Olympic.or.id – Coba bayangkan masa-masa ketika setiap atlet ekstrem, peselancar, pembalap sepeda gunung, hingga kreator konten punya satu kamera yang sama persis menempel di helm mereka. Mereknya GoPro. Iya, dulu semua orang pakai GoPro. Bertahun-tahun lamanya, nama GoPro benar-benar identik dengan kategori action camera. Tidak ada siapa pun yang berani menyaingi. Tidak ada ancaman serius. Mereka raja.
Nah, sekarang? Pelopor kamera aksi yang dulu perkasa itu malah terkapar dan berjuang mati-matian sekadar untuk tetap hidup. Sungguh tragis.
GoPro baru saja mengeluarkan peringatan resmi yang di dunia bisnis kita kenal sebagai going concern warning. Dalam laporan keuangan terbaru mereka yang sudah diserahkan ke otoritas pasar modal AS, Securities and Exchange Commission (SEC), perusahaan ini secara blak-blakan mengakui adanya “keraguan substansial” terhadap kemampuan mereka melanjutkan operasi. Peringatan ini pun disertai catatan keras dari auditor independen mereka, PricewaterhouseCoopers. Intinya, GoPro sendiri mengaku mungkin tidak akan sanggup bertahan dalam 12 bulan ke depan, kecuali ada suntikan dana segar atau ada perusahaan besar yang sudi membeli mereka.
Angka-angka di laporan keuangan GoPro benar-benar suram, teman-teman. Pendapatan total perusahaan ambrol 19 persen sepanjang tahun fiskal terakhir, dari yang sebelumnya jauh lebih besar menjadi cuma 652 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,5 triliun. GoPro juga membukukan kerugian bersih hingga 93,5 juta dollar AS (sekitar Rp 1,63 triliun) di tahun yang sama. Yang paling mengerikan adalah kondisi kas mereka. Setahun lalu, GoPro masih punya cadangan uang yang lumayan. Sekarang, jumlahnya tinggal separuh, hanya tersisa 49,7 juta dollar AS (sekitar Rp 870 miliar). Untuk perusahaan global dengan ratusan karyawan dan operasi yang tersebar di banyak negara, jumlah kas segitu jelas tidak cukup untuk bernapas panjang.
Namun, yang membuat situasi semakin runyam adalah utang. GoPro masih punya kewajiban ke berbagai bank senilai 88,6 juta dollar AS (sekitar Rp 1,55 triliun). Kontrak utang itu menyatakan bahwa peringatan going concern otomatis dianggap sebagai pelanggaran perjanjian alias default. Karena utang-utang mereka saling terkait, default di satu utang akan memicu default di semua utang lainnya. Kalau bank tiba-tiba menagih semuanya sekaligus, GoPro jelas tidak punya uang untuk membayarnya. Saat ini, manajemen GoPro sedang berusaha mati-matian bernegosiasi dengan para pemberi pinjaman untuk meminta keringanan, sebelum semuanya benar-benar meledak.
Padahal Dulu Nilainya Ratusan Triliun, Lho!
Kondisi sekarang jelas sangat jauh berbeda dari masa keemasan mereka. GoPro pertama kali didirikan pada tahun 2002. Sepanjang dekade 2010-an, perusahaan ini benar-benar mendominasi pasar kamera aksi tanpa lawan. Para atlet ekstrem, peselancar, snowboarder, pesepeda gunung, pelancong, hingga content creator semuanya mengandalkan kamera mungil tahan banting buatan GoPro untuk merekam pengalaman seru mereka dari sudut pandang orang pertama.
Pengaruh GoPro bahkan merembet ke industri musik dan budaya festival. Banyak kreator konten dan penggemar memakai kamera ini untuk mendokumentasikan aksi panggung musisi, festival musik, hingga momen-momen seru di belakang panggung. Semua itu terjadi sebelum kamera smartphone mampu menghasilkan kualitas video yang setara. Di puncak kejayaannya, valuasi pasar menembus lebih dari 10 miliar dollar AS (sekitar Rp 175 triliun). Mereka dianggap sebagai salah satu merek elektronik konsumen paling inovatif di dunia. Sekarang? Valuasi itu tinggal kenangan manis.
DJI dari China yang Melibas Habis GoPro
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada GoPro?
Pertama, datanglah kamera smartphone. Kualitas kamera ponsel meningkat drastis dalam satu dekade terakhir. Hal ini secara perlahan menyerap sebagian besar kebutuhan fotografi dan video yang dulu hanya bisa dipenuhi kamera aksi. Namun, ada pesaing lain yang lebih nyata, lebih agresif, dan lebih sulit dilawan: DJI.
