Olympic.or.id – Konflik geopolitik ternyata tidak hanya berkecamuk di darat. Kini, angkasa pun ikut memanas! Pejabat keamanan Uni Eropa baru-baru ini membuka suara, mereka yakin dua kendaraan luar angkasa milik Rusia sudah mencegat komunikasi dari setidaknya belasan satelit yang melayang di atas Eropa. Bukan sekadar memata-matai, aksi ini bahkan bisa memicu tabrakan di orbit!

Apa yang terjadi selanjutnya? Jelas, risiko kebocoran data sensitif bukan satu-satunya mimpi buruk. Lebih mengerikan lagi, Rusia diduga kuat bisa mengubah jalur orbit satelit-satelit tersebut, atau skenario terburuknya, menabrakkannya satu per satu. Ini bukan film fiksi ilmiah. Ini nyata.
Manuver Membuntuti di Orbit Geostasioner
Tim keamanan Eropa mengungkapkan, selama tiga tahun terakhir, dua satelit Rusia bernama Luch-1 dan Luch-2 makin sering membuntuti satelit-satelit Eropa. Mereka tidak sekadar lewat. Mereka konsisten mendekat, mengikuti, dan terus mengamati. Otoritas militer dan sipil Barat pun tak tinggal diam. Mereka terus memantau gerak-gerik Luch yang penuh teka-teki itu.
Semua ini terjadi di tengah ketegangan yang sudah memuncak antara Rusia dan Barat, terutama setelah invasi penuh Rusia ke Ukraina. Jadi, tidak heran jika kecurigaan langsung mengarah ke Moskow.
Pernah suatu ketika, kedua satelit ini melesat sangat dekat, sampai batas yang sangat berisiko, ke sejumlah satelit geostasioner paling vital milik Eropa. Satelit-satelit itu tidak main-main fungsinya. Mereka digunakan untuk siaran TV, komunikasi data, dan layanan publik yang melayani seluruh Eropa, termasuk Inggris. Artinya, aktivitas sehari-hari miliaran orang bergantung pada keamanan satelit-satelit ini.
Data orbit dan pengamatan teleskop dari Bumi memperlihatkan pola yang sama, Luch kerap numpang tinggal di dekat satelit lain selama berminggu-minggu. Parahnya, sejak diluncurkan pada tahun 2023, Luch-2 tercatat sudah mendekati 17 satelit Eropa. Bayangkan, satu satelit mata-mata bisa mendekati hampir dua lusin target dalam waktu singkat!
Celah Keamanan di Satelit Lawas
Lalu, apa sebenarnya yang mereka incar? Militer Jerman mencurigai kedua satelit ini menjalankan misi SIGINT, yaitu Signals Intelligence, alias penyadapan sinyal komunikasi elektronik. Caranya? Mereka menyelip masuk ke area yang disebut kerucut sinyal data. Ini adalah wilayah imajiner antara antena di Bumi dan satelit target. Begitu Luch masuk ke dalam kerucut itu, sinyal komunikasi bisa dicegat. Data perintah ke satelit pun bisa direkam.
Untungnya, sebagian data ini terenkripsi. Sayangnya, tidak semua. Pejabat intelijen Eropa mengakui bahwa beberapa data sensitif, terutama perintah pengendali satelit, tidak dalam kondisi terenkripsi. Satelit-satelit lawas kebanyakan diluncurkan sebelum teknologi enkripsi modern tersedia. Jadi, mereka seperti rumah tanpa kunci di kawasan rawan maling. Jika data ini jatuh ke tangan musuh, di masa depan musuh bisa mempelajari cara mengganggu, bahkan menghancurkan satelit.
Skenarionya makin mencekam ketika kita menghubungkan aktivitas ini dengan strategi besar Rusia. Saat ini, Moskow memang gencar meningkatkan hybrid warfare di Eropa. Kita sudah melihat sabotase kabel internet bawah laut, serangan siber, hingga operasi-operasi rahasia. Kini, menurut pejabat intelijen, ruang angkasa menjadi medan tempur berikutnya.
Memang, China dan Amerika juga memiliki teknologi serupa. Namun Rusia dianggap memiliki program mata-mata luar angkasa paling agresif dan paling canggih. Mereka tidak hanya mendekat, mereka juga konsisten dan terorganisir.
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menyebut jaringan satelit sebagai titik Achilles-nya masyarakat modern. Sekali jaringan ini lumpuh, negara bisa kolaps total. Bukan hiperbola. Coba bayangkan, GPS mati, TV satelit padam, komunikasi militer terputus, data pemerintahan menguap. Semua itu bisa terjadi jika satelit-satelit utama berhasil disusupi atau dihancurkan.
