Olympic.or.id – Australia akhirnya mengambil sikap tegas! mereka secara resmi melarang lagu yang sebagian besar atau sepenuhnya diproduksi dengan kecerdasan buatan (AI) untuk menembus tangga lagu resmi yang dikelola oleh Australian Recording Industry Association (ARIA). Hanya karya yang “dibuat secara substansial oleh manusia” yang kini berhak menduduki chart resmi negara tersebut.
Keputusan berani ini diambil ARIA untuk mengutamakan nilai humanisme dalam setiap karya musik. Aturan kontroversial ini muncul setelah belakangan ini, sebuah lagu yang diduga kuat banyak dipoles menggunakan teknologi AI berhasil memuncaki berbagai tangga lagu. Bayangkan, lagu yang identik dengan sentuhan mesin itu mampu menggeser karya-karya musisi sungguhan!
Lagu yang menjadi pemicu polemik ini berjudul “Like A Prayer”, yang sebenarnya merupakan tembang lawas milik diva pop Amerika Serikat, Madonna. Josh Fawaz, seorang DJ asal Australia, membawakan ulang lagu tersebut dalam bentuk baru yang mengejutkan industri musik. Yang membuat heboh, Fawaz menggunakan vokal dan drum yang seluruhnya dibuat oleh AI-generatif dalam karyanya!
Akibatnya, di chart resmi ARIA, lagu ini berhasil menduduki posisi pertama dalam kategori “Dance”, dan bahkan menempati posisi kedua di tangga lagu kategori umum (Single) di Australia. Yang lebih mencengangkan, di kategori Single, lagu ini bertengger dengan kokoh hingga 16 minggu berturut-turut!
Popularitas lagu ini tidak berhenti di chart ARIA saja. Sejumlah stasiun radio komersial kabarnya rutin memutar lagu ini seolah-olah karya tersebut adalah karya manusia seutuhnya. Bahkan di platform streaming musik Spotify, lagu ini sudah diputar sebanyak 48 juta kali – angka yang fantastis untuk sebuah lagu yang vokalnya dibuat oleh mesin!
Menariknya, Fawaz akhirnya menambahkan kredit penggunaan AI generatif pada lagu tersebut setelah menuai kritik pedas dari berbagai kalangan musisi dan pengamat industri. Langkah ini terpaksa diambil untuk menjawab tudingan bahwa ia telah menipu pendengar dan industri musik.
Penggunaan AI untuk Pendukung Masih Boleh
ARIA tidak serta-merta melarang total penggunaan AI dalam proses kreatif. Mereka menegaskan bahwa aturan ini ada untuk menekankan nilai manusia dalam setiap karya musik. ARIA menyatakan tidak tertarik mempromosikan atau merayakan kesuksesan musik yang dibuat menggunakan AI tanpa mengandung karya manusia yang substansial.
Oleh karena itu, pemanfaatan AI untuk alat bantu masih diperbolehkan dengan syarat ketat. Manusia harus menjadi pihak yang menulis lagu, membawakan vokal utama, dan memainkan instrumen utama. Tanpa kehadiran manusia di posisi-posisi krusial tersebut, sebuah lagu tidak akan dianggap layak masuk chart.
AI juga masih boleh digunakan untuk proses mastering lagu, termasuk dalam penggunaan drum machine dan auto-tune. Dengan kata lain, teknologi tetap menjadi alat pembantu yang sah, bukan pengganti peran utama manusia dalam berkarya.
CEO ARIA Annabelle Herd menjelaskan bahwa perubahan ini mencerminkan niat mereka untuk tetap dinamis dan mengedepankan sifat kemanusiaan dalam berkarya di tengah perkembangan bidang yang berlangsung sangat cepat. “Para artis sudah menggunakan tools AI dalam karya mereka. Tangga lagu bisa dan memang seharusnya berkembang untuk tetap memberikan ruang bagi hal tersebut,” ungkap Herd.
