Olympic.or.id – Dengan langkah mengejutkan, OpenAI secara resmi mengubur Sora, platform kecerdasan buatan (AI) canggih pembuat video dari teks yang dulu sempat viral dan menghebohkan jagat maya. Kabar mengejutkan ini datang tepat saat genap satu tahun lebih sejak pertama kali mereka pamerkan teknologi canggih itu pada Desember 2024 silam. Keputusan dramatis ini pun secara efektif menghentikan napas salah satu teknologi AI generatif yang paling mencuri perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir.

Siapa sih yang enggak kenal Sora? Dulu, Sora begitu terkenal sebagai model AI yang dengan hebatnya mampu melahirkan video realistis hanya dari perintah teks (text-to-video) yang kita berikan. Teknologi ini dulu sempat menjadi buah bibir di mana-mana, lantaran kemampuannya yang luar biasa dalam membuat adegan kompleks dengan kualitas visual yang nyaris mendekati produksi profesional, dan semuanya terjadi dalam waktu singkat. Bayangkan, dari tulisan langsung jadi video sinematik!
Kabar penutupan Sora ini sendiri langsung mereka sebarkan melalui akun media sosial resmi OpenAI, tepat pada Selasa (24/3/2026). Dalam unggahan yang mengharukan itu, tim Sora dengan gamblang mengucapkan salam perpisahan. “Kami mengucapkan selamat tinggal pada aplikasi Sora,” tulis tim Sora dengan nada yang cukup emosional. Lebih lanjut, mereka menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam, “Kepada semua yang telah berkarya dengan Sora, membagikannya, dan membangun komunitas di sekitarnya: terima kasih. Apa yang Anda ciptakan dengan Sora sangat berarti, dan kami sungguh memahami bahwa kabar ini sangat mengecewakan.”
Meskipun kabar ini sontak memicu pertanyaan besar, OpenAI hingga saat ini belum juga mengonfirmasi berbagai laporan yang menyebutkan bahwa Sora akan segera hadir kembali di dalam ChatGPT. Namun, agar tidak membiarkan publik bertanya-tanya, pihak perusahaan dengan sigap memberikan janji. Mereka berkomitmen akan segera membagikan informasi lebih lanjut. Janji tersebut mencakup jadwal detail untuk aplikasi dan API, serta penjelasan jelas mengenai cara menyimpan seluruh hasil karya pengguna yang masih tersimpan.
Pernah Disuntik Dana Fantastis dari Disney!
Nah, bicara soal masa lalu yang gemilang, siapa yang tak ingat gebrakan besar pada Desember 2025? Saat itu, Disney, raksasa industri hiburan kelas dunia, resmi merapat dan bergabung ke aplikasi Sora melalui sebuah kesepakatan fantastis senilai 1 miliar dollar AS. Lewat kerja sama strategis ini, para pengguna Sora tiba-tiba diberi akses istimewa untuk membuat video dengan menggunakan sejumlah karakter ikonik berhak cipta milik Disney. Seru, kan?
Namun, sejak awal kesepakatan itu ditandatangani, banyak pengamat yang menilai bahwa kolaborasi ini justru lebih menguntungkan Disney dibandingkan OpenAI. Mengapa? Karena saat itu, OpenAI diketahui masih membakar dana hingga sekitar 1 miliar dollar AS per bulan untuk operasionalnya. Meskipun begitu, CEO Disney Bob Iger dengan percaya diri masih sempat gencar mempromosikan kerja sama yang dirancang untuk berlangsung selama tiga tahun ini, hingga Februari 2026. Tapi ya, di industri AI yang bergerak secepat kilat, situasi bisa berubah drastis hanya dalam hitungan minggu.
Menyikapi keputusan mengejutkan ini, juru bicara Disney dengan diplomatis angkat bicara kepada The Hollywood Reporter. “Seiring pesatnya perkembangan AI yang masih berada di tahap awal, kami sangat menghormati keputusan OpenAI untuk keluar dari bisnis pembuatan video dan mengalihkan fokus ke prioritas lain,” ujar mereka.
Bukan Tanpa Alasan, Ini Perubahan Strategi Besar-besaran!
Langkah dramatis OpenAI menutup Sora ini ternyata bukan tanpa sebab. Banyak pihak menyebut ini sebagai bagian tak terelakkan dari perubahan strategi besar perusahaan. Kini, mereka disebut-sebut lebih memilih fokus mengembangkan teknologi inti dan solusi berbasis enterprise yang lebih menjanjikan.
OpenAI, menurut sumber internal, ingin mengalihkan seluruh sumber daya komputasi dan pengembangannya yang sangat mahal ke produk-produk yang dinilai lebih berkelanjutan secara bisnis. Prioritas baru ini meliputi pengembangan model bahasa besar yang semakin canggih, AI untuk coding yang memudahkan programmer, hingga sistem berbasis simulasi berdaya guna tinggi. Sora sendiri dikenal sebagai monster yang membutuhkan daya komputasi luar biasa besar, sehingga operasionalnya dinilai kurang efisien untuk terus dijalankan sebagai layanan massal dalam jangka panjang.
Dari Deepfake hingga Hak Cipta, Masalah Tak Kunjung Usai
Selain faktor bisnis yang membebani, teknologi canggih ini juga terus-menerus menghadapi berbagai tantangan pelik. Kemampuan Sora yang begitu hebat dalam menghasilkan video realistis justru memunculkan kekhawatiran serius terkait potensi penyalahgunaan. Bayangkan, risiko pembuatan konten deepfake yang semakin sulit dibedakan, serta ancaman penyebaran informasi yang menyesatkan menjadi momok yang menghantui.
Di sisi lain, isu hak cipta juga terus menjadi sorotan tajam. Beberapa laporan menyebutkan bahwa teknologi serupa Sora berpotensi besar menghasilkan konten yang melibatkan elemen berhak cipta tanpa izin. Kondisi ini tentu membuka kotak pandora sengketa hukum yang rumit dan bisa membahayakan perusahaan.
Penutupan Sora ini juga tentu berdampak besar pada ekosistem kreator yang sebelumnya mulai memanfaatkan teknologi ini untuk produksi konten secara cepat dan efisien. Namun, kabar baiknya, meskipun platformnya resmi dihentikan, teknologi canggih di balik Sora diperkirakan tidak akan sepenuhnya hilang, seperti yang dilansir dari Reuters. OpenAI kemungkinan besar masih tetap mengembangkan kemampuan text-to-video sebagai bagian dari riset jangka panjang mereka, atau bisa jadi akan mengintegrasikannya secara diam-diam ke dalam produk-produk rahasia lain di masa depan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