Perusahaan teknologi asal Shenzhen, China itu awalnya memang dikenal sebagai produsen drone nomor satu dunia. Tapi DJI tidak pernah puas hanya bermain di pasar drone. Mereka masuk ke pasar kamera aksi lewat seri Osmo Action, lalu Osmo Pocket, dan kini Osmo 360. Strategi DJI terbilang sederhana namun mematikan. Mereka menawarkan kamera dengan spesifikasi yang setara atau bahkan lebih bagus dibanding GoPro, tapi dengan harga yang jauh lebih bersaing. Plus, integrasi yang mulus dengan ekosistem perangkat DJI lainnya, terutama gimbal dan drone.
Hasilnya? Satu per satu, DJI mengambil pangsa pasar yang dulu setia menjadi milik GoPro. Para content creator dan vlogger pun mulai berpindah karena pilihan DJI dianggap lebih value for money. Para penggemar olahraga ekstrem yang dulu setia dengan GoPro kini banyak yang beralih ke Osmo Action, karena fitur layar depan yang lebih praktis untuk vlogging dan harganya yang lebih masuk akal.
GoPro sebenarnya bukannya tidak melawan. Mereka terus merilis produk baru, termasuk Mission 1, platform kamera terbaru mereka. Tapi sayangnya, peluncurannya tidak berjalan mulus. Salah satu produk terbaru mereka, Max 2, malah molor dari jadwal dan melewatkan musim penjualan liburan yang biasanya menjadi puncak omzet tahunan. Kesalahan fatal di waktu yang salah.
Masalah Memori Jadi Pukulan Mematikan
Selain pesaing yang semakin galak, GoPro juga kena hantam masalah lain yang tidak kalah pelik: kenaikan harga memori. Industri kamera sangat bergantung pada flash memory untuk menyimpan rekaman video resolusi tinggi. Sejak akhir 2025, harga memori di pasar global melonjak tajam karena permintaan dari infrastruktur AI dan pusat data meningkat drastis. Saat produsen memori memprioritaskan pasokan untuk industri AI, perusahaan elektronik seperti GoPro yang sangat tergantung pada memori menjadi salah satu pihak yang paling terdampak. Biaya produksi kamera ikut melonjak, margin keuntungan tergerus, pendapatan turun tapi biaya naik. Kombinasi maut untuk perusahaan yang sudah kesulitan keuangan.
PHK 23 Persen Karyawan, Siap-siap Diakuisisi?
Untuk mencoba bertahan, mereka sudah mengambil sejumlah langkah penyelamatan darurat. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 23 persen karyawannya. Sekitar 145 posisi dihilangkan demi menekan beban gaji. Mereka juga sudah menyewa penasihat keuangan untuk mencari jalan keluar terbaik. Para penasihat ini saat ini sedang mempertimbangkan dua kemungkinan besar: menjual seluruh perusahaan, atau mencari mitra bisnis yang lebih besar. Awal tahun ini, dewan direksi GoPro juga sudah resmi mengumumkan peninjauan terhadap “alternatif strategis”—istilah halus untuk kemungkinan penjualan, merger, atau transaksi lain yang bisa menyelamatkan nilai saham mereka. Selain itu, GoPro juga mulai melirik peluang diversifikasi ke sektor pertahanan dan aerospace, dua bidang yang sedang sangat membutuhkan kamera tahan banting dengan kualitas tinggi.
Akankah GoPro Selamat? Nasib Ditentukan Beberapa Bulan ke Depan
Meskipun sudah mengeluarkan peringatan going concern yang mengkhawatirkan, GoPro tetap beroperasi seperti biasa. Produk-produk baru masih dirilis. Karyawan yang tersisa masih bekerja keras. Namun, situasinya jelas tidak menggembirakan sama sekali.
Kisah GoPro hari ini adalah cerita klasik tentang perusahaan teknologi yang pernah menjadi raja tanpa pesaing, lalu jatuh karena tiga hal sekaligus: serangan smartphone, agresivitas DJI yang mengambil pasar, dan kenaikan biaya komponen yang tidak terkendali. Dan ini bukan cerita yang aneh di industri teknologi. Banyak merek besar yang pernah merajai kategori produk tertentu, akhirnya tergerus oleh pesaing baru yang lebih lincah. Nokia, BlackBerry, Kodak. Daftarnya panjang sekali.
Sekarang, GoPro berdiri tepat di posisi yang sama. Nasib mereka akan ditentukan dalam beberapa bulan ke depan—entah selamat atau benar-benar tumbang—sebagaimana dihimpun dari EDMTunes dan Gizchina. Saksikan kelanjutan drama ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









