mereka jadi benteng pertama, karena BI awasin langsung gimana mereka tangani keluhan konsumen.
Rozidyanti jelasin, BI nilai kinerja PJP dari segi integritas, interkoneksi, kapabilitas, manajemen risiko, sampe kualitas infrastruktur. Kalau penyelesaian gak kelar di PJP, BI bakal fasilitasi dan koordinasi sama asosiasi terkait. Tapi, dia imbau konsumen buat lapor dulu ke PJP sebelum ke BI, biar prosesnya cepet dan gak ribet. “Kami punya jalur khusus buat respon aduan,” ungkapnya.
Ini semua mengingatkan kita kalau scam digital bukan lagi isu sepele. Dari data laporan GASA, scam di Indonesia makin canggih, apalagi dengan AI yang bisa palsuin identitas. Misalnya, ada penipu yang pakai deepfake buat nyamar jadi keluarga atau temen, minta duit mendadak. Atau, phishing via email yang keliatan resmi banget. OJK sendiri udah tekankan pentingnya lapor cepet buat atasi ini, dan mereka klaim udah selamatin duit Rp376,8 miliar dari penipuan. Keren, kan? Tapi, ini cuma bukti kalau masalahnya serius.
kunjungi laman berita terkini di Exposenews.id
Selain itu, ada inisiatif dari swasta juga. Indosat, misalnya, baru luncurkan fitur anti-penipuan berbasis AI. Fitur ini bisa deteksi pesan mencurigakan sebelum nyampe ke pengguna. OJK juga perkuat perlindungan lewat IASC, dan ancam pidana 10 tahun buat aktivitas keuangan ilegal. Jadi, pemerintah gak main-main.
Tapi, sobat, jangan cuma andelin lembaga doang. Kita sebagai pengguna harus pintar sendiri. Pertama, selalu cek ulang sebelum transfer atau klik link. Kedua, pakai fitur verifikasi dua langkah di akun-akun penting. Ketiga, kalau ragu, langsung lapor ke layanan aduan seperti yang disebut Komdigi. Dan yang paling penting, edukasi diri dan keluarga soal bahaya scam.
Di akhir acara, Mediodecci berharap kolaborasi ini bisa bikin ruang digital lebih aman. “Bayangkan kalau semua terintegrasi, kita bisa selamatin banyak orang dari kerugian,” katanya. Rozidyanti tambahin, perlindungan konsumen adalah tanggung jawab bersama, biar inovasi digital tetep maju tanpa takut.
Jadi, gimana nih? Udah siap lawan penipu online yang makin pintar? Yuk, mulai dari sekarang, jaga-jaga biar gak jadi korban selanjutnya. Kalau ada pengalaman scam, share di kolom komentar olympic.or.id, siapa tau bisa bantu orang lain. Tetep waspada, ya!