Yang lebih mengkhawatirkan, satelit-satelit Eropa yang kerap didekati Luch ternyata tidak hanya melayani keperluan sipil. Sebagian membawa lalu lintas komunikasi pemerintah, bahkan data militer. Jadi, ini bukan sekadar spionase korporat. Ini sudah masuk ranah keamanan nasional.
Skenario Serangan dan Nasib Luch-1
Untungnya, pejabat intelijen Eropa menilai bahwa Luch saat ini belum bisa langsung menghancurkan atau mengganggu satelit. Namun mereka bisa mengumpulkan data penting tentang kelemahan sistem. Data ini kelak bisa dipakai untuk menyerang, baik dari darat maupun dari orbit.
Militer Jerman bahkan menduga Luch sudah menyadap command link, yaitu jalur komunikasi antara pengendali di Bumi dan satelit. Jika data ini sudah mereka kantongi, Rusia bisa menyamar sebagai operator resmi. Mereka bisa mengirim perintah palsu ke satelit. Perintah itu bisa memicu thruster, mesin pendorong kecil yang menjaga posisi orbit satelit. Akibatnya? Satelit bisa melenceng, jatuh ke Bumi, atau melayang tanpa tujuan di angkasa.
Bukan cuma itu. Data intelijen dari Luch juga memungkinkan Rusia melancarkan serangan yang lebih tersamar. Dengan memonitor lalu lintas komunikasi satelit, mereka bisa mengetahui siapa pengguna satelit tersebut dan di mana lokasi antena terminal di Bumi. Informasi ini sangat berguna untuk jamming, mengganggu sinyal darat, atau bahkan meretas sistem dari jarak jauh.
Slingshot Aerospace, perusahaan AS yang memantau objek luar angkasa dengan sensor darat dan kecerdasan buatan, mengonfirmasi pola ini. Luch kerap bermanuver lalu parkir di dekat satelit geostasioner selama berbulan-bulan. Saat ini, Luch-2 sedang nangkring di dekat Intelsat 39, satelit komunikasi raksasa yang melayani Eropa dan Afrika.
Sejak 2023, Luch-2 sudah teridentifikasi mendekati sedikitnya 17 satelit geostasioner di atas Eropa. Mereka tidak pandang bulu, targetnya campuran dari satelit komersial hingga milik pemerintah. Analis dari Aldoria, perusahaan pelacak satelit asal Prancis, menambahkan bahwa Luch kerap mengincar operator yang sama dan sebagian besar berasal dari negara-negara NATO.
Bahkan tanpa membuka isi pesan terenkripsi, kata mereka, Luch tetap bisa memetakan pola penggunaan satelit dan menentukan posisi antena terminal di darat. Ini ibarat seorang mata-mata yang tidak perlu membaca surat, cukup melihat siapa yang mengirim, ke mana tujuannya, dan seberapa sering surat itu dikirim.
Rusia tidak berhenti di Luch. Mereka baru saja meluncurkan dua satelit baru, yaitu Cosmos 2589 dan Cosmos 2590. Keduanya diduga memiliki kemampuan manuver yang mirip dengan Luch. Cosmos 2589 kini diketahui sedang meluncur menuju orbit geostasioner, sekitar 35.000 kilometer di atas Bumi.
Namun kabar menarik datang dari Luch-1. Satelit yang lebih tua ini diduga mulai tidak berfungsi. Pada 30 Januari lalu, teleskop di Bumi menangkap semburan gas keluar dari tubuh satelit itu. Tak lama kemudian, sebagian strukturnya terlihat pecah. Diduga, sistem propulsi, mesin pendorong satelit, mengalami kegagalan. Akibatnya, terjadi fragmentasi. Kini Luch-1 dilaporkan berputar tak terkendali di angkasa. Ironis, pemburu mulai diburu oleh kerusakannya sendiri.
Dari laporan panjang yang dirangkum dari Ars Technica ini, satu hal yang pasti, angkasa bukan lagi tempat yang damai. Orbit yang dulu sunyi kini menjadi medan laga diam-diam. Setiap satelit yang meluncur ke atas bukan hanya membawa misi teknologinya, tapi juga membawa ancaman, kecurigaan, dan masa depan keamanan global.
Jika kita tidak mulai serius menjaga lalu lintas di luar sana, jangan salahkan jika suatu hari kita terbangun dan mendapati dunia benar-benar gelap, karena satelit-satelit kita sudah tidak bisa lagi bicara.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










