Olympic.or.id – Penggemar sneakers ramah lingkungan pasti terkejut. Pasalnya, perusahaan sepatu asal Amerika Serikat (AS) bernama Allbirds baru saja melakukan manuver bisnis yang super ekstrem dan bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Siapa sih yang nyangka? Brand alas kaki yang dulu sempat hits banget di kalangan “tech bro” alias anak-anak perusahaan teknologi di Silicon Valley ini, kini secara mengejutkan putar haluan drastis menjadi perusahaan AI. Ternyata, pengalihan fokus gila-gilaan ini mereka lakukan tepat di saat kondisi keuangan perusahaan sedang terpuruk banget.

Dari Sepatu Wol Merino, Langsung Lompat ke Kecerdasan Buatan
Coba bayangkan, Allbirds yang pertama kali berdiri pada tahun 2015 itu terkenal sebagai produsen sepatu sneakers yang super ramah lingkungan. Mereka mengandalkan bahan utama wol Merino dan serat kayu eucalyptus untuk menciptakan produk-produk keren mereka.
Dulu, perusahaan ini semasa jayanya berhasil mendulang valuasi fantastis mencapai 4 miliar dollar AS! Bahkan, pada tahun 2021, mereka dengan percaya diri melantai di bursa saham melalui penawaran umum perdana atau IPO. Namun, setelah momen IPO berlalu, popularitasnya tiba-tiba turun drastis hingga akhirnya mereka terpaksa menutup seluruh toko fisik mereka. Sedih banget, kan?
Jual Perusahaan dengan Harga Jauh di Bawah Valuasi Puncak
Pada tanggal 30 Maret lalu, manajemen Allbirds secara resmi mengumumkan kabar mengejutkan lainnya. Mereka menjual perusahaan ke American Exchange Group dengan harga fantastis namun ironis, yakni hanya 39 juta dollar AS atau sekitar Rp 669 miliar. Angka ini benar-benar jauh, sangat jauh di bawah nilai valuasi kejayaan yang pernah mereka raih sebelumnya.
Tapi tunggu dulu! Kisahnya belum berakhir. Justru di sinilah plot twist paling kencang terjadi.
Selamat Datang Newbird AI: Reborn dengan Wajah Baru

Setelah transaksi jual-beli selesai, Allbirds tidak serta merta lenyap begitu saja. Justru sebaliknya, mereka akan mengalami reborn atau kelahiran kembali dengan identitas baru yang super kekinian: Newbird AI. Keren banget, kan? Nama ini terdengar lebih futuristik dan siap bersaing di era kecerdasan buatan.
Namun, perlu dicatat bahwa nama Newbird AI ini masih harus mendapatkan persetujuan resmi dari para pemegang saham. Mereka akan menggelar rapat yang dijadwalkan pada pertengahan Mei mendatang untuk memutuskan hal ini. Semoga disetujui, ya!
Siap-Siap Beli GPU dan Jadi Penyedia Layanan Cloud AI
Perusahaan baru ini sudah tidak main-main lagi. Mereka telah menyepakati fasilitas pendanaan konversi senilai 50 juta dollar AS (sekitar Rp 858 miliar) dengan investor institusional. Ini adalah utang yang nantinya bisa mereka konversi menjadi saham jika bisnis AI mereka melesat.
Dengan dana sebesar itu, manajemen Newbird berencana untuk langsung membeli GPU dalam jumlah besar. Dalam jangka panjang, mereka bermimpi menjadi penyedia layanan GPU-as-a-Service (GPUaaS) dan solusi cloud berbasis AI yang terintegrasi penuh. Wah, siap-siap bersaing dengan raksasa teknologi lain!
Apa sih GPUaaS itu? Singkatnya, ini adalah jenis bisnis AI yang sedang naik daun banget saat ini. Tujuannya untuk memenuhi lonjakan permintaan akibat kelangkaan GPU global. Mereka memungkinkan startup-startup AI untuk menyewa daya komputasi demi menjalankan model-model canggih mereka.
Dalam keterangan resminya, pihak Allbirds menjelaskan, “Perusahaan akan mulai dengan mengakuisisi perangkat komputasi AI berkinerja tinggi dan latensi rendah. Selanjutnya, mereka akan menyediakan akses melalui skema sewa jangka panjang untuk memenuhi permintaan pelanggan yang tidak bisa dilayani secara andal oleh pasar spot maupun hyperscaler.”
Kekhawatiran Bubble AI Kembali Memanas
Manuver bisnis gila-gilaan dari Allbirds ini tentu saja menyedot perhatian publik. Selain terbilang ekstrem, entitas bisnis baru mereka juga langsung ikut-ikutan tren booming AI yang sedang viral di mana-mana.
Situasi ini kembali memantik debat panas tentang potensi bubble AI. Sejarah mencatat bahwa teknologi baru memang selalu menarik perhatian. Dunia korporasi pun berulang kali menunjukkan bahwa tidak ada yang lebih disukai para pebisnis selain ikut-ikutan tren hype.
Ingatkah kamu dengan akhir tahun 1990-an? Saat itu, tren yang mendunia adalah internet. Banyak perusahaan berlomba-lomba menambahkan kata “.com” di nama mereka. Tren ini kemudian memicu gelembung dot-com yang menurut sebagian ahli bahkan kalah besar dibandingkan gelembung AI yang kita saksikan saat ini. Heboh, kan?
Lalu, memasuki era 2010-an, tren bergeser ke blockchain. Fenomena ini tergambar jelas dari aksi rebranding Long Island Iced Tea menjadi Long Blockchain. Sayangnya, perusahaan itu akhirnya dihapus pencatatannya oleh lembaga pengawas pasar modal AS, SEC, pada tahun 2021. Gagal total!
Kini, di pertengahan tahun 2020-an, kata paling “seksi” yang bisa ditambahkan ke nama perusahaan untuk menarik investor hanyalah dua huruf: A dan I. Siapa pun yang memasang embel-embel AI di belakang namanya, langsung diserbu investor.
Efek Gila: Harga Saham Melonjak Lebih dari 420%!
Yang paling bikin melongo adalah dampak dari pengumuman ini terhadap harga saham Allbirds. Menurut laporan Gizmo China, hingga pukul 11 siang pada sesi perdagangan Rabu (15/4/2026), saham perusahaan ini melonjak gila-gilaan lebih dari 420 persen! Bayangkan, hanya dengan mengganti nama dan fokus bisnis ke AI, investor langsung panik beli.
Jadi, apakah Allbirds (sebentar lagi Newbird AI) akan sukses menjadi perusahaan AI sejati? Atau ini hanya sekadar trik hype belaka yang akan berakhir seperti bubble dot-com dan blockchain? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, satu hal pasti terjadi: bisnis ekstrem ini berhasil membuat seluruh dunia mata tertuju pada mereka. Keren atau gila? Kamu yang nilai sendiri!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










