Olympic.or.id – Percaya nggak, gara-gara satu foto nggak jelas, uang Rp81 miliar lenyap dalam sekejap? Kejadian nggak masuk akal ini beneran terjadi di Korea Selatan, dan pelakunya adalah institusi pemerintah sendiri. National Tax Service (NTS) alias otoritas pajak Korea Selatan baru saja mengalami mimpi buruk yang nggak akan pernah mereka lupakan. Tanpa sengaja, mereka membocorkan kata sandi dompet kripto sitaan ke publik. Akibatnya? Aset kripto senilai 4,8 juta dolar AS atau sekitar Rp81 miliar milik seorang pengemplang pajak lenyap begitu saja digasak hacker tak dikenal. Para pengamat langsung menyebut insiden ini sebagai salah satu blunder paling fatal dan memalukan sepanjang sejarah lembaga pemerintah di negara ginseng tersebut.
Cerita Bermula dari Foto Resolusi Tinggi
Cerita memalukan ini bermula dari semangat NTS yang ingin pamer keberhasilan. Mereka baru saja menyita aset dari 124 pengemplang pajak kelas kakap. Biar kinclong di mata publik, NTS lantas mendistribusikan siaran pers resmi ke berbagai media. Nggak tanggung-tanggung, mereka melampirkan foto-foto barang bukti beresolusi tinggi. Nah, nah, di sinilah letak masalahnya.
Salah satu foto menampilkan perangkat cold wallet (dompet fisik kripto) bermerek Ledger milik seorang tersangka yang dijuluki “Tuan C”. Di sebelah dompet tersebut, tergeletak secarik kertas kecil. Di kertas itulah, dengan jelas terbaca deretan frasa pemulihan alias mnemonic seed phrase. Celakanya, pihak NTS lupa menyensor atau memblur tulisan tersebut sebelum menyebarkannya ke seluruh penjuru media. Padahal, mereka sendiri yang memotretnya dalam resolusi jumbo!
Kunci Master yang Terbuka untuk Umum
Buat yang belum paham, seed phrase ini ibarat kunci master. Siapa pun yang menguasai deretan kata sandi ini, bisa dengan mudah mengakses dan menguras seluruh isi dompet kripto dari jarak jauh. Nggak peduli dompet fisiknya disimpan di brankas baja setebal apa pun, kalau kunci master-nya bocor, habislah sudah.
Gasak Rp81 Miliar Hanya dalam Hitungan Jam
Foto tak bersensor itu langsung menjadi incaran empuk para pemburu celah. Ibarat menaruh madu di tengah sarang semut, dalam hitungan jam setelah siaran pers tayang, seorang individu anonim langsung bergerak cepat. Dengan memanfaatkan seed phrase yang bocor, ia mengambil alih dompet tersebut.
Pelaku memulai aksinya dengan mengirimkan sedikit koin Ethereum (ETH) ke dompet itu. Tujuannya? Untuk membayar biaya transaksi jaringan atau gas fee. Setelah semuanya siap, ia langsung tancap gas mengeksekusi tiga kali pemindahan dana. Hasilnya, sekitar 4 juta token Pre-Retogeum (PRTG) mengalir mulus ke dompet pribadinya. Rp81 miliar lenyap dalam sekejap, sementara NTS cuma bisa gigit jari.
Pakar Keselamatan Informasi: Mereka Nggak Paham Dasar!
Kritik pedas pun langsung mengalir dari berbagai kalangan. Profesor Yeom Heung-yeol dari Departemen Keamanan Informasi Soonchunhyang University nggak bisa menyembunyikan kekesalannya. Menurutnya, pihak otoritas sama sekali nggak paham dasar-dasar pengelolaan aset virtual. Buktinya, mereka bahkan nggak melakukan tindakan pencegahan paling wajib, yaitu memindahkan dana sitaan ke dompet aman milik pemerintah terlebih dahulu.
Para ahli menegaskan, prosedur standar saat menyita aset kripto seharusnya langsung mentransfernya ke dompet yang dikontrol penuh oleh lembaga. Jangan pernah meninggalkan aset miliaran rupiah di dompet asli milik tersangka, apalagi memfoto barang bukti tanpa menyensor data sensitif. Kesalahan ini dianggap sebagai pelanggaran prosedur yang sangat mendasar.
Minta Maaf dan Janji Benahi SOP
Menyadari kebodohan mereka, pihak NTS akhirnya angkat bicara. Mereka meminta maaf secara publik dan berjanji akan merombak total prosedur operasi standar (SOP) terkait penyitaan dan penyimpanan aset digital. Janji ini tentu harus dibuktikan dengan aksi nyata, mengingat kepercayaan publik sudah terlanjur jatuh.
Polisi Turun Tangan, Tapi Pemulihan Diprediksi Sulit
Saat ini, NTS bergerak cepat dengan menggandeng Badan Kepolisian Nasional Korea Selatan. Mereka berusaha melacak jejak peretas melalui aliran dana di dalam blockchain. Dengan teknologi ledger yang transparan, sebenarnya pergerakan dana bisa dilacak. Namun, ini bukan perkara mudah.
Mengingat sifat transaksi mata uang kripto yang nggak punya otoritas terpusat, upaya pemulihan dana Rp81 miliar ini diprediksi bakal memakan waktu panjang dan sangat sulit dilakukan. Para peretas biasanya langsung memindahkan dana ke berbagai dompet dan exchanger yang berada di yurisdiksi berbeda, membuat proses pelacakan semakin rumit.
Insiden ini jadi pelajaran berharga bagi institusi mana pun di dunia. Pamer hasil sitaan boleh saja, tapi jangan sampai lupa sensor. Karena satu kesalahan kecil, uang negara yang seharusnya masuk kas bisa lenyap ditelan dunia maya. Kini, semua mata tertuju pada NTS, akankah mereka bisa memperbaiki citra dan benar-benar belajar dari blunder termahal ini?
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










