Olympic.or.id – Meta akhirnya buka-bukaan soal strategi besarnya di dunia kecerdasan buatan. Raksasa teknologi ini resmi mengumumkan kehadiran empat chip AI anyar buatan mereka sendiri pada Rabu (11/3/2026) waktu Amerika Serikat. Langkah ini jelas jadi sinyal keras bahwa Meta serius mau memangkas ketergantungannya pada pemasok chip pihak ketiga seperti Nvidia.
Bukan Sekadar Ikut-Ikutan, Tapi Buat Efisiensi Jangka Panjang
Keempat chip anyar ini masuk dalam keluarga Meta Training and Inference Accelerator (MTIA) yang pertama kali mereka perkenalkan ke publik pada tahun 2023. Meta menamai chip terbarunya ini dengan sebutan MTIA 300, MTIA 400, MTIA 450, dan MTIA 500. Semuanya dirancang untuk mendukung berbagai tugas berat terkait AI sekaligus menjadi tulang punggung ekspansi besar-besaran data center perusahaan.
Lantas kenapa Meta nekat bikin chip sendiri? Jawabannya sederhana: efisiensi dan kemandirian. Meta secara gamblang menyatakan bahwa dengan mengembangkan chip secara mandiri, mereka bisa memaksimalkan rasio harga terhadap performa di pusat data mereka. Dibandingkan hanya mengandalkan vendor pihak ketiga, cara ini jauh lebih menguntungkan.
“Kami juga mendapatkan lebih banyak keragaman dalam hal pasokan silikon. Hal ini sekaligus melindungi kami dari perubahan harga sampai batas tertentu,” ungkap Vice President of Engineering Meta, Yee Jiun Song, dengan percaya diri.
Tiga Chip Canggih Siap Guncang Data Center, Satu Lainnya Jadi Andalan Baru
MTIA 300 ternyata sudah lebih dulu meluncur beberapa pekan lalu. Chip ini didesain khusus untuk melatih model AI sederhana yang mengakomodasi tugas sehari-hari seperti sistem rekomendasi Meta. Song menjelaskan bahwa tugas-tugasnya mencakup hal-hal krusial seperti menampilkan konten yang relevan bagi pengguna. Selain itu, chip ini juga bertugas menayangkan iklan online ke orang-orang yang ada di platform naungan Meta, termasuk Facebook dan Instagram.
Sementara itu tiga saudaranya yang lain, yakni MTIA 400, MTIA 450, dan MTIA 500, bakal menyusul diluncurkan di waktu mendatang. Ketiga chip ini didesain untuk menangani tugas AI yang lebih canggih. Kemampuannya mencakup pembuatan gambar dan video berdasarkan perintah teks dari pengguna. Namun perlu dicatat, deretan chip ini tidak dipakai untuk melatih model AI dari awal.
MTIA 400 saat ini sedang dalam tahap final pengujian. Meta mengklaim chip ini bakal segera diterapkan di data center mereka. Sementara dua chip lainnya dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2027. Ketiga chip terbaru ini akan dibekali bandwidth tinggi atau yang dikenal dengan high-bandwidth memory (HBM). Teknologi ini bertujuan menunjang tugas inferensi terkait AI generatif.
Soal kelangkaan komponen, Song mengklaim timnya telah mengamankan pasokan memori di tengah situasi global yang sulit. Namun ia masih enggan memberikan rincian lebih lanjut soal strategi pengadaannya. “Kami sangat khawatir terkait pasokan HBM. Tapi kami kira, kami telah mengamankan pasokan untuk proyek yang kami rencanakan,” ujar Song meyakinkan.
Menariknya, meskipun chip ini dikembangkan mandiri oleh Meta, proses produksinya tetap mereka serahkan kepada Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC). Raksasa manufaktur asal Taiwan ini memang jadi mitra andalan banyak perusahaan teknologi untuk urusan fabrikasi chip.
Berani Tantang Nvidia? Ternyata Bukan Cuma Meta yang Gerilya
Selama ini mayoritas perusahaan teknologi termasuk Meta mengandalkan chip AI dari pemain besar seperti Nvidia. Meta sendiri tercatat rutin menggunakan GPU Nvidia untuk melatih model AI andalannya, Llama. Namun induk dari Facebook ini mulai menunjukkan taring dengan mengembangkan chip mandiri. Tujuannya jelas: agar tidak terus-terusan bergantung pada pihak ketiga seperti yang disampaikan Song.
Langkah ini seolah jadi tantangan terbuka bagi dominasi Nvidia di pasar chip AI. Pasalnya, hampir semua perusahaan besar seperti OpenAI dan Microsoft juga mengandalkan GPU Nvidia untuk mendukung kecerdasan buatan mereka. Meta sepertinya ingin membuktikan bahwa mereka bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Tapi Meta bukan satu-satunya yang bergerak ke arah ini. Google dan Amazon juga sudah lebih dulu mengembangkan chip application-specific integrated circuits (ASIC) mandiri untuk mendukung data center mereka. Dibandingkan GPU serbaguna yang umum dipakai untuk komputasi AI, ASIC biasanya berukuran lebih kecil dan lebih murah. Namun konsekuensinya, chip jenis ini hanya mampu menjalankan jenis tugas yang lebih terbatas.
Google tercatat sebagai salah satu pelopor dalam pengembangan ASIC untuk AI. Mereka meluncurkan chip Tensor Processing Unit (TPU) pertamanya pada tahun 2015. Beberapa tahun kemudian, Amazon mengikuti langkah serupa dengan memperkenalkan chip kustom pertamanya pada 2018. Kedua raksasa ini kemudian mengintegrasikan chip AI buatan mereka ke dalam layanan komputasi awan. Dengan begitu, pelanggan mereka bisa turut memanfaatkan teknologi tersebut.
Meta pun tampaknya tak ingin ketinggalan kereta. Dengan kehadiran empat chip anyar ini, mereka siap bersaing di era baru komputasi AI. Pertanyaannya sekarang, akankah langkah Meta ini mampu menggoyang posisi kokoh Nvidia? Atau justru sebaliknya, mereka akan kesulitan mengejar ketertinggalan? Waktu yang akan menjawab.
Yang jelas, persaingan di industri chip AI bakal semakin memanas. Para raksasa teknologi berlomba-lomba menciptakan solusi mandiri demi efisiensi dan keamanan pasokan. Konsumen seperti kita hanya bisa menunggu gebrakan apa lagi yang bakal mereka hadirkan. Satu hal yang pasti, inovasi di bidang ini tak akan pernah berhenti. Dan Meta jelas ingin memastikan mereka tetap menjadi pemain utama di dalamnya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









