Olympic.or.id – Dunia teknologi kembali diguncang peringatan mengerikan! Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) baru saja mengumumkan rencana berani yang bakal membuat para raksasa Silicon Valley merinding. Mereka secara gamblang menyatakan bakal memburu dan melumpuhkan sejumlah perusahaan teknologi superbesar milik Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan Timur Tengah.
Menurut pernyataan resmi yang dirilis oleh media militer Iran, Sepah News, IRGC dengan lantang menuduh sedikitnya 18 perusahaan raksasa terlibat aktif dalam perencanaan serta pelacakan target serangan militer AS di tengah konflik panas yang terus membara. Ancaman ini bukan sekadar gertakan, melainkan pernyataan perang terbuka terhadap infrastruktur teknologi asing.

Sederet nama beken masuk dalam daftar hitam tersebut. Apple, Microsoft, Google, Meta, Nvidia, Oracle, Tesla, HP, Intel, Cisco, Boeing, hingga IBM disebut-sebut sebagai target prioritas. Bayangan akan hancurnya kantor-kantor mereka kini menjadi momok yang sangat nyata.
Lebih menarik lagi, IRGC juga ikut menyertakan satu perusahaan kecerdasan buatan asal Uni Emirat Arab, yakni G42 (Group 42 Holding Ltd), sebagai satu-satunya entitas non-AS yang masuk dalam incaran. G42 sendiri dikenal sebagai konsorsium perusahaan AI raksasa yang berbasis di Timur Tengah.
Yang bikin merinding adalah jadwal serangan yang sudah ditentukan dengan sangat spesifik! IRGC mengumumkan bahwa aksi penghancuran akan mulai dilancarkan pada Rabu (1/4/2026) malam pukul 20.00 waktu Teheran, Iran. Hitung mundur menuju malam yang mencekam pun telah dimulai!
Peringatan keras pun dilontarkan. “Seluruh perusahaan teknologi AS ini harus bersiap menghadapi penghancuran total terhadap unit-unit mereka masing-masing, sebagai balasan atas setiap aksi teror yang dilakukan terhadap Iran,” tulis IRGC dalam pernyataan bernada ancaman tersebut.
Tidak berhenti di situ, IRGC juga mengimbau seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut untuk segera meninggalkan tempat kerja demi keselamatan jiwa mereka. Suasana panik dan ketakutan pun mulai menyelimuti para pegawai teknologi di kawasan itu.
“Warga sipil yang berada dalam radius satu kilometer dari kantor-kantor perusahaan ‘teroris’ ini, di seluruh negara di kawasan Timur Tengah, juga dengan tegas kami imbau untuk mengungsi dan berpindah ke lokasi yang aman,” tambah pernyataan IRGC. Wilayah sekitar kantor-kantor tersebut digambarkan akan berubah menjadi zona berbahaya.
Perlu ditekankan, target utama IRGC di sini bukanlah manusia, melainkan kantor, properti, bangunan, dan aset fisik yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan teknologi AS tersebut. Jadi, fokus serangan nampaknya lebih diarahkan pada infrastruktur daripada individu.
BUKAN YANG PERTAMA KALI! ANCAMAN IRGC INI SUDAH PERNAH TERJADI!
Sejarah mencatat, aksi nekat Iran terhadap perusahaan teknologi AS ternyata sudah dimulai lebih awal. Ancaman ini bukan kali pertama mereka membuat onar di kawasan Timur Tengah.
Pada awal Maret lalu saja, serangan drone bertubi-tubi yang diluncurkan Iran telah berhasil menghantam dan merusak beberapa pusat data milik Amazon yang tersebar di Uni Emirat Arab dan Bahrain. Kejadian itu menjadi bukti bahwa ancaman mereka sangat kredibel dan mematikan.
Insiden berdarah tersebut juga sekaligus menandai meningkatnya risiko ekstrem terhadap infrastruktur teknologi super sensitif di Timur Tengah, terutama yang berkaitan dengan pusat data dan layanan komputasi awan (cloud computing). Artinya, tidak ada tempat yang benar-benar aman lagi bagi aset teknologi AS di sana.
Akibatnya, gelombang kekhawatiran besar pun menyapu kalangan investor. Ancaman ini secara langsung memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan investasi teknologi, khususnya di sektor kecerdasan buatan (AI) yang sedang berkembang pesat di Timur Tengah.
Selama beberapa tahun terakhir, negara-negara kaya seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi memang tengah gencar menarik investasi besar-besaran di bidang AI. Kawasan ini bahkan digadang-gadang menjadi salah satu pusat pertarungan teknologi global paling sengit, terutama antara AS dan China.
Namun sayang, mimpi indah itu harus terancam buyar. Dengan meningkatnya ancaman teror siber dan fisik terhadap perusahaan teknologi serta infrastrukturnya, para pelaku industri besar konon mulai mempertimbangkan ulang dengan matang risiko operasional dan tingkat keamanan di wilayah yang semakin panas tersebut.
Situasi mengerikan ini kabarnya juga berpotensi besar mengganggu ambisi muluk Timur Tengah untuk menjadi pusat pengembangan AI global dalam waktu dekat. Semua harapan itu seolah buyar oleh teror yang dilancarkan oleh IRGC, sebagaimana rangkuman lengkapnya dari TheHill.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










