Olympic.or.id – Siapa sangka, raksasa desain chip asal Inggris, Arm, kini nekat melangkah keluar dari zona nyamannya. Selama lebih dari tiga dekade, perusahaan ini hanya fokus merancang arsitektur chip dan melisensikannya ke produsen lain. Namun, kini mereka secara berani memproduksi chip buatan sendiri. Langkah ini bukan isapan jempol belaka, melainkan sebuah gebrakan yang langsung menyita perhatian industri teknologi global.

CEO Arm Buka Suara: Ini Bukan Sekadar Eksperimen
CEO Arm, Rene Haas, dengan tegas mengungkapkan bahwa keputusan strategis ini dipicu oleh lonjakan permintaan komputasi yang luar biasa, terutama dari sektor kecerdasan buatan atau AI. “Ini adalah bisnis baru bagi Arm. Kini, kami memasok prosesor (CPU) buatan sendiri,” ujar Haas dalam pernyataannya yang dikutip dari Wired. Dengan demikian, Mereka tidak lagi sekadar menjadi arsitek di balik layar, melainkan pemain utama yang siap bersaing di kancah yang lebih besar. Selain itu, Arm menegaskan bahwa langkah ini juga muncul sebagai respons atas desakan dari berbagai mitra industri.
Mereka, menurut Haas, membutuhkan solusi komputasi yang siap pakai untuk menjalankan AI skala besar. Nah, sebagai wujud nyata dari ambisi tersebut, Arm memperkenalkan chip perdananya yang diberi nama Arm AGI CPU. Chip ini didesain secara khusus untuk memenuhi kebutuhan berat AI generatif dan agentic AI—sebuah sistem AI yang mampu bertindak mandiri tanpa campur tangan manusia.
Fokus ke Server, Bukan Ponsel: Strategi Berani Arm
Fungsi utamanya pun tidak main-main. Arm menyasar server berperforma tinggi di pusat data (data center), bukan sekadar perangkat konsumer seperti ponsel atau PC. Dengan fokus ini, Arm AGI CPU diproyeksikan menjadi fondasi komputasi untuk era “agentic AI cloud”. Dalam era tersebut, sistem AI diharapkan berjalan terus-menerus dan saling berkoordinasi secara otomatis. Di sinilah peran CPU menjadi semakin krusial, karena CPU harus mengatur ribuan tugas AI secara paralel dalam waktu singkat, mulai dari pengelolaan memori dan penyimpanan, pengaturan beban kerja, hingga koordinasi interaksi antar agen AI dalam skala besar.
Mari kita bedah spesifikasi teknisnya. Arm AGI CPU dibangun menggunakan proses fabrikasi canggih 3 nanometer (nm) oleh raksasa manufaktur asal Taiwan, TSMC. Chip ini mengemas hingga 136 inti (core) berbasis arsitektur Neoverse V3 dan didesain untuk server rack 1U. Dalam satu konfigurasi server referensi, dua chip dapat digabung dalam satu blade (unit server modular), sehingga total core melonjak menjadi 272 core.
Lebih gila lagi, untuk satu rak data center penuh, jumlah core bisa mencapai lebih dari 8.000 core. Bahkan, dengan sistem pendingin cair skala besar, jumlah core dapat ditingkatkan secara signifikan hingga menyentuh angka 45.000 core. Dari sisi performa, Mereka tidak tanggung-tanggung mengklaim bahwa chip ini mampu menghadirkan kinerja hingga dua kali lipat dibanding CPU berbasis arsitektur x86 dalam beban kerja agentic AI. Namun, bukan cuma soal kecepatan, Arm AGI CPU juga diklaim unggur dalam efisiensi daya (performance per watt).
Klaim ini tentu menjadi nilai jual utama, karena efisiensi daya dapat menekan biaya listrik pusat data secara signifikan. Arm AGI CPU juga dirancang untuk bekerja sama dengan akselerator AI seperti GPU atau NPU yang sudah ada di pasar. Dengan begitu, chip ini akan berfungsi sebagai “orkestrator” yang mengatur aliran data, jaringan, serta koordinasi sistem AI berskala besar.
Meta dan OpenAI Sudah Antre, Tapi Ada yang Bungkam
Mereka menargetkan agar Arm AGI CPU mulai tersedia secara massal pada paruh kedua 2026. Saat ini, chip tersebut sudah dapat dipesan melalui mitra vendor server ternama, seperti Lenovo dan Supermicro. Antusiasme pasar pun terlihat nyata. Meski ini merupakan chip perdana Arm, sejumlah perusahaan teknologi besar telah menyatakan minatnya. Meta menjadi pelanggan utama sekaligus mitra pengembangan awal. Menurut Meta, chip ini bisa menghadirkan platform komputasi yang lebih efisien, meningkatkan kepadatan performa data center, dan mendukung pengembangan sistem AI mereka ke depan. Tak hanya Meta, nama-nama besar lainnya seperti OpenAI, SAP, Cerebras, Cloudflare, hingga perusahaan Korea seperti SK Telecom dan Rebellions juga telah menyepakati penggunaan chip ini dalam infrastruktur mereka.
OpenAI pun menyebut Arm AGI CPU akan berperan penting dalam meningkatkan efisiensi, bandwidth, serta koordinasi sistem AI skala besar yang digunakan oleh ratusan juta pengguna. Dukungan ini menunjukkan bahwa kehadiran Arm di pasar chip AI disambut hangat oleh para pemain industri yang membutuhkan solusi komputasi lebih andal. Namun, di balik gemerlap dukungan, muncul pula dinamika yang menarik. Tidak semua rekan lama Arm secara terbuka mendukung langkah pembuatan chip perdana ini.
Sejumlah pelanggan besar seperti Apple, Nvidia, dan Qualcomm tidak terlihat memberikan dukungan publik. Hal ini pun memicu spekulasi bahwa langkah ini berpotensi menimbulkan ketegangan di industri. Pasalnya, dengan mulai memproduksi chip sendiri, Arm bisa berubah dari mitra menjadi pesaing bagi perusahaan-perusahaan yang selama ini menggunakan desainnya. Situasi ini tentu menjadi tantangan tersendiri yang harus dikelola ke depan.
Masa Depan Chip AI: Persaingan Makin Panas
Dengan keluar dari zona nyaman, mereka menunjukkan betapa besarnya peluang bisnis di pasar chip AI. Besarnya potensi ini bahkan mampu menggoda Arm untuk ikut serta membuat chip sendiri. Ke depannya, perkembangan pasar chip AI untuk data center diperkirakan akan terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan komputasi di pusat data global. Dan dengan langkah berani ini, bukan tidak mungkin pesaing baru akan terus bermunculan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









