olympic.or.id — Indonesia lagi bikin gebrakan di panggung dunia! Di tengah forum bergengsi World Intellectual Property Organization (WIPO) di Jenewa, delegasi Indonesia resmi ngajuin proposal super berani: mekanisme royalti digital global yang bakal wajibin platform-platform besar kayak YouTube, Spotify, TikTok, Netflix, sampai Instagram, sampai Netflix bayar royalti yang adil ke para kreator di negara berkembang, termasuk kita.
“Selama ini kita cuma dapat remah-remah, padahal konten dari Indonesia ditonton miliaran kali,” kata Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkumham, Min Usihen, saat mempresentasikan proposal itu pekan lalu. “Waktunya kita minta porsi yang bener, bukan cuma ucapan terima kasih doang.”
Proposal yang diberi nama “Global Digital Remuneration Right” ini intinya sederhana tapi nendang banget: tiap kali lagu, video, film, atau konten Indonesia diputar atau ditonton di platform mana pun di dunia, harus ada persentase royalti yang langsung ngalir ke kreator atau pemegang hak di Indonesia, tanpa ribet urusan negara mana yang punya server atau kantor pusat platformnya.

Bayangin aja, lagu “Lathi” dari Weird Genius atau film “Pengabdi Setan” yang viral sampai luar negeri, selama ini royalti yang masuk ke Indonesia cuma segelintir. Sisanya? Ngendon di kantong perusahaan di Silicon Valley atau Irlandia (tempat para raksasa tech biasa “parkir” duit).
“Kalau sistem ini jalan, seorang penyanyi indie di Bandung bisa hidup layak dari lagunya yang viral di Brasil atau Korea, tanpa harus pusing cari sponsor atau jualan merchandise,” ujar Nadiem Makarim yang ikut mendampingi delegasi lewat video conference. “Ini soal keadilan, bro.”
Yang bikin proposal ini makin greget, Indonesia gak sendirian. Kita ngajak bareng Brazil, Afrika Selatan, India, Argentina, sampai Nigeria. Kelompok negara berkembang ini sepakat: sistem royalti saat ini udah ketinggalan zaman, dibikin di era CD dan bioskop, bukan era streaming yang batas negaranya cuma garis imajiner.
Reaksi dunia? Campur aduk. Amerika Serikat dan Uni Eropa (yang jadi “rumah” bagi sebagian besar platform) langsung ngotot bilang proposal ini “terlalu ambisius” dan bisa bikin harga langganan naik. Sementara itu, para kreator di X (dulu Twitter) rame-rame dukung pakai tagar #RoyaltiBuatKita dan #IndonesiaBerani.
kunjungi juga laman berita terkini di exposenews.id
Seorang YouTuber gaming asal Surabaya, Windah Basudara, nulis begini:
“Bayangin tiap aku upload video, ada duit yang bener-bener balik ke aku dan timku, bukan cuma adsense yang kadang suka ngaco. Aku dukung banget ini!”
Sementara musisi senior Iwan Fals, yang lagu-lagunya masih sering dipake backsound di TikTok seluruh dunia, cuma komentar pendek tapi dalem:
“Sudah waktunya anak-anak muda dapat yang jadi haknya. Jangan cuma kita yang capek bikin lagu, mereka yang santai ngantongin duit.”
Kalau proposal ini lolos (diputuskan paling cepat tahun 2026), Indonesia bakal jadi salah satu pionir sistem royalti digital yang bener-bener adil. Bahkan ada simulasi dari Kemenkumham: potensi tambahan royalti untuk Indonesia bisa nyampe Rp15–20 triliun per tahun. Gila, kan?
Tapi perjuangan masih panjang. Minggu depan, Indonesia bakal adu argumen lagi sama delegasi AS, Inggris, dan Jepang yang katanya siap “ngotot mati-matian” buat pertahankan status quo.
Buat kita semua, ini lebih dari sekadar duit. Ini soal harga diri. Soal ngasih ngasih tahu dunia: karya anak Indonesia gak murah, dan kita gak mau lagi cuma jadi penonton di panggung yang kita isi sendiri.
Jadi, siap-siap aja. Beberapa tahun lagi, tiap kali lagu Indonesia diputar di belahan dunia mana pun, dompet kreator kita bakal ikut bergetar.
Indonesia lagi naik kelas, bro. Dan kali ini, kita gak cuma ikut main. Kita yang bikin aturan baru.








