Olympic.or.id – Meta, perusahaan induk dari Facebook dan Instagram, sekarang menghadapi badai hukum yang luar biasa besar di Amerika Serikat. Bukan main-main jumlahnya, denda yang mengintai mencapai angka fantastis yang sulit dibayangkan oleh kebanyakan orang!
Bayangkan saja, hampir 25 kuadriliun rupiah siap menghantam kantong Mark Zuckerberg jika perusahaan yang didirikannya itu terbukti bersalah. Angka tersebut setara dengan 1,4 triliun dollar AS, sebuah jumlah yang nyaris menyamai seluruh nilai pasar Meta saat ini. Artinya, jika hakim memutuskan denda maksimal, Meta bisa kehilangan hampir seluruh kekayaannya!
Kenapa Meta Begitu Santai Membiarkan Anak-Anak Kecanduan?
Gugatan yang dilayangkan oleh 29 negara bagian AS ini menuduh Meta dengan sengaja merancang platformnya seperti jebakan mematikan bagi anak-anak dan remaja. Mereka menuding perusahaan teknologi tersebut dengan sadar menciptakan fitur-fitur adiktif yang membuat generasi muda terus-menerus menggulir layar tanpa henti. Para jaksa penuntut mengklaim bahwa desain-platform yang membuat ketagihan itu telah memperparah masalah kesehatan mental di kalangan anak muda, mulai dari kecemasan berlebihan, depresi berkepanjangan, hingga risiko bunuh diri yang mengancam jiwa!
Empat negara bagian yang memimpin perkara ini, yaitu California, Colorado, Kentucky, dan New Jersey, juga tidak main-main dalam menuntut Meta. Mereka menuduh perusahaan tersebut melanggar hukum federal yang mengatur pengumpulan dan penggunaan data pribadi anak. Ini bukan sekadar pelanggaran biasa, melainkan pelanggaran serius yang bisa membuat terjungkal ke jurang kehancuran finansial!
Instagram Disebut “Narkoba” oleh Karyawannya Sendiri!
Sidang yang telah dimulai di pengadilan federal Oakland, California pada Selasa (18/8/2026) langsung menghadirkan kejutan-kejutan mengejutkan. Wakil Jaksa Agung California, Megan O’Neill, dengan lantang menggambarkan model bisnis Meta sebagai upaya sistematis untuk membuat pengguna terus terpaku di platform. Ia menuduh Meta ingin “mengait” pengguna layaknya pengguna narkoba yang terus mencari dosis berikutnya!
Yang lebih mengejutkan lagi, pihak penggugat mengungkap komunikasi internal perusahaan yang sangat mengkhawatirkan. Dalam sebuah email internal kepada bos Instagram Adam Mosseri, disebutkan bahwa “waktu yang dihabiskan remaja” menjadi salah satu tujuan utama perusahaan. Bahkan lebih parah lagi, karyawan Meta sendiri pernah menggambarkan Instagram sebagai “narkoba” dan diri mereka sebagai “pengedar” dalam percakapan internal mereka!
O’Neill juga menuding Meta dengan kejam mempelajari bagaimana otak anak bekerja dan bereaksi terhadap rangsangan digital. Perusahaan raksasa itu kemudian melacak setiap interaksi anak-anak di aplikasi, seolah-olah mereka sedang melakukan eksperimen berbahaya terhadap generasi muda tanpa izin!
Meta Membantah Keras, Tapi Bukti Mulai Berbicara
Tentu saja, Meta tidak tinggal diam menghadapi tudingan-tudingan mengerikan tersebut. Pengacara Meta, Paul Schmidt, tampil membantah bahwa Facebook dan Instagram sengaja dirancang untuk membuat anak-anak kecanduan. Ia mengklaim bahwa meskipun beberapa pengguna menghadapi masalah, penelitian belum menunjukkan hubungan yang jelas antara penggunaan media sosial dan penurunan kesejahteraan remaja.