Namun, Herd dengan tegas membedakan antara penggunaan AI sebagai alat dan penggunaan AI sebagai pencipta utama. “Musik yang sepenuhnya dihasilkan oleh platform yang dibangun menggunakan rekaman karya para musisi, merupakan persoalan yang berbeda,” lanjutnya sambil menyinggung soal maraknya karya musisi yang “dicuri” untuk melatih AI.
Ia menekankan bahwa chart yang memberi penghargaan pada hasil karya AI yang mengambil data dari musisi lain akan merusak dasar industri musik rekaman. Ini bukan sekadar masalah etika, tetapi juga kelangsungan hidup industri musik secara keseluruhan!
Aturan Ketat dan Sanksi Tegas
Setelah aturan ini berlaku, musisi wajib mengungkap penggunaan AI ketika mereka menyodorkan lagu untuk masuk ke chart. Transparansi menjadi kunci dalam sistem baru ini.
Jika kemudian diketahui bahwa sebuah lagu ternyata sebagian besar dibuat menggunakan AI, ARIA dapat mengubah posisi lagu tersebut di tangga lagu secara retroaktif atau berlaku surut. Bayangkan, sebuah lagu yang sudah menduduki puncak chart bisa saja digeser mundur setelah diketahui menggunakan AI secara berlebihan!
Jika lagu itu pernah menduduki posisi nomor satu, ARIA bahkan dapat meminta penghargaan yang diberikan karena mencapai posisi tersebut untuk dikembalikan. Sanksi ini menunjukkan keseriusan ARIA dalam melindungi integritas industri musik.
Namun, artis dan perwakilannya tetap memiliki kesempatan untuk menggugat keputusan tersebut. Mereka bisa mengajukan banding jika merasa keputusan ARIA tidak adil atau keliru.
Didukung Penuh oleh Musisi
Aturan ini mendapat respons positif yang luar biasa dari para musisi tanah air. Salah satunya adalah grup musik elektronik asal Australia, Peking Duk. Adam Hyde, salah satu member Peking Duk, dengan blak-blakan menyatakan bahwa musik yang dibuat oleh AI menghilangkan pengalaman manusia dari kehidupan. Baginya, musik bukan sekadar bunyi, tetapi ekspresi jiwa yang tidak bisa ditiru oleh mesin mana pun.
Pemerintah Australia juga berjanji akan memberi perhatian khusus untuk fenomena ini. Bulan Juli lalu, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menjanjikan “proteksi sekuat mungkin” bagi pekerja kreatif Australia dari dampak AI. Ini adalah bentuk dukungan pemerintah yang nyata terhadap industri kreatif!
Albanese berjanji penulis dan musisi akan memiliki hak untuk menentukan apakah dan bagaimana karya mereka digunakan dalam proses pelatihan AI. Menurutnya, penggunaan tersebut dapat dianggap sebagai “pencurian” jika para pekerja kreatif kehilangan kendali atas karya mereka dan tidak mendapatkan bayaran yang layak.
Bukan Hanya Australia
Selain Australia, beberapa negara sudah mengambil langkah serupa untuk melindungi industri musik mereka dari invasi AI. Di Swedia, yang merupakan tempat kantor pusat Spotify berada, sebuah lagu dilarang masuk ke chart resmi negara karena terbukti dibuat oleh AI. Langkah ini menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap dominasi AI dalam industri musik bersifat global.
International Federation of the Phonographic Industry (IFPI), organisasi global yang mewakili industri rekaman musik di seluruh dunia, juga akan memberlakukan pedoman mengenai penggunaan AI dalam lagu yang masuk tangga lagu di negara-negara wilayah Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara. Ini adalah langkah besar untuk melindungi karya manusia di seluruh dunia!
Dengan langkah berani ini, Australia telah menjadi pelopor dalam melindungi hak-hak musisi dan menjaga esensi kemanusiaan dalam berkarya. Pertanyaannya sekarang, apakah negara-negara lain akan menyusul langkah serupa? Yang jelas, pertarungan antara kreativitas manusia dan kecerdasan buatan di industri musik baru saja dimulai!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










