olympic.or.id — Hei, sobat Olympic! Kalau biasanya kita ngomongin atlet super yang memecahkan rekor di lapangan olimpiade, kali ini ada “atlet” baru dari dunia teknologi yang lagi bikin dunia geleng-geleng kepala. Bayangin deh, sebuah komputer yang bisa ngerjain tugas super rumit dalam sekejap mata, lebih cepat 1 kuadriliun kali dari superkomputer terkuat di planet ini! Yup, China baru aja luncurin komputer kuantum superkonduktor yang mirip banget sama Zuchongzhi 3.0, dan ini bukan cuma prototipe lagi—udah siap dipake secara komersial! Gimana ceritanya? Yuk, kita kupas tuntas biar kamu penasaran setengah mati.
Jadi, ceritanya dimulai dari Hefei, kota di Provinsi Anhui, China timur. Di sana, ada tim hebat dari China Telecom Quantum Group (CTQG) dan QuantumCTek Co., Ltd., perusahaan kuantum top yang berbasis di sana. Mereka bikin mesin ini pake seri cip yang sama kayak Zuchongzhi 3.0, lengkap dengan 182 coupler dan 105 qubit yang bisa dibaca. Apa sih qubit itu? Gampangnya, kalau komputer biasa pake bit (0 atau 1), qubit ini bisa jadi 0 dan 1 sekaligus berkat prinsip kuantum. Hasilnya? Mesin ini bisa nge-handle tugas pengambilan sampel sirkuit acak kuantum dengan kecepatan yang bikin superkomputer dunia kayaknya lagi ngopi santai.
Menurut berita dari Xinhua, peluncuran ini adalah langkah gede menuju penerapan praktis komputasi kuantum. Komputasi kuantum sendiri lagi hot banget, dianggap sebagai kunci revolusi informasi berikutnya. Bayangin, teknologi ini bisa bantu pecahin masalah yang selama ini mustahil buat komputer klasik, seperti simulasi molekul buat obat baru, optimasi logistik buat bisnis, atau bahkan prediksi cuaca yang lebih akurat. Di dunia olahraga seperti Olimpiade, siapa tahu nanti bisa dipake buat analisis data performa atlet secara real-time, atau desain peralatan olahraga yang lebih canggih. Seru kan?

Flashback sedikit, pada Maret tahun ini, ilmuwan China seperti Pan Jianwei, Zhu Xiaobo, dan Peng Chengzhi dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China (USTC) berhasil bikin prototipe Zuchongzhi 3.0 dengan 105 qubit. Ini bukan yang pertama kali mereka pecahin rekor—sebelumnya, Zuchongzhi 2.0 udah bikin heboh di 2021. Konsepnya disebut “keunggulan komputasi kuantum” atau “supremasi kuantum”, artinya komputer kuantum bisa ngalahin superkomputer klasik di tugas-tugas spesifik. Zhang Xinfang, peneliti senior di CTQG, bilang mesin ini punya keunggulan kuantum terkuat dan bakal terhubung ke platform cloud Tianyan. Jadi, siapa aja di seluruh dunia bisa akses lewat internet!
Platform Tianyan ini udah eksis sejak November 2023 dan langsung booming. Bayangin, udah dikunjungi lebih dari 37 juta kali, dari pengguna di lebih dari 60 negara. Jumlah tugas eksperimentalnya aja udah lewat 2 juta! Ini berarti, bukan cuma ilmuwan atau perusahaan besar yang bisa main-main sama teknologi ini, tapi juga startup, peneliti independen, atau bahkan mahasiswa yang penasaran. Buat Indonesia, ini peluang gede lho. Kita bisa ikutan eksplorasi kuantum tanpa harus bangun mesin sendiri yang mahal banget. Siapa tahu, nanti ada atlet kita yang pake data dari sini buat latihan lebih efisien.
Tapi, apa sih yang bikin teknologi ini spesial? Mari kita bedah lebih dalam. Komputer kuantum superkonduktor ini kerja di suhu super dingin, deket nol mutlak Kelvin, biar qubitnya stabil. Coupler-nya berfungsi kayak jembatan antar qubit, bikin mereka bisa “ngobrol” lebih lancar. Hasilnya, tugas yang butuh ribuan tahun buat superkomputer klasik, bisa diselesaikan dalam hitungan detik. Contohnya, di bidang kriptografi, ini bisa bantu pecahin kode enkripsi yang sekarang dipake bank-bank dunia. Atau di farmasi, simulasi reaksi kimia buat obat kanker baru. Di olahraga, bayangin analisis biomekanik atlet renang atau lari yang lebih presisi, bantu coach bikin strategi juara Olimpiade.
China emang lagi all-out di bidang ini. Mereka investasi besar-besaran, dari pemerintah sampe swasta. QuantumCTek, misalnya, udah jadi pionir di Hefei, yang dikenal sebagai “Lembah Kuantum” China. Kolaborasi dengan CTQG bikin mereka bisa skalakan teknologi ini ke level komersial. Ini beda sama pendekatan negara lain seperti AS, yang punya Google Quantum AI dengan Sycamore-nya, atau IBM dengan sistem Eagle. Tapi Zuchongzhi ini klaimnya lebih unggul di tugas sampling acak, yang jadi benchmark standar buat supremasi kuantum.
Tantangannya apa? Komputer kuantum masih rawan error karena qubit gampang terganggu oleh noise luar. Makanya, butuh error correction yang canggih. Plus, akses cloud ini meskipun global, pasti ada regulasi dan biaya. Buat negara berkembang kayak kita, ini kesempatan buat kolaborasi internasional. Indonesia sendiri lagi mulai gerak di kuantum, lewat BRIN atau universitas seperti ITB dan UI yang punya riset awal. Siapa tahu, nanti ada proyek bersama China buat aplikasi di Olimpiade, seperti simulasi venue atau prediksi medali.
Peluncuran ini juga bikin dunia teknologi makin kompetitif. AS dan Eropa lagi ngejar ketinggalan, dengan investasi miliaran dolar. Tapi China unggul di hardware superkonduktor, sementara yang lain fokus ke ion trap atau fotonik. Implikasinya? Revolusi di AI, cybersecurity, dan material science. Buat kamu yang suka sci-fi, ini kayak mesin waktu versi nyata—bisa simulasi masa depan tanpa nunggu lama.
Singkatnya, peluncuran komputer kuantum ini bukan cuma berita tech biasa, tapi milestone yang bisa ubah dunia. Buat sobat Olympic, ini pengingat bahwa inovasi nggak cuma di lapangan, tapi juga di lab. Mau coba akses Tianyan? Cek aja situs resmi mereka, siapa tahu ide brilianmu lahir dari sana. Tetap penasaran ya, karena masa depan kuantum baru dimulai!
kunjungi laman berita terkini di Exposenews.id