Schmidt juga membantah anggapan bahwa CEO Meta Mark Zuckerberg ingin membuat produk perusahaannya menjadi berbahaya. Terkait penggunaan istilah “narkoba” dalam percakapan internal, ia berkilah bahwa karyawan terkadang menggunakan bahasa yang “ceroboh” dalam komunikasi pribadi. Namun, apakah penjelasan ini cukup meyakinkan di hadapan bukti-bukti yang semakin menggunung?
Saksi Pertama Mengguncang Ruang Sidang!
Setelah argumen pembuka selesai, mantan engineer keselamatan Meta, Arturo Bejar, menjadi saksi pertama yang mengguncang ruang sidang. Selama ini Bejar vokal menyebut bahwa Mereka mengetahui sejumlah perangkat perlindungan anak di platformnya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Ia mengungkapkan bahwa aspek keamanan tidak selalu menjadi pertimbangan ketika produk-produk seperti video pendek IG Reels pertama kali diluncurkan ke publik!
Yang lebih menegangkan lagi, Mark Zuckerberg sendiri dan CEO Instagram Adam Mosseri diperkirakan akan ikut memberikan kesaksian di pengadilan. Kedua petinggi Meta ini harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan tajam dari para jaksa yang sudah menyiapkan bukti-bukti kuat. Meta nantinya juga akan menghadirkan bukti mengenai upaya yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan keamanan platform, namun apakah itu cukup untuk menyelamatkan mereka?
Denda Bisa Menghancurkan Meta Selamanya!
Jika dinyatakan bertanggung jawab, Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers dapat menjatuhkan denda perdata sekaligus memerintahkan perubahan besar-besaran pada Facebook dan Instagram. Beberapa perubahan yang diminta antara lain menghilangkan fitur likes dan infinite scroll yang membuat ketagihan, menerapkan batas waktu penggunaan bagi pengguna muda, serta memperketat pembatasan agar anak di bawah usia 13 tahun tidak menggunakan platform tersebut. Ini bisa mengubah wajah media sosial selamanya!
Sementara mereka memperkirakan potensi hukuman maksimal bisa mencapai 1,4 triliun dollar AS, jaksa agung negara bagian mengatakan dalam sidang pekan lalu bahwa dendanya kemungkinan lebih dekat ke 200 miliar dollar AS (sekitar Rp 3.562 triliun). Angka ini kira-kira setara dengan tiga tahun laba bersih Meta setelah pajak, tetap merupakan jumlah yang sangat menghancurkan!
Kisah Lama yang Kembali Berulang?
Gugatan terhadap perusahaan yang bermarkas di Menlo Park, California ini sebenarnya telah bergulir sejak 2023. Kasus tersebut muncul sekitar dua tahun setelah mantan karyawan Meta sekaligus whistleblower Frances Haugen bersaksi di Senat AS. Haugen membocorkan ribuan lembar dokumen rahasia perusahaan yang membuat industri teknologi gempar kala itu. Ia menuding mengetahui produknya dapat membahayakan anak dan mengetahui langkah yang bisa dilakukan untuk membuatnya lebih aman, tetapi tidak mengambil tindakan yang memadai karena kepentingan bisnis yang lebih besar.
Kini, Meta juga tengah menghadapi sejumlah perkara lain terkait dampak platformnya terhadap anak dan remaja. Pada Maret lalu, juri di Los Angeles memerintahkan Meta dan Google membayar 6 juta dollar AS kepada seorang perempuan berusia 20 tahun yang mengaku kecanduan Instagram dan YouTube sejak masih anak-anak. Awal Agustus ini, hakim di New Mexico juga memerintahkan membayar 567 juta dollar AS terkait dampak platform perusahaan terhadap kesehatan mental remaja. Semua kasus ini menunjukkan pola yang sangat mengkhawatirkan!
Akankah mereka mampu bertahan dari guncangan dahsyat ini? Atau justru ini menjadi awal kehancuran kerajaan media sosial yang telah mendominasi dunia selama hampir dua dekade? Yang jelas, sidang selama enam minggu ke depan akan menentukan nasib Facebook, Instagram, dan mungkin seluruh industri media sosial global!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









