Olympic.or.id – Demam kecerdasan buatan atau AI ternyata bukan sekadar tren, melainkan mesin pencetak uang yang luar biasa dahsyat bagi Samsung Electronics. Raksasa teknologi asal Negeri Ginseng itu baru saja membuat seluruh jagat industri terperangah. Mereka mengumumkan proyeksi kinerja keuangan yang meroket tajam sepanjang kuartal kedua tahun 2026 ini, dan semuanya berkat tingginya gelombang permintaan chip memori untuk server-server AI canggih.
Dalam pengumuman proyeksi awal atau earnings guidance yang mereka rilis pada Selasa (7/7/2026), Samsung memperkirakan laba operasional mereka selama periode April hingga Juni 2026 mencapai angka fantastis, yakni 89,4 triliun won. Jika kita konversikan ke dalam rupiah, keuntungan sebesar itu setara dengan Rp 1.066,9 triliun, dengan asumsi kurs Rp 11,93 per won. Bayangkan, angka sebesar itu hanya dalam waktu tiga bulan!
Tak pelak, kinerja gemilang ini jauh melampaui ekspektasi para analis yang sebelumnya hanya memperkirakan laba operasional sekitar 87,3 triliun won atau sekitar Rp 1.041,9 triliun. Jadi, Samsung tidak hanya memenuhi target, tetapi juga berhasil mencetak rekor yang melampaui prediksi pasar.
Untuk memberikan gambaran yang lebih mencengangkan, mari kita bandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Pada kuartal kedua 2025, laba operasional Samsung hanya berkutat di angka 4,7 triliun won, atau setara dengan Rp 56 triliun. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun, profit perusahaan melonjak secara drastis hingga sekitar 19 kali lipat secara tahunan (year-on-year). Sungguh lompatan yang sulit dipercaya!
Selain laba, pendapatan Samsung juga diprediksi ikut meroket sekitar 129 persen menjadi 171 triliun won, yang setara dengan Rp 2.039 triliun. Pertumbuhan pendapatan dan laba yang seimbang ini menunjukkan bahwa efisiensi dan permintaan pasar benar-benar berjalan beriringan.
Perlu diketahui, angka-angka spektakuler ini masih bersifat forecast atau perkiraan sementara. Sebagai perusahaan besar di Korea Selatan, Samsung memang rutin merilis perkiraan pendapatan awal untuk memandu investor sebelum akhirnya merilis laporan keuangan versi lengkap yang lebih rinci. Laporan resmi untuk kuartal II 2026 sendiri baru akan dipublikasikan pada akhir Juli mendatang. Namun, proyeksi awal ini sudah cukup membuat pasar gempar.
Siap Geser Nvidia dan Jadi yang Paling Untung
Dengan lonjakan laba berdasarkan earnings guidance ini, banyak pihak yakin bahwa Samsung akan segera menggusur Nvidia dari posisinya sebagai perusahaan teknologi dengan laba kuartalan terbesar di dunia. Bayangkan, laba operasional Samsung yang diprediksi mencapai setara 58,5 miliar dolar AS itu diperkirakan akan melampaui laba kuartalan Nvidia yang sebelumnya tercatat sekitar 53,5 miliar dolar AS.
Analis senior dari Counterpoint Research, Marc Einstein, bahkan menyebut pencapaian Samsung ini sebagai salah satu performa kuartalan terbaik sepanjang sejarah industri teknologi modern. “Semua ini didorong oleh ledakan AI yang dahsyat. Perusahaan-perusahaan memori saat ini sedang menikmati lonjakan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara pasokan di sisi lain masih sangat terbatas,” jelas Einstein dengan nada penuh kekaguman.
Jika kita telusuri lebih dalam, sebagian besar keuntungan Samsung ternyata disumbang oleh divisi semikonduktor mereka, yang dikenal dengan nama Device Solutions (DS). Pada kuartal pertama tahun ini (Januari-Maret 2026), divisi ini sudah menyumbang sekitar 53,7 triliun won dari total laba operasional Samsung yang mencapai 57,2 triliun won. Jika dihitung, angka itu setara dengan 94 persen dari keseluruhan laba perusahaan. Jadi, jelas terlihat bahwa bisnis chip sedang menjadi tulang punggung keuangan Samsung saat ini.
Yang lebih menakjubkan lagi, Presiden sekaligus Kepala Corporate Management, Strategy and Operations Samsung Device Solutions, Kim Yong Kwan, bahkan menyatakan bahwa laba bisnis chip Samsung sepanjang tahun 2026 diperkirakan akan melampaui total keuntungan yang berhasil dikumpulkan divisi tersebut selama sekitar 40 tahun terakhir! Ingat, Samsung mulai terjun ke bisnis semikonduktor setelah mengakuisisi Korea Semiconductor pada tahun 1974 dan baru memproduksi chip DRAM 64Kb pertamanya pada pertengahan tahun 1980-an.
Menurut perhitungan dari SamMobile, laba operasi kumulatif divisi chip tersebut dari tahun 1985 hingga 2025 diperkirakan kurang dari 300 triliun won. Dengan lonjakan tahun ini, rekor baru pun hampir pasti tercipta. Namun, perlu dicatat bahwa rekor keuntungan terbesar dalam setahun ini berlaku khusus untuk bisnis chip memori saja, bukan untuk keseluruhan korporasi Samsung. Laporan dari Tom’s Hardware menyebutkan bahwa bisnis smartphone, layar, dan peralatan rumah tangga Samsung diyakini telah menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar selama periode yang sama.
Demam AI yang Dongkrak Harga Chip
Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan lonjakan laba sebesar ini? Jawabannya sederhana: harga chip memori DRAM dan NAND yang terus meningkat sepanjang tahun 2026. Permintaan chip dari pusat data AI melonjak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kapasitas produksi industri, sehingga membuat pasokan semakin ketat dan harga pun melambung tinggi.
Menurut data dari IDC, lonjakan permintaan chip untuk pusat data AI ini merupakan kondisi yang belum pernah dialami industri memori sebelumnya. Samsung sendiri bahkan telah menaikkan harga chip memorinya beberapa kali sepanjang tahun ini. Sebagai contoh, harga modul memori LPDDR5X 12 GB kini dilaporkan mencapai sekitar 145 dolar AS, atau setara dengan Rp 2,6 juta per modul.
Melihat kondisi ini, Samsung disebut-sebut tengah mempertimbangkan kenaikan harga chip DRAM lagi untuk kuartal III 2026. Mereka memperkirakan kondisi pasokan yang ketat ini masih akan bertahan setidaknya hingga tahun 2027, sebagaimana dihimpun dari laporan BBC. Artinya, pesta kenaikan harga dan keuntungan besar ini kemungkinan belum akan berakhir dalam waktu dekat, dan Samsung siap memimpin persaingan teknologi global dengan percaya diri.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










