olympic.or.id — Hei, sobat olimpiade! Kalian tahu nggak, kalau dunia game lagi heboh sama karya anak bangsa? Bayangin aja, game buatan Indonesia yang awalnya cuma ide sederhana, sekarang malah jadi bintang di pasar global. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, baru aja cerita soal ini, dan ceritanya bikin kita bangga banget. Dari kopi ala game sampe merchandise keren, gim lokal kita lagi naik daun. Penasaran gimana caranya? Yuk, kita kupas bareng!
Mulai dari yang paling hits: Coffee Talk. Game ini bukan sembarang game, lho. Dibuat oleh studio indie asal Indonesia, Toge Productions, Coffee Talk rilis tahun 2020 dan langsung jadi favorit banyak orang di seluruh dunia. Ceritanya? Kamu jadi barista di kafe malam hari, ngobrol sama pelanggan yang unik-unik, seperti vampir, werewolf, sampe alien. Suasana chill, dialog mendalam, dan inspirasi dari budaya kopi Indonesia bikin game ini beda. Irene Umar bilang, game ini udah kolaborasi sama Parco, kedai kopi di Shibuya, Jepang. Mereka buka pop-up store yang jual kopi branded dengan elemen dari game ini. Orang Jepang pada bilang, “Wah, ini game dari Indonesia? Keren banget!” Dan Irene jawab santai, “Tentu aja kita keren!”

Ini bukti nyata kalau gim Indonesia nggak kalah kualitasnya. Nggak cuma main-main, tapi juga bisa bangun kekayaan intelektual (IP) yang kuat. Irene sering ketemu developer game, dan dia selalu ingetin: “Jangan stuck di game doang, guys. Kembangkan jadi IP lebih luas, seperti merchandise!” Bayangin, dari game bisa jadi kaos, mug, atau bahkan produk lain yang laku keras. Ini bisa jadi mesin penggerak ekonomi baru buat Indonesia, apalagi di era digital kayak sekarang.
Ngomongin game lain yang disebut Irene, ada Agni: Village of Calamity. Game horror ini lagi ramai dibicarain, lho. Kamu main sebagai Agni, investigator polisi rahasia yang nekat masuk ke desa terpencil meski ada peringatan bahaya. Inspirasi dari horor klasik, tapi dengan sentuhan Indonesia banget. Gameplay-nya cinematic survival horror, di mana kamu harus selamat dari misteri desa yang penuh bencana. Rilis di Steam, game ini nunjukin kalau developer kita bisa bikin cerita menyeramkan yang bikin pemain ketagihan.

Lanjut ke Mythical Odyssey. Ini game idle RPG yang ambil tema mitologi Timur, seperti Journey to the West dan Nezha Reborn. Kamu eksplor legenda kuno, bangun tim hero, dan lawan musuh dalam pertarungan strategis. Ada versi Indonesia-nya, dengan komunitas di Instagram dan Facebook yang aktif banget. Cocok buat yang suka game santai tapi penuh cerita mendalam. Developer Sky Vanilla Games bikin ini jadi pilihan buat pemain yang pengen nostalgia mitos Asia sambil grinding level.
Jangan lupa Lokapala: Saga of the Six Realms. Ini MOBA 5v5 pertama dari Indonesia, dikembangkan Anantarupa Studios. Inspirasi dari budaya Asia Tenggara, termasuk mitologi Nusantara. Hero-nya diambil dari sejarah dan legenda lokal, seperti ksatriya dengan kendaraan cepat bernama Vahanamukha. Game ini udah jadi esport, lho! Turnamennya sering digelar, dan ini bukti kalau Indonesia bisa bersaing di dunia gaming kompetitif. Bayangin, dari main bareng temen sampe ikut kompetisi internasional – potensinya gede banget.

Terakhir, Khuga Rumble Arena. Game multiplayer action ini unik banget: kucing-kucing lucu yang bertarung! Dibuat Khuga Labs, kamu pilih karakter kucing dari lima ras, pakai ability spesial, dan duel di arena. Ada elemen RPG, plus update tema budaya Indonesia seperti Reog Ponorogo. Cocok buat party game bareng keluarga atau temen. Mereka bahkan demo di event seperti di Bali, nunjukin komitmen buat promosi lokal.
kunjungi laman berita Ekslusif di Exposenews.id
Irene Umar tekankan, buat bikin IP lokal ini makin berkembang, kita butuh kolaborasi. Dia sampe nyebut pesan dari Presiden Prabowo Subianto: “Hancurkan ego sub-sektor, biar kita gotong royong dan crossover bareng!” Artinya, jangan egois, yuk bersatu dari developer, pemerintah, sampe bisnis. Ini bisa akselerasi ekonomi kreatif, apalagi dengan program dari Kementerian Ekonomi Kreatif.
Salah satunya Program Emak-Emak Matic. Awalnya fokus pemberdayaan perempuan, khususnya ibu rumah tangga, buat tingkatin skill digital. Tapi sekarang berkembang jadi jembatan antara pemilik IP game dengan ahli pemasaran lisensi. Bayangin, emak-emak bisa ikut andil promosi game lokal, dari bikin konten TikTok sampe jual merchandise. Kolaborasi dengan KemenPPPA dan platform seperti TikTok-Tokopedia, program ini targetin ribuan perempuan tiap tahun. Hasilnya? Ekosistem berkelanjutan yang bikin gim Indonesia nggak cuma dimainin, tapi juga dikenal luas.
Ngomongin konteks lebih besar, ini relevan banget buat dunia olimpiade. Esport lagi digadang-gadang masuk Olimpiade, lho! IOC udah akui esport sebagai olahraga, dan Indonesia punya potensi besar. Gim seperti Lokapala bisa jadi cabang kompetisi, mirip Mobile Legends di SEA Games. Bayangin, atlet esport Indonesia medali emas di Olimpiade Paris 2024 atau yang mendatang. Ini nggak cuma soal game, tapi bangun karakter, strategi, dan semangat tim – mirip olahraga tradisional.
Tapi, tantangannya ada. Irene juga ingetin soal kecanduan game online. Psikolog bilang, orang tua punya peran besar cegah anak ketergantungan. Main game boleh, tapi seimbang dengan aktivitas fisik, seperti olahraga olimpiade. Ada juga inisiatif seperti gim digital congklak dari UI, yang jaga warisan budaya sambil edukasi generasi alpha.
Program seperti Game Seed juga dukung developer lokal, bantu mereka dari ide sampe rilis. Hasilnya? Industri game Indonesia tumbuh pesat, dengan ribuan studio indie yang siap go global.
Jadi, sobat olimpiade, gim Indonesia bukan lagi mimpi. Dari Coffee Talk yang bikin Jepang ketagihan sampe Khuga yang lucu-lucuan, kita punya modal kuat. Yuk, dukung karya anak bangsa! Main game lokal, beli merchandise, dan siapa tahu, suatu hari esport kita bawa pulang medali Olimpiade. Penasaran game mana yang harus dicoba dulu? Mulai dari Coffee Talk aja, deh – siap-siap ketagihan obrolan malam hari!










